Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Mulai


__ADS_3

"Ehemm... Ayah calon mertua, ijinkan saya belajar mengaji kepada anda" ucap Lio dengan sungguh-sungguh.


Saat ini Lio tengah berada di rumah Ratu karena ingin meminta tolong sesuatu kepada Pak Hakim. Pak Hakim yang sudah berpikir bahwa Lio hanya akan menggoda dan bersikap tengil didepannya pun menatap tak percaya pada pemuda di depannya. Walaupun beberapa hari ini ia begitu terkesan dengan perilakunya yang membantu orang tak mampu.


Sudah beberapa malam ini Lio melakukan sholat berjamaah dengan warga sekitar ditemani juga oleh Adin. Setiap kali ia mendengar suara orang mengaji terutama Ratu, ia selalu takjub namun tak berani untuk mengungkapkannya. Ada niatan hati untuk belajar membaca ayat suci Al-Qur'an itu namun ia malu karena sudah sebesar ini tapi belum bisa membacanya.


Bahkan Adin yang usianya dibawahnya pun ternyata bisa membaca ayat suci Al-Qur'an hal itu membuatnya malu. Walaupun belum lancar seperti yang lainnya namun setiap malamnya Adin selalu meluangkan waktu belajar di masjid. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Lio memutuskan untuk belajar itu kepada Pak Hakim.


"Kamu nggak salah makan kan?" tanya Pak Hakim heran.


"Tidak. Bapak nggak lihat kalau saya benar-benar serius untuk belajar agama terutama Al-Qur'an? Ilmu itu harus disalurkan pak, biar bermanfaat" ucap Lio mengutip sebuah kalimat ceramah dari Pak Hakim.


Pak Hakim terdiam mendengar Lio yang sedari tadi mencerocos untuk membujuknya agar mau membantunya mengajari membaca. Dia jadi tersindir sendiri dengan ucapannya apabila tak mengikuti kemauan Lio itu. Sebenarnya ia tak mau mengajari seseorang modelan seperti Lio ini karena kedepannya pasti ada maunya.


"Baiklah... Saya akan mengajari kamu. Tapi kamu harus serius dalam belajar ini, bukan karena ada maksud tertentu" ucap Pak Hakim dengan sarkas.


Lio menganggukkan kepalanya agar terlihat bahwa dia memang serius dan tak ada maksud terselubung. Melihat hal itu tentunya Pak Hakim mulai percaya kemudian menyuruh Lio untuk datang esok sore. Tak berapa lama mereka berbincang, Ratu keluar dari kamarnya dengan menggunakan gamis berwarna merah muda senada dengan jilbab yang menutupi dadanya.


"MasyaAllah... Bidadari surga baru turun dari kamar" gumam Lio saat tak sengaja melihat Ratu keluar dari kamarnya.


Ratu yang tadinya menunduk pun langsung mengangkat kepalanya saat merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Matanya tak sengaja bertatapan dengan mata tajam Lio beberapa detik kemudian Ratu menundukkan kepalanya sambill mengucap istighfar dalam hatinya. Pak Hakim yang melihat kelakuan pemuda didepannya itu langsung saja menendang kaki Lio.

__ADS_1


Dugh...


Awwww....


"Kasar ya bapak sama saya" ketus Lio sambil mengusap kakinya yang terasa sakit dengan sebelah tangannya.


"Siapa suruh dengan berani-beraninya menatap dan memuji anak saya seperti itu. Kalau memang mau menggombali anak saya tunggu kalau kalian sudah jadi pasangan halal" ucap Pak Hakim asal.


Tentu saja mendengar hal itu Lio dan Ratu langsung menatap kearah Pak Hakim dengan tatapan menuntut. Mereka berdua seakan memastikan kalau apa yang keduanya dengar itu tak salah. Jika memang benar berarti jika Lio mendekati atau menikahi Ratu artinya Pak Hakim merestuinya. Bahkan kini Lio langsung beranjak duduk didekat kursi Pak Hakim.


"Apa benar kalau bapak merestui kami jika menjadi pasangan halal nantinya?" tanya Lio secara langsung.


"Siapa yang merestui kamu menjadi pasangan halal anak saya?" tanya Pak Hakim sambil memalingkan wajahnya.


Sepertinya Pak Hakim tadi keceplosan atau asal bicara sehingga kini terlihat mengalihkan pandangannya. Namun Lio yang memang dasarnya keras kepala tetap menganggap kalau apa yang diucapkan oleh Pak Hakim pertama kali adalah yang benar.


"Pokoknya tadi bapak sudah memberi kode untuk saya menjadikan Ratu sebagai pasangan halal saya. Saya akan memantaskan diri untuk bidadari surgaku kelak agar ia tak menyesal telah memilih saya. Oh ya... Saya akan menghalalkan dia setelah saya dan dia lulus sekolah" ucap Lio dengan semangat.


Bahkan Lio langsung mengambil tangan kanan Pak Hakim kemudian menciumnya dengan takzim. Lio pamit pulang setelah sedikit menatap Ratu yang sedang menunduk. Saat Ratu menegakkan kepalanya sebentar, Lio mengerlingkan mata genitnya kearah perempuan itu membuat pipinya memerah malu.


"Dasar pemuda gendeng... Belum juga belajar baca Al-Qur'an malah genit-genit sama anak saya" seru Pak Hakim sambil melempar sandalnya kearah Lio.

__ADS_1


Lio hanya bisa tertawa meledek Pak Hakim yang sandalnya bahkan tak mengenai tubuhnya sama sekali. Pak Hakim menghela nafasnya kasar sambil mengusap dadanya sabar untuk menghadapi Lio. Apalagi setelah ini setiap sore dia akan menghadapi Lio yang berguru kepadanya.


"Ratu, kalau ada dia ke rumah ini maka kamu jangan keluar dari kamar. Ayah nggak mau kalau kamu sampai nambah dosa ayah di akhirat nanti" ultimatum Pak Hakim.


Pak Hakim masuk kedalam kamarnya setelah memberikan ultimatum keras kepada anak perempuannya. Terlihat kejam memang, namun Pak Hakim begitu menjunjung tinggi agama. Anaknya yang tak boleh masuk dalam pergaulan anak jaman sekarang yang terkadang pacaran saja sudah kelewat batas. Ia ingin menjaga anak satu-satunya itu agar menjadi perempuan sholehah.


Namun ada beberapa titik kalau Ratu merasa tersinggung dengan ucapan sarkas ayahnya. Ia ingin dididik dengan lembut bukan dengan ancaman atau kekerasan. Hal ini juga yang membuat dia sering sakit hati akibat ucapan ayahnya hingga menangis sendirian di kamarnya.


"Sabar Ratu... Ayah kan memang kasar kalau ngomong. Anggap saja lah kalau sedang dengarin petasan" gumam Ratu sambil mengelus dadanya sabar.


***


"Bang Lio nggak kerja?" tanya Adin yang baru saja pulang dari sekolah.


Adin kini disekolahkan oleh Lio karena menurut pemuda itu nantinya agar bisa mengubah nasib keluarganya di masa depan. Adin pun dengan semangat bersekolah seperti apa yang diinginkan Lio terlebih ini gratis. Berulangkali ia dan ibunya berterimakasih kepada Lio karena telah membantu banyak.


"Enggak, kan abang disini cuma satu bulan. Mau kerja apa abang disini sebulan? Lebih baik mempelajari ilmu agama agar kelak bisa menjadi imam yang sholeh untuk memimpin anak dan istrinya ke surga" ucap Lio berkhayal.


"Amin" seru Adin sambil tersenyum.


Sebenarnya Adin dan ibunya bingung darimana uang yang didapat Lio kalau tidak bekerja. Namun waktu menanyakannya, Lio hanya menjawab kalau uangnya didapat dari Allah. Akhirnya mereka memilih diam, sedangkan Adin sendiri juga bekerja di rumah Lio. Dengan setiap dua hari sekali mencuci sepeda motor Lio, maka Adin akan mendapatkan upah yang lumayan.

__ADS_1


__ADS_2