Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
OSPEK 2


__ADS_3

"Ribet amat nih emang ospek. Udah dibilang kalau ini nggak wajib, masih aja pada datang" kesal Delan.


Ia tadinya itu tak ingin berangkat namun Lio sudah menghubunginya pagi-pagi sehingga dia, Yuda, dan Nathan jadi harus berangkat ke kampus. Padahal mereka sebelumnya sudah sepakat untuk tidak mengikuti ospek namun entah kesambet setan apa Lio hingga mau berangkat seperti ini.


Lio sebenarnya juga tak mau berangkat namun kakeknya mengomeli dirinya. Ia diperintahkan untuk menjaga Ratu agar tak ada yang mengganggunya. Daripada terus saja kakeknya itu mengomelinya, ia langsung saja mau untuk berangkat ke kampus.


"Jangan banyak menggerutu, lebih baik ayo kita segera selesaikan tantangan ini. Biar kita nggak dimarahi sama panitianya" ajak Ratu yang sedari tadi diam.


Tentunya semua orang langsung mengalihkan pandangannya kearah Ratu membuat gadis itu kikuk sendiri. Padahal niatnya tadi hanya ingin menyindir Lio dan ketiga sahabatnya karena mengelus terus-terusan. Sedangkan ketua kelompoknya juga tak tegas atau mungkin saja takut melihat wajah-wajah sangar Lio dan ketiga sahabatnya.


"Satu kelompok kan ada 20 orang, ini kita bagi masing-masing gerombolan itu 5. Ayo langsung kita pergi kearah masing-masing" ucap ketua kelompok.


Semuanya pun mengangguk sedangkan ada satu mahasiswa yang bergabung dengan rombongan Lio dan sahabatnya kini kebingungan. Pasalnya mereka berempat sama sekali tak bergerak dari posisinya padahal rombongan yang lainnya sudah pergi. Ingin mengajak segera mencari benda itu namun ia sedikit takut.


"Ehmm... Ini kita mau cari barangnya kapan?" tanya mahasiswa laki-laki yang bernama Lutfi dengan sedikit takut-takut.


"Mending loe ikutan duduk sini aja dah. Nggak usah bingung-bingung cari barang nggak jelas itu. Bikin pusing aja, mana panas lagi" ucap Yuda sambil menarik tangan Lutfi agar mau duduk bersama dengan yang lainnya dibawah pohon.


Lio pun berdiri kemudian melambaikan tangannya kearah panitia. Ia membisikkan sesuatu membuat panitia ospek itu kesal bahkan langsung pergi. Lio tersenyum misterius setelah berhasil membisikkan sesuatu pada panitia ospek itu.


"Gimana, bos?" tanya Yuda.


"Aman. Bentar lagi juga kesini tuh" ucap Lio yang kini langsung duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada batang pohon.

__ADS_1


Matanya bahkan kini menutup seakan sedang menikmati udara sejuk yang berhembus dari dahan pohon yang bergoyang. Banyak panitia yang melihat kearah Lio dan yang lainnya namun mereka tak berani mendekat. Hal ini dikarenakan ketua panitia sudah membisikkan sesuatu sama semua anggotanya untuk tak mengganggu Lio.


Bahkan Lutfi saja kini merasa aneh dengan semua panitia yang diam saja padahal Lio dan sahabat-sahabatnya itu tak mengerjakan tugasnya dengan baik. Tak berapa lama, salah satu panitia mendekatinya kemudian menyerahkan dua benda yang memang diminta oleh mereka agar ditemukan. Lio hanya menganggukkan kepalanya kemudian panitia iti pergi dengan wajah juteknya.


"Gokil bos... Kalau kaya gini terus mah gue juga mau berangkat tiap hari. Lagian kesini juga cuma pindah tidur" ucap Delan sambil tertawa.


Nathan yang sedari tadi diam pun hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Lio ternyata menggunakan kekuasaan kakeknya untuk menyuruh panitia. Kalau sampai Kakek Angga tahu, sudah dipastikan pemuda itu akan diomeli. Tak berapa lama, rombongan kelompoknya dari arah berbeda berdatangan kearah mereka.


"Kok kalian nggak nyari sih?" kesal ketua kelompoknya.


"Kita mah cuma sekali kedip dan nggak usah jalan udah bisa nemuin barangnya kali. Nih..." ucap Yuda dengan sinis.


Padahal ketua kelompok itu sudah mengomelinya namun tentunya Yuda langsung membalasnya dengan sinis. Yuda tak suka kalau ada orang yang belum tahu apa yang dikerjakannya tapi sudah mengomeli mereka. Ketua kelompok itu langsung mengambil dua barang yang dilemparkan kearahnya itu kemudian mengumpulkannya ke panitia ospek.


Yuda pun terdiam kemudian kembali duduk disamping Lio. Sedangkan Lio yang ditegur oleh Ratu itu sedikit kikuk apalagi gadis itu sudah membawa-bawa nama kakeknya. Sedangkan yang lainnya yang tak mengetahui tentang hubungan keduanya menatap penasaran kearah Ratu.


"Marahin aja itu Lio, Ratu. Biar sekalian aduin ke kakek, biar diomelin dan ditendang dari rumah" ucap Nathan sambil terkekeh.


Ratu menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan dari Nathan itu. Tentunya Lio yang mendengar hal itu hanya bisa menatap sinis kearah Nathan yang malah membantu Ratu. Lio pun hanya bisa menghela nafasnya kasar karena kesal dengan kedua orang itu.


"Ayo kumpul" ajak Ratu yang langsung pergi berlalu dari sana.


Semuanya pun langsung saja mengikuti arahan dari Ratu tak terkecuali Lio dan ketiga sahabatnya. Lio yang memang nyalinya ciut kalau sudah bertemu dan berhadapan dengan Ratu pun hanya bisa menurut. Sedangkan yang lainnya tentu masih penasaran dengan kedekatan mereka hingga nanti akan bertanya setelah menunggu Lio tak ada didekat semuanya.

__ADS_1


***


Acara ospek hari pertama telah selesai dengan aman dan baik. Bahkan setelah acara pencarian barang yang digunakan sebagai ajang agar membangun komunikasi dan diskusi antar anggotanya itu dilanjutkan dengan melihat juga memperkenalkan UKM.


Setelah selesai dengan ospek hari pertama, mereka pulang masing-masing ke rumah saat waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ratu berjalan bersama dengan kedua teman barunya yang ternyata tempat kostnya hanya sampingan saja dengannya.


"Kamu kenal Lio dan teman-temannya tadi?" tanya Meli yang begitu penasaran.


"Kenal. Hanya sebatas kenal aja" jawab Ratu dengan santai.


Meli dan Salwa yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya mereka ingin meminta penjelasan lebih. Namun sepertinya Ratu ini bukan tipe orang yang suka bergosip atau memperbincangkan tentang oranglain seperti keduanya. Makanya mereka kini bingung ingin bertanya seperti apa.


"Berarti bukan saudara?" tanya Salwa.


"Bukan, cuma kakek Lio itu sudah Ratu anggap sebagai orangtua sendiri" ucap Ratu sambil tersenyum.


"Terus kalau Lio, dianggapnya apa?" tanya Meli penasaran.


"Dianggapnya kenalan aja dong" jawab Ratu.


Sekarang Meli jadi kikuk sendiri karena ternyata Ratu sangat susah untuk membuka diri tentang kehidupannya. Tentunya hal ini membuat kedua teman barunya sedikit kikuk padahal mereka merupakan tipe orang yang cerewet. Tak berapa lama berjalan kaki, mereka sampai juga didepan kost Salwa dan Meli.


"Besok kita berangkat bareng aja. Kami tunggu didepan sini, kalau kamu sampai duluan juga disini aja menunggunya" ucap Meli.

__ADS_1


"Siap" seru Ratu yang kemudian pergi berlalu menuju tempat kost disampingnya. Meli dan Salwa tak menyangka jika akan mempunyai teman yang tinggal di kost eksklusif. Perbandingan kost Ratu dengan keduanya pun berbeda 180 derajat karena tempat mereka hanya bangunan biasa tanpa ada fasilitas lengkap.


__ADS_2