
Kini rombongan yang menemani Pak Hakim dan Ustadzah Siti di KUA sudah kembali pulang ke rumah. Disinilah sekarang mereka semua berkumpul, didepan rumah Pak Hakim. Tenda sudah didirikan dengan begitu kokoh dilengkapi kursi dan meja. Bahkan diatas beberapa meja juga sudah tersedia berbagai macam makanan ringang dan berat, juga minuman sebagai pelengkapnya.
Bahkan untuk rata-rata syukuran di desa itu, ini sungguh sangat mewah dan meriah. Bukan hanya dari segi dekorasi saja, namun juga makanannya yang begitu lengkap. Lidah para warga disini seakan begitu dimanjakan oleh makanan-makanan ini sehingga begitu kalap saat menyantapnya.
"Hati-hati... Gula darah dan kolesterol meningkat" ucap salah satu warga bercanda.
Semua warga hanya bisa tertawa mendengar guyonan dari salah satu tetangganya itu. Tentu saja mereka makan begitu lahap dan tidak ingat dengan kesehatan karena melihat banyaknya makanan yang tersedia. Apalagi mereka jarang sekali makan makanan seperti ini.
"Boleh dibungkus nggak ini, Ustadzah Siti?" tanya salah satu ibu-ibu sambil tersenyum malu.
"Nanti kalau semua sudah makan dan sisa, akan kami bagi-bagikan pada yang tadi membantu disini dulu. Kalau yang nggak bantu, nanti dulu ya" ucap Ustadzah Siti sambil tersenyum.
Huuuu....
Banyak sorakan yang langsung dilayangkan kepada ibu-ibu itu oleh beberapa warga membuatnya sedikit malu. Ada-ada saja memang kelakuan para warga yang ada di desa ini. Namun dengan hal seperti ini, justru membuat mereka saling dekat walaupun dengan cara yang berbeda.
"Kalian makanlah" titah Kakek Angga pada ketiga sahabat cucunya.
Pasalnya mereka ini kalau tidak disuruh, tak akan mau makan apalagi banyak orang yang tak dikenal disini. Mereka masih merasa canggung untuk berbaur apalagi saat kemarin melihat Lio dijulidin. Bahkan sedari tadi mereka memilih diam, tak seperti biasanya yang berisik. Sedangkan Adin dan Agung sendiri tengah menikmati makanannya tanpa peduli dengan tatapan-tatapan dari para warga.
"Mas Lio, ajak itu temannya makan. Nanti kalau mereka kena busung lapar saat beberapa hari tinggal disini kan bahaya" ceplos Ratu dengan polosnya.
"Sekalinya ngomong sama kita, nylekit amat ya neng" ucap Yuda sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perdebatan keduanya itu. Akhirnya mereka ikut makan dengan tenang bersama dengan yang lainnya. Tentunya cara makan mereka yang biasanya urakan langsung saja begitu sopan. Bahkan Lio hanya bisa menahan tawanya saat melihat ketiga sahabatnya itu makan dengan begitu pelan.
"Sok jaga image" sindir Lio.
"Bos, apa situ nggak malu kalau makan dengan begitu cepat seperti itu? Bahkan cara bos makan udah kaya nggak pernah ngerasain nasi satu tahun" ucap Delan meledek Lio.
"Malu nggak kenyang" ucap Lio dengan acuh.
Tentunya setelah itu Delan sudah tak bisa lagi berkutik. Delan memilih diam dan kembali makan makanan yang ada pada piringnya. Isi acara syukuran ini hanya mendengar pengajian atau nasihat dan makan-makan saja.
Hanya butuh waktu satu jam untuk semua makanan yang ludes dimakan oleh warga. Mereka semua begitu puas dengan makanan yang ada disini. Masih ada beberapa nasi dan lauk yang tersisa, hal ini akan dibagikan pada warga yang sudah sedari pagi membantu.
"Alhamdulillah... Walaupun hanya makanan sederhana tapi kenyang dan sangat enak" ucap Yuda sambil mengangkat kedua jempolnya.
Bahkan menurut Yuda, makanan catering yang sering ia makan sangat berbeda jauh dengan ini. Bumbunya jauh lebih berasa ini walaupun terlihat sangat sederhana. Sederhana bagi Yuda, tentu tidak bagi warga sekitar yang menganggapnya sangat mewah.
Yuda mengangukkan kepalanya setuju. Selama ini dirinya jarang makan di rumah karena malas sebab selalu sendirian walaupun makanannya jelas lebih mewah. Namun hanya dengan makanan sederhana seperti ini ternyata membuatnya begitu berselera makan.
Setelah acara selesai, mereka segera bahu membahu membereskan semua bekas acara. Ibu-ibu langsung mencuci semua piring, gelas, dan sendok yang digunakan sedangkan Ratu langsung membungkus beberapa makanan yang tersisa. Tentunya makanan yang masih layak sekalian beberapa sembako untuk para warga yang membantu.
"Nak, berikan amplop-amplop ini. Masukkan dalam plastik sekalian" ucap Kakek Angga tiba-tiba.
Ratu tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian menerima tumpukan amplop yang diserahkan Kakek Angga. Kakek Angga memang menjadi panutannya karena membantu seperti ini tanpa harus berkoar-koar.
__ADS_1
Semuanya selesai saat waktu adzan dhuhur berkumandang. Ibu Adin segera membantu Ratu untuk membagikan semua bingkisan kepada warga yang membantu. Ibu Yati yang melihat dari kejauhan merasa kesal karena lagi-lagi ia terlambat datang.
"Wah... Alhamdulillah. Ada amplopnya juga" bisik ibu-ibu yang baru saja lewat.
Hal ini tentu membuat Ibu Yati sedikit iri. Tadinya ia juga ingin membantu namun datangnya belakangan karena tak mau banyak pekerjaan. Namun saat sampai disana, ternyata mereka semua sudah selesai.
"Wah... Telat lagi, Bu Yati?" tanya salah seorang ibu-ibu yang melihat kehadiran tetangganya.
"Ah... Bu Yati mah nggak niat bantu. Tadi aja pas syukuran datangnya cepat, waktu disuruh bantu gini datang lambat" sindir ibu-ibu yang lain.
Ibu Yati hanya bisa menatap sebal kearah tetangga-tetangganya itu. Mereka segera saja berjalan pulang meninggalkan Ibu Yati yang marah karena merasa tersindir. Ibu Yati dengan tidak tahu malunya mendekat kearah Ratu yang akan masuk dalam rumah karena semua yang dibagikan telah habis.
"Wah... Saya kok belum dapat sisaan ya" sindir Ibu Yati.
Sindiran itu membuat Ratu yang akan berjalan masuk dalam rumahnya langsung saja mengalihkan pandangannya. Ia segera saja mendekat kearah Ibu Yati dengan senyum manisnya. Ibu Adin yang melihat hal itu langsung mengusap bahu Ratu agar sabar dalam menghadapi ibu-ibu modelan seperti ini.
"Ibu kan nggak bantu apa-apa disini, jadi maaf kalau tidak dapat bingkisan. Lagian itu hanya makanan sisa" ucap Ratu dengan lembut.
"Ratu, tadi kan Ibu Yati juga bantu-bantu disini. Kamu kok lupa sih" ucap Ibu Adin.
Tentunya Ratu langsung mengernyitkan dahinya heran saat mendengar ucapan dari Ibu Adin. Sedangkan Ibu Yati seakan tersenyum penuh kemenangan karena merasa diatas angin saat dibela oleh Ibu Adin.
"Bantu waktu kapan, bu?" tanya Ratu.
__ADS_1
"Masa kamu nggak lihat? Ibu Yati kan tadi bantu habisin makanan" ucap Ibu Adin sambil menahan tawanya.
Ratu yang mendengar hal itu langsung mengalihkan pandangannya karena harus menahan tawanya. Sedangkan Ibu Yati kesal dengan ucapan dari Ibu Adin kemudian pergi dari sana sambil menghentak-hentakkan kakinya.