
Ucapan pedas yang dilontarkan oleh Lio saat akan memasuki area masjid itu kini menjadi buah bibir. Ada yang mendukung namun ada yang menghujatnya habis-habisan. Geng Mpok Yati yang memang terkenal dalam menghujat itu pun memilih untuk membuat cerita yang dilebih-lebihkan sehingga banyak orang yang menganga tak percaya.
"Mpok, jangan asal menyebar fitnah gitu. Perasaan tadi nak Lio tidak seperti itu" bisik salah satu temannya menasihati.
Mpok Yati tak menggubris nasihat dari temannya itu karena menurutnya ucapannya itu benar. Bahkan bapak-bapak yang mendengarnya seketika emosi bahkan langsung mendatangi Lio. Lio yang baru saja keluar dari masjid itu pun terkejut karena dihadang oleh bapak-bapak yang wajahnya memerah.
Salah satu bapak-bapak langsung memegang baju atasan koko Lio yang ada pada lehernya kemudian mencekiknya. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung berkerumun dan hendak melerai. Namun rekan dari bapak-bapak itu langsung membentengi kedua orang itu agar tak ada yang membantunya.
Lio itu sebenarnya bisa melawan namun ia lebih memilih menunggu. Jika nanti nyawanya sudah terancam atau mereka main keroyokan maka jangan salahkan Lio yang bisa langsung menghajar mereka. Bahkan Pak Hakim yang baru saja datang tak kalah terkejutnya melihat apa yang terjadi. Ratu dan ibu-ibu lainnya sampai teriak histeris meminta tolong.
"Astaga... Itu nak Lio kenapa? Bapak-bapak, ini bisa kita bicarakan baik-baik" seru Ustadzah Siti.
Ratu langsung saja pergi dari area masjid itu kemudian berlari menuju rumah kontrakan Lio. Ia akan memberitahu Kakek Angga karena bagaimana pun itu menyangkut keadaan cucunya. Warga yang ada di masjid masih berkerumun namun karena bapak-bapak yang pro dengan pelaku banyak membuat mereka kuwalahan. Bahkan Adin yang berada disana juga ingin membantu namun tak bisa.
***
"Kakek... Kakek..." seru Ratu dengan langkah tergopoh-gopoh.
__ADS_1
Bahkan kini nafasnya negitu ngos-ngosan karena berlari dari masjid menuju rumah kontrakan Lio yang jaraknya lumayan jauh. Kakek Angga yang memang sedang duduk bersama dengan anak buahnya di ruang tamu langsung berdiri kemudian menatap Ratu yang wajahnya sudah bercucuran keringat.
"Ada apa, nak? Kenapa lari-lari?" tanya Kakek Angga penasaran.
"Itu, kek. Mas Lio dikerubungi sama bapak-bapak. Kami yang mau melerai tak bisa" ucap Ratu dengan tersendat-sendat.
Sontak saja ucapan dari Ratu itu membuat Kakek Angga dan anak buahnya terkejut. Kakek Angga berpikir jika cucunya itu tengah membuat ulah sehingga bapak-bapak warga disini marah padanya. Kakek Angga segera saja pergi bersama dengan Ratu menuju masjid diikuti oleh anak buahnya.
***
"Pak Hakim, jangan mentang-mentang anaknya dekat sama laki-laki ini terus membelanya ya. Dia ini hanya warga baru disini, jadi jangan bisa percaya langsung padanya. Mana ini pemuda sudah membuat ibu-ibu disini kurang nyaman karena perkataan yang melenceng dari norma agama lagi" seru salah satu bapak-bapak.
"Makanya kita selesaikan ini dengan baik-baik. Coba kita tanya dulu dari pihak Lio dan ibu-ibu yang kalian maksud itu. Jangan main hakim sendiri" ucap Pak Hakim dengan baik-baik.
Bahkan Pak Hakim juga langsung mengelus punggung bapak-bapak yang tengah mencekik leher Lio dengan bajunya itu. Akhirnya bapak-bapak itu menurut kemudian melepaskannya. Lio menatap sinis pada bapak-bapak itu kemudian mengikuti Pak Hakim masuk ke serambi masjid. Semua yang ada disana pun memilih untuk ikut duduk agar bisa mengetahui sebenarnya ada masalah apa.
Tak berapa lama, Kakek Angga datang bersama dengan anak buahnya. Bahkan Ratu juga berada dalam rombongan itu membuat semua warga bergidik ngeri. Apalagi melihat wajah Kakek Angga yang terlihat tak bersahabat sama sekali. Kedua tangan yang mengepal erat juga wajah datar dan tatapan begitu tajam. Mereka segera duduk kemudian mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Kakek Angga dengan wajah datarnya.
Semenjak kedatangan Kakek Angga dan anak buahnya membuat suasana disana langsung dilanda keheningan. Kakek Angga terus menatap kearah Lio yang terlihat sangat santai menghadapi ini walaupun dalam matanya terlihat kalau dia tengah emosi. Kakek Angga yang tahu tabiat cucunya itu pun tahu kalau disini Lio tak bersalah.
"Saya juga tak tahu, pak. Makanya ini saya kumpulkan agar bisa mendengarkan penjelasan dari dua belah pihak" ucap Pak Hakim menengahi.
Kakek Angga menganggukkan kepalanya kemudian Pak Hakim meminta mereka untuk menjelaskan secara bergantian. Lio sedikit tersenyum sinis saat melihat wajah-wajah penuh ketakutan yang ada disana. Apalagi nanti jika ia tahu dalangnya, mau perempuan atau laki-laki sudah pasti akan langsung berhadapan dengannya.
"Kalau tanya saya, saya tidak tahu apa penyebabnya hingga beliau menyerang. Jadi saya tidak bisa menjelaskan apa-apa" jawab Lio santai.
"Saya mendapatkan laporan dari ibu-ibu disini kalau dia telah mengucapkan kata-kata berbau pelecehan kepada Mpok Yati. Bahkan Mpok Yati sekarang mentalnya terguncang karena merasa direndahkan dan memilih untuk pergi dari masjid dengan cepat" ucap bapak-bapak itu.
"Makanya saya emosi langsung menghadang bahkan ingin menghajar dia" lanjutnya dengan menggebu-gebu.
Kakek Angga dan Lio hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pernyataan dari bapak-bapak itu. Kakek Angga tahu bahwa cucunya tak mungkin melakukan hal itu. Setengil dan seplayboynya dia, takkan pernah yang namanya Lio akan melakukan tindakan seperti itu. Bahkan setelah mendengar itu, kasak kusuk diantara semua warga langsung terdengar.
"Mpok Yati? Yang benar saja. Kalau pun benar saya seperti itu, tak mau lah saya melakukan itu pada wanita nyinyir seperti itu. Mana bentuknya aja nggak menarik gitu" ucap Lio pedas.
__ADS_1
"Lihat pak, dia saja berani lho menghina fisik Mpok Yati didepan warga sini. Bukan tak mungkin jika ia benar melakukannya di belakang kita" seru bapak-bapak itu semakin menguatkan argumennya.
Kakek Angga hanya bisa menghela nafasnya sabar sambil mengelus dadanya. Ia tak menyangka jika Lio malah seperti menyiramkan bensin pada api yang tengah menyala. Harusnya cucunya itu membantah bukan malah menghina oranglain. Ingin rasanya ia pukul itu kepalanya agar otaknya sedikit lurus.