Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Keadaan Ratu


__ADS_3

Hanya butuh waktu 10 menit hingga motor yang dikendarai oleh Lio itu sampai didepan sebuah SMA Negeri yang digunakan oleh Ratu dalam menuntut ilmu. Sesampainya disana, Lio memarkirkan sepeda motornya di parkiran dekat pos satpam.


"Naik motor kaya mau nantang maut" ucap Pak Hakim gemetaran.


Seluruh badan Pak Hakim merasakan gemetar hebat bahkan kini kakinya seakan lemas untuk digunakannya melangkah. Lio yang melihat itu merasa bersalah, karena panik dengan keadaan Ratu membuatnya tanpa sadar melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.


Lio hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bahkan tadi sebenarnya ia risih saat dipeluk oleh Pak Hakim dari belakang namun karena paham situasi jadinya ia mencoba santai dalam menanggapinya. Akhirnya Lio memapah Pak Hakim yang terlihat lemas untuk duduk didepan pos satpam yang ada kursinya.


Lio memijit kepala dan tengkuk dari Pak Hakim dengan pelan sambil memberikan air putih yang diberikan oleh satpam. Setelah Pak Hakim keadaannya sudah lebih baik, segera saja Lio mengajaknya untuk masuk kedalam sekolah.


Keduanya berjalan masuk ke dalam area sekolah kemudian mencari ruang UKS seperti yang diberitahukan oleh siswa yang datang ke rumahnya tadi. Setelah mengikuti petunjuk dan bertanya pada siswa yang tak sengaja berpapasan, akhirnya mereka sampai didepan sebuah ruangan dengan papan tulisan UKS.


Tok... Tok... Tok...


Lio mengetuk pintu ruang UKS itu. Setelah diijinkan untuk masuk, terlihatlah disana ada dua orang guru dan satu siswa yang menemani Ratu. Ternyata Ratu sudah siuman dengan masih berbaring diatas brankar tempat tidur di UKS.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Pak Hakim.


"Oh... Pak Hakim, keadaan Ratu sudah baik-baik saja. Sepertinya tadi Ratu tidak sarapan lalu kelelahan saat berangkat sekolah sehingga pingsan saat upacara" jawab salah seorang guru.


Pak Hakim menganggukkan kepalanya kemudian para guru dan siswa itu sedikit menyingkir. Mereka memberikan tempat agar orangtua Ratu bisa berbincang dengan anaknya. Sedangkan Lio masih berdiri di belakang Pak Hakim seperti seorang anak buah.


"Kamu masih kuat untuk sekolah atau tidak? Kalau tidak, lebih baik pulang dan istirahat" ucap Pak Hakim bertanya kepada anaknya.

__ADS_1


"Kalau aku sih mending pulang lalu istirahat. Kalau perlu ijin tidak berangkat sekolah sampai satu minggu ke depan karena sakit" ceplos Lio tanpa rasa bersalah.


Semua orang yang ada disana langsung menatap Lio dengan menyelidik. Lio sendiri yang baru sadar atas ucapannya pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dulunya saat sekolah Lio juga sering begitu, bolos dengan alasan sakit walaupun sebenarnya tak benar sama sekali. Ia lebih sering bolos tanpa ijin.


"Jangan kotori pikiran anak saya dengan otak bengal kaya kamu" ketus Pak Hakim.


"Wah... Otak bengal kaya gini, besok kalau sudah lulus kuliah pasti jadi presiden" ucap Lio dengan percaya dirinya.


Semua orang yang ada disana kecuali Pak Hakim tentunya tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Lio itu. Perdebatan antara keduanya itu tentunya sungguh menghibur mereka yang tengah menunggu kepastian dari Ratu.


"Kalau kau jadi presidennya, rakyatmu bakalan tiap hari demo didepan istana" ucap Pak Hakim meledek.


"Akan ku buktikan nanti, kalau aku jadi presiden beneran ku jamin anda tak ku anggap lagi jadi mertuaku" ucap Lio semakin asal.


Pak Hakim hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Lio yang semakin asal dan selalu mengaitkannya dengan hubungan anak dan mertua. Lagi pula siapa juga yang mau menjadi mertua dari pemuda ngeselin seperti Lio itu.


Lio hanya bisa menggaruk tengkuknya tak gatal. Ia merasa salah tingkah karena tak menyadari ternyata disana masih ada banyak orang yang mendengar perdebatan keduanya. Rasanya ia begitu malu karena mengucapkan kata-kata aneh itu. Namun dengan segera ia menutupi salah tingkahnya itu dengan mengalihkan pandangannya.


"Untuk hari ini ijinkan Ratu untuk istirahat di rumah, bu. Untuk esok hari, saya akan melihat kondisi Ratu bagaimana dulu" ucap Pak Hakim mengalihkan pembicaraan.


"Baik pak, biar nanti saya ijinkan pada guru piket" ucap guru itu dengan tersenyum ramah.


Akhirnya mereka pun keluar dari ruang UKS kemudian berjalan kearah parkiran. Ratu digandeng tangannya oleh Pak Hakim sedangkan Lio sudah membawakan tas milik gadis itu. Tadi sebelum akan pulang, seorang siswa menyerahkan tas milik Ratu yang masih berada dalam kelasnya.

__ADS_1


"Kita ini pulangnya gimana, pak?" tanya Ratu pelan.


"Biar Lio yang naik sepeda ontelmu. Kita boncengan naik motor" ucap Pak Hakim dengan enteng.


Lio menganga tak percaya mendengar ucapan dari Pak Hakim. Pasalnya sekarang ini dia sudah jarang menggunakan sepeda ontel jadi kemungkinan besar dia tak bisa mengendarainya. Sedangkan Pak Hakim yang akan mengendarai sepeda motornya malam membuatnya was-was.


Di desa ini saja tak ada yang punya sepeda motor sepertinya jadi kemungkinan besar Pak Hakim tak bisa mengendarainya. Lagi pula mengendari sepeda motor bebek dengan miliknya itu juga berbeda caranya.


"Emang bapak bisa pakai motor saya? Jangan aneh-aneh deh, pak. Motor puluhan juta itu taruhannya" pekik Lio.


"Bisa lah, tinggal tangan ngegas dan kaki injak rem kok repot" ucap Pak Hakim dengan percaya dirinya.


Lio hanya bisa menghela nafasnya kasar mendengar ucapan dari Pak Hakim itu. Bisa-bisa motornya itu masuk jurang karena ulah Pak Hakim yang asal mengendarai. Bahkan Ratu sudah memberi kode pada Lio dengan menggelengkan kepalanya kalau tak perlu mengijinkan ayahnya menaiki sepeda motornya.


Anaknya saja sudah tak yakin, apalagi dirinya. Namun Pak Hakim tetap kekeh untuk mengendarai sepeda motor itu dengan mencoba menaikinya.


"Lio, ini kenapa tinggi sekali? Perasaan tadi pas bapak bonceng nggak tinggi-tinggi amat" seru Pak Hakim saat menjajal menaikinya.


"Makanya pak kalau tumbuh itu ke atas bukan ke depan" ledek Lio sambil berjalan kearah Pak Hakim.


Pak Hakim tak menggubris ledekan Lio. Lio hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Pak Hakim masih terus berusaha walaupun pada akhirnya menyerah juga. Ia lebih memilih untuk menaiki sepeda ontel anaknya dengan Lio yang akan berboncengan dengan Ratu.


"Awas ya jangan pegangan atau sentuhan fisik. Tengah sini kasih tasmu, Ratu" peringat Pak Hakim.

__ADS_1


Ratu menganggukkan kepalanya kemudian meletakkan tasnya ditengah-tengah antara dirinya dan Lio. Setelahnya ia segera membonceng Lio dengan posisi menyamping. Setelah dirasa siap, Lio segera melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang mengikuti Pak Hakim dari belakang yang menaiki sepeda ontel.


"Pak... Pak... Saya aja yang muda udah ada boncengannya nih, kok situ yang tua sendirian aja" ledek Lio sambil tertawa.


__ADS_2