
Akhirnya Kakek Angga ditemani oleh Ratu untuk berkeliling desa ini. Bahkan Ratu juga memperlihatkan beberapa lahan kosong yang bisa dijadikan untuk pembangunan jaringan internet di desa ini. Ia begitu banyak menjelaskan begitu juga dengan pemiliknya. Ratu begitu antusias saat mendengar bahwa Kakek Angga ingin membangun tower untuk jaringan internet yang bisa memudahkan akses mencari banyak ilmu.
Sebenarnya ada beberapa kendala jika membangun jaringan internet disini. Kebanyakan warga belum memiliki ponsel atau komputer yang bisa dihubungkan dengan internet. Ekonomi masyarakat yang masih bergantung pada hasil panen sangat tak memungkinkan untuk mereka membeli barang-barang mahal seperti itu. Bahkan di sekolahnya saja hanya ada 10 komputer padahal siswa disana melebihi 100 orang.
"Tapi disini itu kebanyakan belum mempunyai ponsel dan komputer pribadi, kek. Jadinya internet ini nantinya juga hanya akan membantu orang-orang yang bisa punya ponsel dan komputer saja" ucap Ratu memberi pertimbangan.
Kakek Angga menganggukkan kepalanya mengerti. Terlebih saat dirinya berkeliling, ia sama sekali tak melihat adanya satu pun remaja yang memegang ponsel. Hal ini membuat dirinya harus mempunyai terobosan baru agar desa ini lebih maju tekonologi dan sumber daya manusianya.
"Disini banyak yang pengangguran tidak yang seusia remaja begitu?" tanya Kakek Angga.
Kakek Angga harus mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk memastikan program yang tepat di desa ini. Beruntung ada Ratu yang mau menemaninya bahkan memberikan informasi yang begitu lengkapnya.
"Banyak. Kebanyakan dari mereka hanya lah lulusan SD dan SMP kemudian bekerja di ladang saja. Untuk yang melanjutkan SMA disini masih jarang, kek. Maklum biaya pendidikan semakin tinggi walaupun sudah mendapat subsidi dari pemerintah" ucap Ratu sambil terkekeh.
Ia ingin sekali setelah lulus SMA nanti bisa melanjutkan kuliahnya. Namun tempat kampus di desa ini tak ada, mereka harus ke kota jika ingin melanjutkan kuliah. Ingin sekali Ratu merantau ke kota demi bisa melanjutkan kuliahnya namun ia masih memikirkan keadaan sang ayah. Tak mungkin ia meninggalkan ayahnya di desa ini sendirian.
"Kalau itu lahan punya siapa?" tanya Kakek Angga.
"Itu tempatnya Ustadzah Siti, kek. Beliau janda lho" ucap Ratu dengan terkekeh pelan.
Kakek Angga juga tertawa mendengar ucapan dari Ratu yang seakan sedang mempromosikan wanita itu kepadanya. Namun ia kini sedang tak memikirkan masalah pendamping hidup karena ada cucunya yang masih butuh dirinya didik sebaik mungkin.
__ADS_1
"Sepertinya lahan ini sangat cocok untuk pembangunan tower" ucap Kakek Angga.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari karena sepertinya awan sudah mulai gelap. Kakek Angga yang sudah menentukan lahan mana yang akan ia beli pun memutuskan untuk menemui pemiliknya esok hari. Terlebih saat ini hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang.
"Ayo kita pulang, sudah mau maghrib. Pasti kamu juga akan ke masjid bukan?" ucap Kakek Angga.
Ratu menganggukkan kepalanya kemudian segera berpamitan kepada Kakek Angga. Ia yang semula menuntun sepedanya karena mengantar berkeliling Kakek Angga, akhirnya kembali menaikinya. Ia segera mengayuh sepedanya kemudian pergi berlalu setelah pamit kepada pria paruh baya itu.
"Gimana? Cocokkan sama cucuku" ucap Kakek Angga bertanya pada anak buahnya.
"Cocok, tapi sepertinya tuan Lio harus berusaha keras untuk berubah. Bahkan terlihat sekali jika gadis itu sangatlah kuat dalam agamanya. Tutur katanya juga begitu lembut dan sopan" ucap salah satu anak buahnya memuji Ratu.
Kakek Angga menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga yakin jika perubahan Lio saat ini ada sangkut pautnya dengan kehadiran Ratu. Namun apapun itu alasannya, ia akan mendukung semua yang terbaik jika memang itu untuk kebaikan cucunya.
***
"Kamu mau kemana, Lio?" tanya Kakek Angga yang baru saja sampai di rumah kontrakannya.
Anak buah Kakek Angga langsung saja pergi ke aula balai desa setelah melihat pria paruh baya itu masuk kedalam rumah kontrakannya. Namun saat masuk rumah, ia melihat Lio yang akan pergi dengan menggunakan baju koko dan celana bahan serta peci yang melekat pada tubuhnya. Kakek Angga begitu takjub dengan apa yang digunakan oleh cucunya itu.
"Ke masjid, kek. Kakek mau ikut?" tanya Lio sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kakek sholat di rumah saja. Lagi pula kakek belum mandi" tolak Kakek Angga.
Lio menganggukkan kepalanya kemudian laki-laki itu berlalu pergi setelah berpamitan pada kakeknya. Kakek Angga sungguh bangga jika memang Lio bersungguh-sungguh berubah dan mau belajar tentang agama sedikit-sedikit. Rumah kontrakannya menjadi sepi karena Adin dan ibunya juga sudah ke masjid bahkan sebelum dirinya datang.
"Lingkungannya sangat mendukung untuk cucuku belajar agama. Ada untungnya juga dia tersesat disini, semoga saja besok saat kembali ke kota takkan ada drama tentang tingkahnya lagi" gumam Kakek Angga pelan sambil memandang kepergian cucunya itu.
***
Lio datang ke masjid dengan langkah santainya namun ada beberapa warga yang menatapnya begitu sinis. Semenjak kejadian pagi tadi, dirinya memilih untuk melakukan semua kegiatannya di rumah. Terlebih setelah dari sawah tadi ia langsung memilih masuk rumah kemudian baru keluar sekarang.
Lio tak mempedulikan warga yang menatapnya sinis bahkan dengan terang-terangan langsung menegurnya. Ia sudah tahu pasti mengenai kejadian pagi tadi tentang mobil yang terus menyebar bak bola liar. Namun ia tak peduli yang terpenting baginya kini ia hanya mau beribadah saja disini.
"Mas Lio kok nggak pergi-pergi dari sini sih, ganggu pemandangan saja" ucap Mpok Yati begitu ketus.
Memang dari sekian banyak warga, hanya Mpok Yati lah yang dengan terang-terangan tak menyukai dirinya. Bahkan berulangkali dia membuat masalah dengannya melalui fitnah-fitnah yang keluar dari mulutnya. Namun Lio yang memilih acuh dan tak mau mengelak pernyataan itu malah membuat wanita paruh baya itu seakan dibenarkan ucapannya.
"Kalau Mpok Yati kapan tuh mulutnya berhenti ngomong?" tanya Lio dengan menyindir.
Beberapa warga yang ada disana hanya bisa menahan tawanya karena mendengar ucapan Lio yang terkesan pedas itu. Hampir semua warga juga tahu bagaimana mulut Mpok Yati yang suka sekali berbicara hal buruk dan kadang memfitnah oranglain. Sepertinya kejadian dilabrak Ratu itu tak membuatnya jera.
"Kamu jangan kurang ajar ya sama orangtua. Kamu harus menghormati orangtua" ucap Mpok Yati tak terima.
__ADS_1
"Orangtuanya seperti apa dulu? Kalau kaya Mpok Yati sih ini mah mending dihujat aja daripada dihormati" ucap Lio acuh yang kemudian berlalu masuk kedalam masjid.