Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Pulang Sekolah


__ADS_3

Lio dan Nathan berjalan kearah parkiran sepeda motor yang memang berada disamping gedung sekolah. Dengan sedikit menuntun dan mengangkatnya dibantu oleh Nathan mereka bisa mengeluarkan sepeda motor itu hingga keluar area sekolah. Setelah tadi berbincang sebentar di warung sebelah sambil menunggu keadaannya aman, keduanya memutuskan untuk pulang saja.


Nathan ikut dengan Lio pulang ke rumahnya karena ingin bertemu dengan Kakek Angga. Walaupun sebenarnya kemungkinannya kecil untuk bertemu dengan pria paruh baya itu karena pasti kakeknya itu sedang bekerja. Namun melihat kesungguhan dan tatapan meyakinkan dari Nathan membuatnya mempersilahkan saja kalau mau ikut.  Keduanya menggeber sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan saat pagi menjelang siang itu tak terlalu ramai.


Tin... Tin... Tin...


Lio membunyikan klakson sepeda motornya agar pagar rumahnya dibuka oleh salah satu anak buah kakeknya. Setelah dibuka, keduanya segera melajukan kembali sepeda motornya kemudian memarkirkan di halaman rumah Lio. Agung yang mendengar suara sepeda motor yang dikenalnya pun langsung berlari menuju halaman rumah.


"Bang Lio..." seru Agung dengan antusias.


Agung sudah tak sabar untuk pergi ke mall karena memang ia ingin sekali melihat bagaimana megahnya gedung pusat perbelanjaan itu. Lio yang mendengar seruan seseorang pun langsung membuka helmnya dan tersenyum tipis pada Agung. Sedangkan Nathan sendiri bingung melihat ada seorang bocah laki-laki berusia tanggung yang tengah menyambut sahabatnya itu.


"Siapa bos?" tanya Nathan begitu penasaran.


"Dia salah satu anak yang ada di desa yang udah gue anggap sebagai adik. Dia ikut gue kemari, masih ada satu lagi tapi bulan depan baru nyusul kesini" jawab Lio dengan santai.


Nathan menganggukkan kepalanya mengerti kemudian keduanya turun dari sepeda motor itu dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Lio segera merangkul bahu Agung untuk segera masuk dalam rumah. Ketiganya akhirnya duduk di ruang keluarga.


"Kakek masih kerja, Gung?" tanya Lio.


"Iya, bang. Kan ini masih pagi masa udah pulang. Kalau abang kok udah pulang sekolah?" tanya Agung penasaran.


"Guru-gurunya pada rapat" ucap Lio berbohong.

__ADS_1


Tak mungkin juga Lio memberitahu Agung tentang dirinya yang bolos sekolah. Bisa-bisa malah bocah laki-laki itu meniru tingkah lakunya sedangkan Nathan hanya bisa geleng-geleng kepala. Nathan memilih merebahkan badannya di sofa ruang keluarga kemudian memejamkan matanya.


"Kita ke mall nanti agak sorean aja ya" ucap Lio mengalihkan pembicaraan.


Agung menganggukkan kepalanya. Terserah Lio mau mengajaknya pergi kapan yang terpenting janji laki-laki itu harus lah ditepati. Akhirnya ketiganya sibuk dengan kegiatannya masing-masing hingga suasana di ruang keluarga itu begitu hening.


"Nath, loe tahu kan tentang pengkhianat yang ada di geng kita?" tanya Lio penasaran.


Sedari tadi Lio benar-benar penasaran dengan siapa yang dimaksud pengkhianat oleh Kakek Angga dan Nathan. Walaupun nantinya ia takkan langsung percaya, namun ia harus mendengar dulu siapa yang menjadi dugaan sementara ini. Jika ia sudah tahu maka ia akan lebih intens lagi mengawasi orang itu dengan mencari bukti.


"Gue nggak mau merusak persahabatan kita, nanti dikiranya gue nuduh. Lebih baik loe cari juga siapa yang sebenarnya pengkhianat disini karena ini menyangkut persahabatan kita. Bahkan gue juga masih tak percaya dengan apa yang gue dapat" ucap Nathan dengan masih memberikan teka-teki.


"Loe ketua dari geng ini jadi loe lebih berhak untuk melakukan investigasi masalah ini. Gue bakalan bantu loe jika memang butuh bantuan" lanjutnya.


Lio memilih menyudahi pembahasan tentang pengkhianat dalam geng motornya itu. Terlebih ia yakin jika Nathan juga takkan pernah memberitahu siapa orang yang dimaksud. Kini Lio malah tertidur di sofa ruang keluarga bersama dengan Nathan dan Agung hingga Kakek Angga pulang dari restorantnya.


"Astaga... Ini baru jam 1 tapi kok dua bocah tengil ini sudah ada disini" gumam Kakek Angga sambil geleng-geleng kepala.


"Pasti bolos nih dua anak" lanjutnya menuduh.


Tadi Kakek Angga sengaja pulang cepat agar Agung tak merasa kesepian di rumah sendirian. Namun saat dirinya masuk dalam halaman rumah disana sudah terparkir dua motor milik cucunya. Saat Kakek Angga masuk dalam rumahnya, ia melihat cucunya dan Nathan tertidur di sofa ruang keluarga begitu pula dengan Agung.


"Bangun..." seru Kakek Angga bagai toa.

__ADS_1


Mendengar seruan itu ketiganya terbangun dalam keadaan linglung. Mereka tak menyangka jika Kakek Angga akan pulang cepat ini terutama Lio dan Nathan. Kini Lio dan Nathan hanya bisa cengengesan melihat Kakek Angga menatap keduanya dengan tajam. Sedangkan Agung masih merasa bingung karena Kakek Angga terlihat marah pada Lio dan Nathan.


"Kok kakek tumben sudah pulang jam segini?" tanya Lio dengan polosnya.


"Buat mergokin siswa yang bolos dari sekolahnya" ketus Kakek Angga.


Keduanya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lagi pula mereka sudah biasa membolos namun entah mengapa reaksi Kakek Angga saat ini terlihat berlebihan. Bahkan kini Nathan juga langsung melirik kearah Lio yang masih santai menghadapi kemarahan kakeknya.


"Maklumlah kek, kan baru hari ini berangkatnya masa nggak boleh bolos. Guru BK pasti juga rindu dengan kenakalan kami" ucap Lio dengan santainya.


"Kakek bilangin Ratu sama bapaknya ya kau Lio kalau kembali ke kota bukannya berubah malah tambah tengil" kesal Kakek Angga sambil mengancam.


Nathan mengerutkan keningnya heran mendengar perdebatan antara kakek dan cucu itu. Bahkan ada dua orang asing yang disebut Kakek Angga membuat Nathan bingung. Nathan seketika teringat dengan ucapan Lio mengenai seseorang yang membuatnya berubah. Apa mungkin gadis bernama Ratu itu yang membuatnya berubah?.


"Tukang ngadu. Iya kakek besok Lio mulai beneran sekolahnya, nggak akan bolos lagi" ucap Lio berjanji.


"Bang Lio kok takut banget kalau dibilangin ke kak Ratu dan ayahnya sih" ucap Agung sambil tertawa.


Agung jadi penasaran mengapa Lio bisa takut dengan Ratu dan ayahnya itu. Apalagi rumor yang beredar di desa adalah Lio yang dekat dengan mereka. Rasanya tak mungkin jika dekat namun takut jika kelakuannya di kota diberitahukan pada mereka.


Tanpa menjawab ucapan Agung, Lio memilih untuk berjalan kearah kamarnya. Ia tak mau berdebat lagi dengan kakeknya daripada nanti diancam mulu. Bisa-bisa kandidat suami idaman yang melekat pada dirinya langsung dicoret dari daftar oleh Pak Hakim. Nathan yang bingung juga langsung mengikuti Lio menuju kamar laki-laki itu.


"Agung... Mandi, habis ini ke mall" seru Lio dari atas tangga.

__ADS_1


__ADS_2