
Yudi sedikit ketakutan bahkan kini tangannya yang memegang pistol sudah gemeteran. Tentunya Kala yang ada dalam rengkuhannya juga takut karena bisa saja nanti malah keduanya tertembak akibat kelengahan Yudi. Pamannya ini memang licik kalau sudah berurusan dengan orang banyak namun untuk melawan semua temannya dalam organisasi sendiri tentu mempunyai tantangan tersendiri.
Bugh...
Arrghhhh...
"Sialan... Beraninya main belakang" seru Yudi berteriak kesakitan.
Tiba-tiba saja dari belakang anak buah Kakek Angga langsung memukul tengkuk dari Yudi membuat laki-laki itu dan Kala langsung jatuh tersungkur. Tentunya hal ini dengan mudah membuat semua orang mendekat kemudian ingin menghajar dua pengkhianat itu.
Dor... Dor...
Lio...
Ternyata tangan Yudi yang masih memegang pistol itu langsung saja dengan sigap menembakkannya kearah Lio yang memang ada disana. Semuanya tak menyangka bahkan langsung memundurkan langkahnya karena tembakan tiba-tiba itu.
Semua menahan nafasnya kemudian melihat kearah Lio yang berdiri mematung ditempatnya sambil dipeluk seseorang. Kakek Angga lah yang memeluk Lio dengan erat agar tubuhnya bisa dijadikan tameng buat cucunya. Peluru itu tentu menembus punggung Kakek Angga yang jadi tameng untuk Lio.
Anak buah Kakek Angga langsung saja meringkus Yudi dan Kala bersama dengan pihak berwajib. Sedangkan Nathan langsung menyadarkan Lio agar membawa Kakek Angga ke rumah sakit.
"Lio sadar... Kakek harus segera dibawa ke rumah sakit" ucap Nathan dengan menepuk bahu sahabatnya.
Lio yang tersadar pun langsung memeluk Kakek Angga yang masih terdiam dalam pelukannya. Sedangkan Noval dan Rino serta lainnya langsung membantu membawa Kakek Angga keluar gedung. Nathan langsung mengurus mengenai acara ini terlebih dahulu sebelum nanti menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
"Acara ini dicukupkan sampai disini. Terimakasih atas partisipasinya dan kami selaku panitia meminta maaf atas kejadian yang baru saja terjadi. Semoga ke depannya tak ada lagi pengkhianat pada generasi selanjutnya. Jaga terus silaturahmi dan solidaritas antar sesama anggota agar geng motor LEXON tetap berjaya" seru Nathan kepada beberapa anggota yang masih ada disana.
Prok... Prok... Prok...
Semuanya bertepuk tangan atas kesuksesan acara ini. Walaupun ada tragedi yang menegangkan dan mengerikan namun mereka sedikit menghela nafas lega karena dua pelakunya sudah tertangkap. Mereka semua membubarkan diri namun Nathan langsung terduduk diatas panggung.
Nathan sedari tadi menahan sesak didalam dadanya karena melihat Kakek Angga terlihat lemas dalam pelukan Lio. Harusnya dia yang bisa menyelamatkan Lio juga Kakek Angga namun malah ia ikut lengah. Yuda dan Delan yang memang menemani Nathan disana pun langsung mendekat kearah laki-laki itu.
"Ayo kita ke rumah sakit" ajak Delan mencoba membantu Nathan agar berdiri.
Yuda pun juga langsung membantu Nathan berdiri bersama dengan Delan. Yuda juga merasa bersalah karena selama menjadi wakil ketua geng motor LEXON malah dirinya tak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Harusnya dia bisa ikut membantu yang lainnya bukan malah ketakutan seperti ini.
"Kita harus kuat demi si bos. Dia pasti saat ini sedang panik, kalut, dan khawatir karena kondisi kakek. Kita nggak boleh memperlihatkan kepanikan didepannya karena malah membuatnya semakin kebingungan" ucap Yuda memberitahu.
***
"Gimana keadaan kakek?" tanya Nathan pada Lio yang duduk didepan ruang operasi.
Kakek Angga akan menjalankan operasi untuk mengambil peluru yang ada dalam punggungnya. Hal ini tentu membuat Lio ketakutan apalagi saat tadi melihat kakeknya tak sadarkan diri dalam pelukannya. Sedangkan Rino dan Noval yang notabene sahabat Kakek Angga hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Keduanya emosi karena tak sigap menyelamatkan semuanya.
"Kita harus tunggu sampai operasi selesai" ucap Lio dengan tubuh gemetaran.
Nathan, Yuda, dan Delan duduk di samping Lio dengan terus menguatkan laki-laki itu. Mereka sangat tahu bagaimana berartinya Kakek Angga untuk Lio. Semuanya menunggu didepan ruanh operasi dengan harap-harap cemas. Hanya do'a yang terus mereka lantunkan demi kelancaran operasi Kakek Angga.
__ADS_1
***
Operasi Kakek Angga berjalan dengan lancar bahkan kini beliau sudah ditempatkan pada ruang rawat inap. Noval dan Rino sudah pamit pulang terlebih dahulu karena harus kembali mengurus pekerjaan. Mereka meminta untuk Lio memberitahu tentang perkembangan kondisi kesehatan Kakek Angga melalui pesan pribadi.
Nathan, Yuda, dan Delan memutuskan untuk ikut menunggu di rumah sakit. Mereka tak mungkin membiarkan Lio sendirian disini. Tentunya akan kasihan jika Lio sendirian tak ada yang mendukung dan memberi semangat.
"Tolong jemput Agung sekalian bawakan kami baju ganti" ucap Lio memberi perintah pada salah satu sahabatnya.
Sedari tadi Lio bahkan tak beranjak sama sekali dari samping brankar Kakek Angga. Ia terus menggenggam tangan kakeknya yang terbebas dari infus seakan sangat takut kehilangannya. Ia tak menyangka jika kakeknya akan berkorban nyawa seperti ini agar bisa menyelamatkan dirinya.
Akhirnya Nathan yang pulang menjemput Agung dan membawa baju ganti untuk Lio. Sedangkan Yuda dan Delan dimintanya membeli makanan agar mereka bisa makan bersama-sama nantinya.
"Kenapa kakek malah nyelamatin Lio sih. Harusnya Lio yang ada diatas brankar ini" kesal Lio menyalahkan Kakek Angga.
Ia begitu sedih bahkan pikirannya hingga kini masih kalut. Tak menyangka jika apa yang terjadi hari ini harus menimbulkan korban. Terlebih korbannya adalah kakeknya sendiri. Kalau tahu begini, ia akan langsung menangkap dua orang itu saat mulai datang memasuki gedung.
"Kek, buruan bangun dong. Kakek harus menjelaskan mengapa tadi sampai menyelamatkan Lio. Padahal udah Lio bilang sebelumnya kalau ini urusan anak muda" lanjutnya terus menyalahkan sang kakek.
Tentunya kejadian ini akan ia jadikan pelajaran untuk tak lagi memancing emosi atau masalah dengan seseorang. Ternyata apa yang ia lakukan itu sangat berbahaya terlebih tadi disana banyak anggota yang sudah tua. Kalau mereka kabur tentu tenaganya takkan sekuat yang muda.
Lio segera mengambil ponselnya kemudian menanyakan kabar mengenai dua pelaku. Ia juga meminta anak buah Kakek Angga agar meminta polisi membuka ponsel Kala untuk mengetahui siapa yang bekerjasama dengannya.
Hal ini bisa saja membahayakan kalau rekan Kala itu balas dendam karena laki-laki itu dimasukkan dalam jeruji besi. Bahkan tadi saat Nathan, Yuda, dan Delan pergi saja Lio meminta anak buah kakeknya untuk mengikuti. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tak terduga kepada sahabatnya. Lio menatap kakeknya dengan sendu karena perasaan bersalahnya yang begitu besar.
__ADS_1