
Lio dan Agung sudah berada diatas motor laki-laki itu. Lio mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan sedang agar Agung yang diboncengnya tak lagi mabuk perjalanan. Sedangkan Nathan mengikuti keduanya dari belakang. Tadinya Nathan tak ingin ikut namun melihat kebersamaan Lio dan Agung yang begitu hangat membuatnya juga ingin ikut merasakan.
"Wah... Di kota jam segini ramai-ramainya ya kak. Kalau di desa mah paling-paling pada pulang ke rumah lalu siap-siap ke masjid sholat ashar" celoteh Agung melihat semua kendaraan yang berlalu lalang disampingnya.
Senyum Agung terpancar sedari berangkat tadi. Bahkan ia begitu antusias menggunakan helm baru yang dibelikan oleh Lio. Baru kali ini dirinya merasakan jalan-jalan dan liburan yang sebenarnya, pasalnya selama di desa ia lebih memilih didalam rumah terus.
"Jam segini mah banyak anak sekolah yang baru pada pulang sekolah. Itu tandanya nanti banyak juga yang pada nongkrong" ucap Lio dengan sedikit meninggikan suaranya.
Suara angin dan kendaraan membuat suara Lio teredam oleh keramaian sehingga kadang tak jelas ucapannya. Begitu juga Agung yang memeluk perut Lio karena takut jika terjatuh. Keduanya begitu menikmati moment menjadi seorang saudara ini bahkan mereka tampak begitu akrab. Padahal setelah pertemuannya terakhir waktu di rumah Pak Alam itu, mereka baru bertemu lagi saat akan ke kota.
Setelah pembicaraan itu, hanya ada keheningan diantara keduanya. Tak berapa lama, sepeda motor yang dikendarai oleh Lio dan Nathan memasuki halaman parkir mall. Agung menatap takjub gedung besar yang ada dihadapannya ini.
"Ayo turun" ajak Lio mengejutkan Agung yang masih menatap area mall.
Agung pun mengangguk kemudian turun dari motor dibantu oleh Lio. Agung langsung melepaskan helmnya kemudian digandeng oleh Lio yang sudah siap sedari tadi. Nathan juga mengikuti keduanya untuk masuk ke dalam mall. Agung sedari tadi tak lepas pandangannya dari semua area mall baik di luar maupun dalam.
"Wah... Bagus banget gedungnya. Luas terus bersih nggak kaya di pasar" ucap Agung berdecak kagum.
Mendengar hal itu tentunya Lio dan Nathan begitu terharu. Padahal mereka seringkali datang ke tempat seperti ini sedangkan Agung yang baru pertama kalinya terlihat begitu bahagia. Walaupun bukan belanja namun hanya dengan memperlihatkan dan mengajak Agung saja ternyata sudah bisa membuat bocah laki-laki itu bahagia.
__ADS_1
Lio yang tahu tentang pasar di desa tentunya bisa membandingkan bagaimana tempatnya yang begitu kotor karena memang belum ada relokasi dan renovasi dari pemerintah setempat. Sedangkan untuk mall ini sendiri tentu dibangun dengan persiapan juga investor yang manajemennya jelas dan tertata.
"Kita beli baju dulu buat kamu" ucap Lio menarik tangan Agung menuju sebuah toko.
Agung begitu bahagia karena akan membeli baju baru untuk dirinya. Pasalnya baju dan celana yang ia pakai saat ini merupakan milik Lio yang memang sudah kekecilan. Tadinya ia ingin memakai baju miliknya namun Lio malah memberikannya yang lain. Mungkin Lio tak ingin jika nanti Agung menjadi pusat perhatian di mall karena bajunya yang sudah lusuh.
"Kayanya ini cocok sama hoodie juga" ucap Nathan dengan semangat.
Entah kenapa ia juga ikut bersemangat dalam memilihkan baju untuk Agung. Mungkin karena dirinya anak tunggal membuatnya merasakan mempunyai seorang adik yang harus ia belikan sesuatu. Lio tak marah atau cemburu jika Nathan ingin ikut dekat dengan Agung pasalnya ia sudah tahu tentang kepahitan hidup sahabatnya itu.
"Sama kaos dan celana ini juga" ucap Lio.
Lio dan Nathan begitu kalap mengambil baju serta celana yang sangat cocok jika dikenakan oleh Agung. Agung sendiri sebenarnya tak enak hati dengan apa yang dilakukan oleh keduanya itu pasalnya tadi ia melihat jika harga baju disana lumayan mahal.
Apalagi kini keduanya sama-sama memegang tas belanja dan memasukkan asal pakaian yang memang mereka inginkan. Hal ini membuat Agung panik dan takut jika nanti tak bisa membayarnya. Namun Nathan dan Lio seakan tak peduli dengan kepanikan Agung, mereka meneruskan mengambil beberapa baju untuk mereka sendiri juga.
Hampir satu jam ketiganya memilih pakaian yang akan dibeli, lebih tepatnya hanya Lio dan Nathan. Sedangkan Agung sendiri tak berani mengambil satu pun karena harganya yang begitu mahal menurutnya. Ketiganya meletakkan semua tas belanjanya di meja kasir kemudian dihitung total semuanya. Agung sudah was-was jika nanti mereka akan diusir dari toko ini.
"Totalnya 82.143.000" ucap kasir itu menatap tak percaya pada layar yang ada didepannya.
__ADS_1
Lio segera menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam untuk membayar semua belanjaannya. Kasir itu menerimanya kemudian tak berapa lama transaksi itu berhasil.
"Terimakasih, tuan. Ditunggu kedatangannya kembali" ucap kasir itu dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya.
Lio hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyimpan kartunya kembali dalam dompetnya. Agung dan Nathan membantunya membawa beberapa paper bag berisi baju mereka. Mereka bertiga pun akhirnya keluar dari toko pakaian itu kemudian mencari tempat makan.
"Bang, tadi kok abang bayar ini cuma pakai KTP? Emang cuma pakai KTP bisa ya dapat belanjaan sebanyak dan semahal ini" tanya Agung penasaran.
Sesampainya di restorant cepat saji mereka segera mencari duduk setelah memesan makanan yang diinginkan. Agung yang sudah begitu penasaran dengan banyak pertanyaan pun langsung mencecar Lio dan Nathan.
"Itu bukan KTP tetapi sejenis black card atau tidak ya ATM seperti itu. ATM itu bisa buat belanja karena kartu itu sudah tersambung dengan tabungan kita yang ada di bank" ucap Lio menjelaskan.
Agung tetap tak mengerti pasalnya di desanya kalau mau ke bank harus menempuh waktu kurang lebih satu jam. Mereka yang ingin menabung memilih untuk ke koperasi simpan pinjam yang dekat dengan area desa. Ia hanya mengangguk saja yang penting kedua abangnya itu tak diusir dari toko karena tak bisa membayar.
Makanan sudah disajikan didepan meja mereka, ketiganya segera memakannya hingga tak berapa lama adzan ashar telah berkumandang di ponsel milik Lio. Nathan yang mendengarnya tentu terkejut pasalnya selama ini di ponsel sahabatnya itu tak pernah ada pengingat waktu adzan.
Tadi saat dhuhur pun juga begitu, tak ada pengingatnya atau karena dirinya yang tak mendengar karena tertidur. Lio menatap Nathan yang mengarahkan pandangannya kearah dirinya itu.
"Setelah ini kita sholat ashar disini juga, bang?" tanya Agung.
__ADS_1
"Iya, didekat lobby ada mushola. Kita sholat disana" ucap Lio yakin.
Nathan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perubahan Lio yang begitu drastis. Namun ia bahagia jika sahabatnya itu mau mendekatkan diri kepada Tuhan.