Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kerjasama


__ADS_3

Walaupun ada sedikit keterkejutan dari Kakek Angga mengenai cucunya yang benar-benar belajar agama, namun ia langsung saja menatap Pak Hakim dengan cermat. Bahkan kini tatapannya menyelidik menilai Pak Hakim dari atas ke bawah membuat laki-laki itu berdiri dengan kikuk.


Pasalnya kini Pak Hakim hanya memakai celana pendek longgar dan kaos oblong sambil membawa cangkul. Dia hendak ke sawahnya namun berhubung bertemu dengan Lio, ia juga akan menanyakan perihal mobil-mobil mewah yang tadi menggegerkan warga disini.


"Kalau belum konsisten buat belajar ngaji, nggak usah pakai mau nglamar anak orang. Kakek nggak mau nglamarin kamu gadis kalau tingkahmu aja masih... Ya begitu lah" ucap Kakek Angga dengan sedikit menyindir.


Kakek Angga awalnya ingin mengatakan jika Lio di kota masih lah punya banyak pacar yang harus ia putuskan lebih dahulu sebelum melamar gadis di desa ini. Namun dirinya tak tega jika image anaknya bertambah buruk terlebih sepertinya laki-laki didepannya ini merupakan ayah dari sang gadis.


"Yayaya... Kalian memang lah cocok untuk membully ku. Pak, disini ada kontrakan atau gedung yang agak luas tidak? Saya ingin menyewanya satu minggu untuk tempat istirahat karyawan kakek saya" tanya Lio mengalihkan pembicaraan.


Lio tak menyebut anak buah Kakek Angga yang begitu tegap dan sangar itu dengan bodyguard nanti kesannya menakutkan. Ia lebih memilih jika itu merupakan karyawan yang tak sengaja ikut untuk mendampingi kakeknya di desa ini. Pak Halim yang mendengar hal itu tentu saja sejenak terdiam, pasalnya disini jarang yang punya tanah luas dan sudah dibangun berbentuk bangunan.


"Kalau mau biar istirahat di aula dekat balai desa itu saja. Lagi pula hanya untuk istirahat malam hari bukan? Kalau untuk makan, saya yakin mereka akan ke rumah kontrakanmu" ucap Pak Hakim memberi saran.


Lio terdiam kemudian menatap kakeknya untuk meminta persetujuan. Sebenarnya tak masalah bagi Kakek Angga dimana pun tempatnya itu asalkan bersih dan muat untuk banyak orang. Terlebih badan anak buahnya yang memang tergolong lebih besar dari ukuran pemuda disini.


"Tak apa, mereka bisa tidur dimana saja. Lagi pula didalam mobil juga ada kasur lipat yang mereka bawa sendiri-sendiri" ucap Kakek Angga santai.


Memang benar jika didalam mobil yang dibawa sudah tersedia beberapa perlengkapan tidur, mandi, juga bahan bakar bensin sesuai ucapan Lio waktu itu. Bahkan ada beberapa bahan masakan instant dan sayuran jika memang disini tak ada. Mobil itu jika mungkin dibuka sudah seperti supermarket berjalan. Makanya mereka membawa banyak mobil agar bisa memuat beberapa barang yang dibawa.


"Kalau gitu tolong antarkan kami untuk menyewa aula itu, pak. Kalau sama bapak kan segalanya jadi mudah" sindir Lio.

__ADS_1


Pak Hakin mencebikkan bibirnya kesal karena tingkah Lio yang menyindir dirinya itu. Ia yakin jika Lio teringat dengan kejadian waktu di puskesmas yang Ratu dengan mudahnya dilayani sedangkan pemuda itu harus berjuang keras hingga marah-marah. Bahkan kejadian itu pun sampai ke telinga warga sini membuat semuanya menjadi tahu.


Pak Hakim kembali ke rumahnya sebentar kemudian ganti baju dan mengembalikan cangkulnya. Tak mungkin ia ke balai desa hanya menggunakan pakaian yang kurang sopan seperti itu. Lio menunggunya bersama sang kakek yang menatap cucunya aneh.


"Itu tadi beneran calon mertuamu? Lalu kemana anaknya?" tanya Kakek Angga beruntun.


"Iya dong. Oh... Ratu lagi sekolah dong yah" ucap Lio dengan percaya dirinya.


Kakek Angga berdecih sinis dengan pengakuan penuh percaya diri dari cucunya itu. Pasalnya terlihat jelas kalau Pak Hakim tak menyetujui jika anaknya bersanding dengan sang cucu. Terlebih sikap Lio yang bengal dan playboy tak tertolong itu.


Sebenarnya saat di kota itu gadis-gadis yang mengaku pacar Lio belum pernah dikenalkan cucunya kepadanya. Baru kali ini lah Lio berani mengakui seseorang yang didekatinya. Namun Kakek Angga akan terus memantau cucunya itu dulu agar tak menyakiti atau mempermainkan gadis desa ini.


Apalagi tadi ayahnya saja begitu tegas mengenai agama membuat Lio harus belajar dengan benar. Ratu juga masih sekolah maka Lio juga harus memikirkan pendidikannya yang selama ini selalu disepelekannya.


"Rapi amat pak, kaya mau ke kondangan" ucap Lio dengan cengengesan.


Pak Hakim tak menggubris sama sekali omongan Lio namun ia lebih memilih berjalan didekat Kakek Angga. Didekat Lio hanya membuatnya pusing dengan ucapan-ucapan anehnya itu.


"Maafkan cucu saya yang aneh dan tingkahnya merepotkan ini ya, pak" ucap Kakek Angga merasa bersalah.


"Tak apa, pak. Namanya juga anak muda" ucap Pak Hakim.

__ADS_1


Lio yang menjadi bahan pembicaraan pun hanya acuh saja. Bahkan ia sedikit berdecih sinis mengenai Pak Hakim yang memaklumi tingkahnya. Padahal jelas-jelas Pak Hakim sering kesal dan mengomelinya jika sudah bertingkah menyebalkan. Tak berapa lama berjalan, akhirnya Pak Hakim mengajak keduanya masuk menemui seseorang.


"Biayanya seikhlasnya saja, pak. Istilahnya untuk kas desa saja jadi kami tak mematok biayanya. Yang penting dijaga kebersihannya dan tidak digunakan untuk hal-hal yang dilarang agama" ucap salah satu staff balai desa.


Kakek Angga menyetujuinya untuk biayanya nanti mungkin setelah selesai digunakan baru diberikan. Mereka memeriksa keadaan aula yang bersih bahkan sangat luas itu. Cukup untuk anak buah Kakek Angga yang berjumlah 20 orang itu.


"Terimakasih pak sudah membantu kami" ucap Kakek Angga.


"Sama-sama. Saya juga sangat antusias dengan kerjasama saling bantu seperti ini" ucap Pak Hakim dengan terkekeh pelan.


Mereka pun akhirnya kembali pulang setelah semua apa yang diinginkan selesai. Lio dan Kakek Angga langsung masuk dalam kontrakannya setelah berpamitan dengan Pak Hakim terlebih banyak warga yang ternyata berdatangan ke sana.


"Ada apa ini ibu-ibu kok pada kumpul disini?" tanya Lio merasa heran.


"Emm... Ini kita mau ketemu ibunya Adin. Mau minta tolong buat bilang sama nak Lio agar mobilnya dipinjam sebentar" ucap Ibu Lian.


"Maaf bu. Ini mobil sengaja dibawa kesini karena ada barang-barang didalamnya jadi tak bisa kalau dinaiki banyak orang" ucap Lio memberi alasan.


Kakek Angga sudah memberinya kode tentang mobil yang tak bisa dinaiki oleh orang sembarangan sehingga Lio harus mencari alasan. Semoga saja alasannya yang aneh ini bisa diterima oleh mereka.


"Kok pelit sih, nak Lio?" kesal Ibu Lian dan diangguki yang lainnya.

__ADS_1


"Bukannya pelit, tapi apa disini ada yang bisa menaiki mobil? Kalau nanti ketabrak dan rusak gimana? Apa ada yang mau tanggungjawab? Kita ini juga cuma rental lho mobilnya" ucap Lio sedikit ketus.


Mereka semua diam setelah mendengar ucapan Lio. Pasalnya memang benar warga disini hampir tak ada yang bisa mengendarai mobil. Namun mereka ingin naik mobil dengan disopiri anak buah Kakek Angga.


__ADS_2