
Pak Hakim hanya bisa mengelus dadanya sabar mendengar ledekan yang keluar dari mulut Lio yang tanpa filter itu. Ingin rasanya ia melakban mulut manis dan pedas sekaligus dari pemuda yang kini tengah memboncengkan anaknya itu. Namun nanti jika ia marah-marah pastinya akan membuat Lio tak fokus dan membahayakan anaknya.
"Lebih baik kau itu diam, sebelum nanti ku jahit mulutmu" seru Pak Hakim dengan kesal.
"Ya elah, pak. Baper amat baru diledekin gitu ah, malu atuh sama rumput di pinggir jalan yang bergoyang mendengarkan ocehan receh Lio ini. Mereka malah goyang lho kok bapak marah-marah" ucap Lio dengan santai.
Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apapun yang keluar dari mulut Lio. Sepertinya kosa kata pemuda itu takkan pernah habis jika sudah bersangkutan dengan berdebat bersama ayahnya. Yang pasti ayahnya akan selalu kalah jika sudah melawan Lio.
Akhirnya Pak Hakim hanya diam dengan terus mengayuh sepedanya. Ternyata dirinya yang sudah lama tak mengayuh sepeda membuatnya lelah bahkan kini nafasnya sudah ngos-ngosan. Terlebih usianya kini yang sudah tak muda lagi membuat dia cepat lelah. Setelah hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai juga di rumah Pak Hakim.
Ratu segera turun dari motor Lio dibantu oleh Pak Hakim yang dengan sigap meletakkan sepedanya. Ia tak mau jika anaknya nanti sampai berpegangan atau bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Lio pun ikut turun dari sepeda motornya mengikuti Pak Hakim dan Ratu memasuki rumah.
"Ehem... Ehem... Mata air apakah jauh ini?" ucap Lio dengan berdehem keras setelah duduk di kursi ruang tamu.
Bahkan Ratu sudah masuk kedalam kamarnya sedangkan Pak Hakim juga duduk di ruang tamu bersama dengan Lio untuk mengistirahatkan badannya sejenak. Pak Hakim yang mendengar ucapan berupa sindiran dari Lio itu hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Ambillah sendiri sana ke dapur. Jangan manja" ucap Pak Hakim.
"Astaga... Sebagai tuan rumah itu harus memuliakan tamu lho, pak" ucap Lio sambil geleng-geleng kepala.
Namun Lio juga tak ayal menyelonong masuk kedalam dapur milik rumah Pak Hakim. Ia segera saja mengambil air putih dua gelas untuknya dan Pak Hakim. Walaupun kesal, namun ia juga merasa kasihan dengan Pak Hakim yang nafasnya ngos-ngosan karena mengayuh sepeda tadi.
__ADS_1
"Nih pak, minum... Anggap saja seperti rumah sendiri" goda Lio.
"Ini memang rumah saya" ucap Pak Hakim dengan sedikit menatap sinis kearah Lio.
Memang benar Lio merasa jika dia disini sebenarnya adalah pemilik rumahnya karena dia yang malah menyediakan minumannya. Pak Hakim bahkan langsung meneguk air putih dalam gelasnya dengan rakus karena begitu haus.
"Alhamdulillah" ucap Pak Hakim setelah merasa dahaganya terasa lebih segar.
"Kalau gitu saya pamit pulang, pak. Mau tidur" pamit Lio yang kemudian berdiri.
Pak Hakim menatap tak percaya kearah Lio yang kini sudah beranjak dari tempat duduknya. Bahkan ia segera menyelonong pergi tanpa mencuci gelasnya. Ia juga heran dengan Lio yang sangat santai menikmati hidunya di desa ini, bahkan semua kebutuhannya terpenuhi dengan mudah. Ia bahkan berpikir darimana pemuda itu mendapatkan uang banyak tanpa melakukan apapun.
Bahkan Lio hanya terlihat tidur, mencuci motor, mengelilingi desa, belanja, jajan, dan suka mericuhi kegiatannya. Namun sepertinya uangnya tak habis-habis juga membuatnya ingin tahu Lio membawa uang berapa ke desa ini. Besok lah kalau dia kesini lagi tentunya ia akan mencari tahu informasi dari orangnya langsung.
***
Lio begitu tertegun saat melihat pandangan mata yang menyiratkan kekhawatiran mendalam itu. Baru kali ini dia melihat bagaimana rasanya di khawatirkan oleh seseorang. Bahkan orang itu sampai mondar-mandir di teras rumah kontrakannya. Lio tersenyum kemudian memeluk Ibu Adin kemudian menangis terisak dipelukannya.
Mendengar tangisan Lio membuat wanita paruh baya itu terkejut bahkan langsung melepaskan pelukannya. Ia memutar tubuh Lio yang bergetar untuk memeriksa keadaan anak itu. Namun yang Ibu Adin herankan adalah tak adanya luka atau sesuatu yang aneh pada tubuh Lio.
"Kamu kenapa, nak? Ada yang sakit? Tadi kenapa lama sekali perginya?" tanya Ibu Adin beruntun.
__ADS_1
Lio hanya menggelengkan kepalanya membuat Ibu Adin bertambah bingung. Bahkan ia berpikir jika Lio tengah kerasukan hingga membuatnya ingin pergi mencari seorang ustadz. Namun Lio mencegahnya dan membawa Ibu Adin duduk di kursi depan teras.
"Lio nggak papa, bu. Lio hanya terharu karena masih ada orang yang mengkhawatirkan keadaan Lio bahkan menunggunya pulang" ucap Lio dengan tersenyum sendu.
Ibu Adin menganggukkan kepalanya mengerti namun dia takkan menanyakan lebih mengenai urusan pribadi orang. Yang terpenting baginya adalah kondisi Lio yang baik-baik saja sudah membuatnya cukup lega. Ibu Adin langsung masuk kedalam kemudian tak berapa lama keluar kembali dengan segelas minuman.
"Ini biar kamu lebih tenang" ucap Ibu Adin sambil menyerahkan segelas air putih.
"Terimakasih, bu" ucap Lio tulus.
Ibu Adin menganggukkan kepalanya bahkan kini tersenyum melihat Lio meneguk minuman yang dibawanya. Lio merasa agak sedikit lega hati dan pikirannya setelah meluapkannya dengan tangisan. Ibu Adin kemudian masuk kedalam rumah lagi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai. Sedangkan Lio seperti biasanya ia masuk kamar dan tidur.
***
Lio bangun dengan rasa pusing yang menyerang kepalanya. Sepertinya tadi ia terlalu lama menangis sendirian di kamar karena meratapi nasibnya dan mengingat masa lalunya yang kelam sehingga tanpa terasa tertidur. Kepalanya berasa dipukul batu besar membuatnya memilih merebahkan kembali badannya.
"Astaga..." keluh Lio yang kemudian memejamkan matanya kembali.
Namun beberapa saat ia ingat kalau dia mempunyai obat sakit kepala. Dengan sekuat tenaga ia bangun kemudian mencari obat yang ada diatas meja. Setelah menemukannya ia langsung meminumnya dengan segelas air putih yang ada disana. Setelahnya ia tidur kembali untuk meredakan sedikit sakitnya.
"Kelamaan nangis gini aja pusing. Hah... Apalagi ditambah mikirin masalah di kota yang tak kunjung selesai" ucap Lio lirih.
__ADS_1
Beberapa masalah mulai muncul di dalam keluarganya dan geng motornya setelah dia tersesat ke desa tanpa sepengetahuannya. Bahkan anggota geng motornya tak jadi pergi mencari keberadaan Lio karena tiba-tiba musuh datang mengobrak-abrik sistem manajemen organisasi itu. Tak dapat dihindari lagi jika semuanya menjadi kacau karena kekuatan besar mereka kini tengah tak berada didekat semuanya. Bahkan masalah pengkhianat salah satu anggotanya membuat masalah itu menjadi pelik.
Kakek Angga sudah mengerahkan banyak anak buahnya mencari keberadaan Lio di dua desa yang dimaksud oleh anggota geng LEXON. Dua hari lagi mereka akan berangkat menuju kedua lokasi tersebut.