Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Laporan


__ADS_3

"Bos, tower jaringan internetnya sudah selesai dibangun. Untuk komputernya juga sudah bisa dinikmati oleh warga sekitar" lapor Yohan pada Kakek Angga melalui sambungan ponselnya.


Kakek Angga yang mendengar laporan dari anak buahnya pun merasa senang karena ternyata semua proyek pembanguan tower itu berjalan dengan lancar. Walaupun harus dibumbui dengan darma kericuhan atau demo dari warga desa sebelah, namun pada faktanya semua bisa berhasil. Bahkan warga desa sebelah malah kini ikut menikmatinya juga.


Yohan langsung melaporkan semuanya pada Kakek Angga setelah semua dianggap selesai. Bahkan Kakek Angga juga sudah membawakan anak buahnya uang cash untuk membayar semua yang membantu. Beruntung waktu itu uang balapan Lio juga ada disana langsung ditinggal semua untuk menambah biaya konsumsi. Setelah melaporkan pada Kakek Angga, Yohan segera saja mendekat kearah Diko dan Pak Hakim yang tengah berbincang.


"Pak Hakim, ini uang untuk membayar warga yang kemarin ikut membantu pembangunan tower ini. Kami tak paham siapa saja yang datang jadi saya serahkan ini semua pada anda. Kalau kurang nanti silahkan bilang tapi jika sisa, bagikan saja pada ibu-ibu yang memasak" ucap Yohan sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat.


"Terimakasih, pak. Bapak-bapak yang membantu kemarin meminta kalau uang yang diberikan sebagai upah ini untuk perbaikan jalan saja" ucap Pak Hakim.


Para warga yang ikut dalam pembangunan tower kemarin memang sudah sepakat untuk menggunakan upah mereka agar bisa memperbaiki jalan. Jalanan samping desa yang sudah rusak parah apalagi saat hujan akan banyak genangan membuat warga susah untuk beraktifitas. Mumpung warga disini ada sedikit pendapatan dari upah Kakek Angga mereka menggunakan itu daripada menunggu pemerintah yang sangat lama.


"Kalau begitu, pakai ini sekalian untuk perbaikan jalan pak. Tenang saja, ini uang pribadi saya kok karena mungkin kalau pakai yang itu saja akan kurang" ucap Diko sambil memberikan satu amplop putih.


Amplop putih itu sebenarnya adalah gaji dari Diko yang memang diberikan Kakek Angga secara cash karena disini ATM sangat jauh. Terlebih Diko dan Yohan tinggal di desa yang transaksinya menggunakan uang cash. Bahkan kini Yohan juga langsung memberikan amplop putih sama seperti Diko.


"Eh... Jangan nak. Ini kan punya kalian" ucap Pak Hakim menolak sambil menggelengkan kepalanya.


"Kami ikhlas untuk perbaikan jalan di desa ini. Lagi pula disini semua warganya baik walaupun ada satu dua yang julid tapi kami memang berniat untuk membantu" ucap Yohan sambil terkekeh pelan.


"Masya Allah... Terimakasih pak" ucap Pak Hakim begitu terharu.


Ternyata kedatangan Lio di desa ini membawa banyak anugerah dan berkah untuk tempat tinggalnya. Padahal awalnya Pak Hakim berpikir kalau kedatangan pemuda itu akan memberikan pengaruh buruk pada desa ini. Beruntung sekarang jadi banyak orang baik yang singgah disini.

__ADS_1


***


"Kok kayanya kakek kelihatan senang begini?" tanya Lio yang baru saja duduk di ruang keluarga.


Ternyata di ruang keluarga sudah ada Agung dan kakeknya yang sedang melihat acara TV. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya yang tinggal di desa itu tentunya membuat ia bahagia sehingga senyum-senyum sendiri. Tentunya hal ini membuat Lio merasa aneh dengan tingkah kakeknya itu.


"Pembangunan tower jaringan internet dan sinyal disana sudah selesai. Bahkan warga sudah bisa menggunakan komputer yang kita kirimkan. Lihat ini..." ucap Kakek Angga sambil menunjukkan gambar pada layar ponselnya.


Bahkan Agung kini yang penasaran dengan bentuk tower pun langsung mendekat kearah Kakek Angga. Di layar ponsel Kakek Angga itu, terlihat beberapa gambar tower dan juga komputer serta warga yang antusias dalam mencobanya. Tentu Agung dan Lio sangat bahagia dengan apa yang mereka lihat.


"Berarti Adin dan ibunya akan segera pindah kesini dong, kek?" tanya Agung dengan antusiasnya.


"Iya, nanti biar kakek tanyakan dulu pada karyawan yang masih disana. Kira-kira kapan mereka akan kembali" ucap Kakek Angga sambil mengelus rambut Agung dengan lembut.


Agung sebenarnya tak betah bersekolah disana karena semua siswanya cenderung egois dan ingin menang sendiri. Namun ia tak mungkin minta pindah sekolah karena disana sudah membayar mahal dan Agung tidak boleh menyia-nyiakannya. Ia juga baru beberapa hari sekolah disana masa langsung pindah lagi.


"Kalau ada masalah di rumah atau sekolah, cerita sama abang atau kakek. Siapa tahu kami bisa membantu" ucap Lio dengan bijak.


Kakek Angga menatap cucunya dengan penuh arti. Ternyata Lio jika berada di posisi sebagai seorang kakak mempunyai sifat yang begitu bijak dan dewasa. Kakek Angga kagum karena ternyata cucunya pintar dalam menempatkan dirinya.


"Siap..." seru Agung yang membuat Lio langsung mengacak rambut bocah laki-laki itu.


***

__ADS_1


Dugh... Dugh....


Sialan...


"Bakalan gue balas kau, Nathan" seru beberapa orang yang langsung kabur membawa sepeda motornya saat banyak warga datang.


Nathan tadi tengah dikeroyok oleh beberapa anggota geng motor AREX. Dirinya sempat kuwalahan karena harus melawan sepuluh orang sekaligus. Bahkan kini wajahnya sudah banyak lebam dan tangannya ada goresan panjang dari sebuah pisau. Tak diduga oleh Nathan sebelumnya, ternyata salah satu anggota geng motor AREX membawa sebilah pisau kecil. Beruntung banyak warga yang langsung menolongnya membuat mereka kabur.


"Makasih sudah menolong saya" ucap Nathan sambil memegang lengannya yang berdarah.


Tadi dirinya memang hanya menggunakan kaos lengan pendek jadi mudah saja bagi mereka melukai tangannya dengan pisau. Para warga bahkan langsung membalutkan sebuah kain pada lengan tangan Nathan agar bisa menahan darahnya agar tak keluar banyak.


"Ayo ke rumah sakit saja, nak. Biar bapak antar, itu lukanya dalam sekali" ajak salah seorang warga yang tak tega melihat wajah kesakitan dari Nathan.


"Tidak usah, pak. Biar saya ke rumah sahabat saya saja. Itu rumahnya masuk ke komplek perumahan situ kok" ucap Nathan menolak saran dari warga.


"Baiklah, kalau begitu kami antar saja. Saya tak yakin jika kamu bisa mengendarai sepeda motor dengan seimbang saat kondisi tangannya seperti itu" ucap warga itu.


Akhirnya Nathan menganggukkan kepalanya menyetujui ide yang diucapkan salah satu warga disitu. Dua orang warga mengantar Nathan dengan salah satunya membawa motor pemuda itu. Sedangkan Nathan sendiri diboncengkan oleh salah satu warga dengan motor yang lainnya.


Ternyata dua sepeda motor itu masuk dalam area komplek perumahan milik Kakek Angga. Terbukti dari beberapa anak buah Kakek Angga yang berjaga tadi langsung mengijinkan mereka masuk. Padahal hanya orang tertentu saja yang bisa masuk area itu.


"Terimakasih sudah mengantar saya. Ini ada sedikit untuk beli bensin" ucap Nathan sambil menyelipkan uang di tangan kedua warga itu saat sudah sampai didepan rumah Lio.

__ADS_1


Mereka ingin menolaknya namun dengan kekeh Nathan langsung meminta keduanya untuk menerima. Lagi pula keduanya sudah menolong bahkan sampai merobek kain kaos yang digunakan untuk menahan luka di lengannya.


__ADS_2