
Lio dan ketiga sahabatnya langsung pergi ke kampus setelah bersiap-siap. Mereka sebelumnya juga sudah melaksanakan test masuk online dan offline sampai akhirnya dinyatakan lolos. Batas waktu pendaftaran ulang dan penyelesaian administrasi masih dua hari lagi. Namun karena Kakek Angga sudah mengingatkan akhirnya mereka memilih menyelesaikan hari ini juga.
Terlebih hari masih menunjukkan waktu siang daripada nanti malah semakin lama. Setelah dari kampusnya nanti, mereka akan ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah dengan Yudi dan Kala. Tentunya ada Rino, sahabat Kakek Angga yang akan menemani.
"Ratu... Sini" ucap Kakek Angga setelah melihat kehadiran Ratu di ruang rawat inapnya.
Agung dan Adin berada di sekolahnya karena memang sudah memasuki hari masuk sekolah. Sedangkan Ibu Adin ada di rumah karena harus mengurus Agung dan anaknya. Terlebih Adin yang masih harus beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.
"Assalamu'alaikum, kek" sapa Ratu sambil tersenyum kemudian mencium tangan Kakek Angga.
"Wa'alaikumsalam" jawab Kakek Angga sambil tersenyum.
Ratu duduk di kursi samping brankar milik Kakek Angga. Ia menatap Kakek Angga yang tersenyum kearahnya. Tiba-tiba saja Kakek Angga mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari bawah bantal yang ditidurinya. Beliau langsung saja menyerahkan kotak ini kearah Ratu membuat gadis itu sedikit kebingungan.
"Ini untuk kamu. Tapi jangan salah paham dulu, kakek bukan mau melamarmu" ucap Kakek Angga sambil terkekeh.
Pasalnya sedari tadi Ratu langsung memundurkan kursinya saat melihat dirinya menyerahkan kotak kecil berisi perhiasan itu kearahnya. Tentunya melihat perhiasan kecil itu membuat pikiran Ratu sudah tak enak. Ia sedikit takut jika memang Kakek Angga malah ingin melamarnya padahal dia lebih cocok jadi cucunya.
Semua gerak-gerik Ratu itu langsung tertangkap dalam pandangan Kakek Angga. Kakek Angga hanya bisa tertawa melihat Ratu yang ketakutan itu kemudian segera saja memberi pengertian dan penjelasan.
"Lalu ini apa, kek?" tanya Ratu dengan pandangan bingungnya.
"Ini cincin pernikahan kakek dan mendiang nenek dulu. Cincin ini nantinya akan kakek berikan pada Lio juga istrinya. Karena kamu calon istrinya, maka kakek ingin kamu menyimpan ini" ucap Kakek Angga dengan serius.
__ADS_1
"Kamu bisa gunakan ini nanti saat sudah menikah dengan cucuku" lanjutnya dengan yakin.
Ratu yang mendengar hal itu tentunya terkejut apalagi ini sudah menitipkan benda berharga. Padahal ia dan Lio belum pasti berjodoh namun Kakek Angga sudah sangat yakin jika kelak ia akan menikah dengan Lio. Tentu saja Ratu langsung menggelengkan kepalanya, ia menolak untuk menyimpan ini.
Ia malah takut sendiri kalau nantinya barang ini hilang ditangannya. Apalagi barang ini merupakan peninggalan berharga dari mendiang nenek Lio. Sedangkan Kakek Angga yang sudah mengetahui kalau reaksi Ratu seperti itu pun hanya bisa menghela nafasnya sabar.
"Maaf kek, Ratu tak bisa menerima ini. Belum tentu di masa depan nanti kalau Ratu yang jadi jodohnya Mas Lio. Sebaiknya kakek berikan ini pada Mas Lio saja agar nantinya diberikan kepada istrinya" ucap Ratu menolak dengan hati-hati.
"Lio itu teledor anaknya. Bisa-bisa sebelum menikah malah cincin ini sudah terselip entah kemana. Kalau dibawa kakek, khawatirnya malah kakek nggak ada umur" ucap Kakek Angga.
"Jangan mendahului ketetapan Allah, kek" sela Ratu dengan tegasnya.
Ratu terlihat terdiam melihat reaksi Kakek Angga yang sedikit kecewa dengan jawabannya. Namun ia tak ingin berharap dan diharapkan karena akan sakit jika harapan itu tak sesuai kenyataan. Apalagi jodoh itu sudah ketetapan dari Allah, manusia hanya bisa berusaha bukan malah memaksa seperti ini.
"Tolong, nak. Hanya kamu simpankan saja. Jika kamu bukan jodoh cucuku kelak, tak apa. Nanti tolong kamu berikan ini pada Lio jika memang kakek tak sempat memberikannya" ucap Kakek Angga dengan tatapan permohonan.
"Kakek hanya berharap kalau suatu saat nanti kamu lah yang akan jadi pendamping hidup Lio" gumam Kakek Angga dengan pelan.
***
"Wah... Bajunya bagus ya, limited edition" ucap Yuda dengan sindiran pedasnya.
Tadi Lio dan ketiga sahabatnya setelah dari kampus langsung saja menuju ke kantor polisi untuk menemui Yudi dan Kala. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya keduanya datang ke ruang tunggu dengan menggunakan rompi warna orange.
__ADS_1
Yudi dan Kala yang mendengar sindiran dari Yuda pun hanya menatapnya sinia. Sepertinya mereka sama sekali tak terlihat ada rasa bersalah sedikit pun. Bahkan wajahnya saja sangat terlihat kalau tak suka akan kedatangan Lio dan teman-temannya.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Yudi yang langsung duduk di kursi yang ada disana.
"Cuma mau tanya, geng mana yang kalian ajak kerjasama buat hancurin LEXON?" tanya Lio dengan tenang.
"Ciee... Pasti was-was ya karena siapa tahu geng motor yang kita ajak kerjasama malah langsung menyerang kalian" ucap Kala dengan meledek.
Lio dan yang lainnya tak takut, hanya memang perlu kewaspadaan karena pasti geng motor itu akan berhubungan dengan anggota lain lagi. Terlebih Kala yang notabene anggota inti saja dengan mudahnya terpengaruh. Sedangkan Lio kini hanya bisa mendengus kesal.
"Kita nggak takut. Emang situ yang mau rebut posisi ketua tapi sembunyi di ketek oranglain" ucap Nathan dengan sarkas.
"Kalau mau jadi ketua itu yang cerdas. Berani lawan dari depan, bukan menikamnya dari belakang" lanjutnya.
Ucapan Nathan itu benar-benar menohok Kala. Bahkan keduanya langsung terdiam seakan tak bisa membalas ucapan Nathan itu. Hingga akhirnya Yudi memilih mengalihkan pembicaraan.
"Kalau kalian mau menanyakan hal itu, kami takkan pernah memberitahu. Katanya cerdik, cari tahu sendiri dong" ucap Yudi yang langsung berdiri diikuti oleh Kala.
Keduanya keluar dari ruang khusus tunggu meninggalkan Lio dan ketiga sahabatnya. Mereka hanya bisa mendengus kesal karena tak mendapatkan informasi secara langsung. Sedangkan Rino langsung masuk ruangan itu kemudian berbincang dengan mereka.
"Tenang saja, paman sudah melacak nomor siapa yang sering dihubungi oleh Kala. Apalagi chattnya juga masih tersimpan rapi" ucap Rino dengan santai.
"Hasilnya gimana paman?" tanya Lio dengan penasaran.
__ADS_1
"Kalian jangan terlalu ribet memikirkan jauh-jauh, siapa lagi kalau bukan AREX" ucap Rino sambil terkekeh.
Tentunya mereka hanya bisa mengepalkan kedua tangannya karena kesal dengan perbuatan musuh bebuyutannya itu. Sedari dulu selalu ada saja yang mereka lakukan agar bisa menghancurkan LEXON. Lebih baik mereka segera merundingkan semua ini dengan anggota lain agar masalah ini tak berlarut-larut.