Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kembali Ke Kota


__ADS_3

"Baru beberapa jam tak bertemu sudah seperti ini. Kok ada yang berbeda ya, biasanya di desa ini sudah ramai ulah pemuda itu namun saat ini terlihat seperti dulu lagi" gumam Ratu yang kini berjalan menuju sawah.


Ratu kini akan pergi ke sawah untuk membawakan bekal Pak Hakim yang tengah menggarap sawahnya. Sedangkan untuk pembangunan tower jaringan internet itu baru akan berlangsung dua hari lagi karena semua barang-barang yang dibutuhkan didatangkan dari kota. Saat dalam perjalanan menuju sawah, seketika saja Ratu mengingat tentang sosok pemuda yang akhir-akhir ini masuk dalam kehidupannya.


Biasanya pemuda itu yang tak lain adalah Lio selalu mengikutinya saat dia akan ke sawah namun kali ini tak ada lagi. Bahkan keadaan desa juga terlihat sangat sepi padahal dulunya saat masih ada dia pasti ada saja ulahnya. Seketika rasa rindu mulai menelusup dalam relung hatinya namun segera ia tepis itu dengan mengucap istighfar dalam hatinya.


"Ayo semangat Ratu, toh kalau jodoh nggak akan kemana. Kalau nggak jodoh ya dijodoh-jodohin" gumamnya sambil terkekeh geli.


Ia melanjutkan perjalanannya menuju ke sawah yang selama ini juga menjadi tempatnya untuk menenangkan diri. Tak berapa lama, sampailah ia di sawah dengan Pak Hakim sedang mencangkul disana. Ia segera berjalan kembali menuju gubuk yang ada ditengah sawah itu kemudian meletakkan makanan yang dibawanya.


"Ayah... Istirahat dulu" seru Ratu.


Pak Hakim yang mendengar seruan itu langsung menghentikan kegiatannya. Ia segera berjalan kearah gubuk dengan kaki yang masih berlumuran lumpur. Ia beranjak ke sungai sebentar untuk mencuci kaki dan tangannya kemudian kembali lagi ke gubuk.


"Terimakasih sudah membawakan ayah makanan. Ayah kira kamu masih diam di kamar karena galau ditinggal bocah tengil itu pulang ke kota" ucap Pak Hakim dengan sedikit menyindir.


Ratu yang merasa disindir oleh ayahnya itu hanya bisa salah tingkah dan memalingkan wajahnya. Awalnya tadi memang dirinya berdiam di kamar setelah kepergian Lio namun kemudian ia sadar kala kehidupannya masih lah berjalan walaupun tanpa laki-laki itu.


"Ngapain juga ngegalauin Lio, ayah. Kan Ratu nggak ada hubungan atau perasaan apa-apa pada dia. Rasa cinta ini hanya akan ku persembahkan untuk Allah dan suamiku kelak" ucap Ratu meyakinkan diri.

__ADS_1


Pak Hakim hanya menganggukkan kepalanya berusaha tak mau ikut campur terlalu dalam. Lagi pula ia yakin jika anaknya takkan melanggar apa yang sudah diatur oleh agama. Terlebih saat ini keduanya tak bisa berkomunikasi dan bertemu secara intens seperti saat Lio disini. Pak Hakim sedikit tenang dengan keadaan ini karena setidaknya ia takkan terlalu mengekang anaknya itu saat keluar rumah.


***


Butuh waktu satu hari untuk Lio dan Kakek Angga bersama dengan rombongannya yang lain sampai di kota. Perjalanan yang mungkin hanya butuh waktu sekitar 3 atau 4 jam itu ternyata molor karena ada beberapa kendala. Terlebih Agung yang mabuk perjalanan dan mereka harus sering istirahat. Lio tak menyangka jika jarak rumahnya dengan desa itu sangat jauh karena saking paniknya malam itu membuatnya tak sadar jika memacu kendaraannya begitu lama.


"Akhirnya sampai juga di rumah" ucap Lio yang langsung menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya.


Bahkan Kakek Angga juga duduk disana bersama dengan Agung, sedangkan Pak Alam sendiri harus tinggal berbeda tempat dengan anaknya. Pak Alam harus lah menjalani latihan fisik dan bela diri mulai esok untuk menjadikannya anak buah Kakek Angga yang tangguh. Sedangkan Agung diminta oleh Lio agar tinggal di rumahnya agar ia ada yang menemani saat nanti kakeknya bekerja.


Pak Alam pun mengijinkannya terlebih tempat mereka tinggal hanyalah berbeda dua rumah saja sehingga ia bisa menengok anaknya. Nanti saat ia sudah pantas menjadi anak buah Kakek Angga, ia akan tinggal di bagian belakang rumah utama yang ditempati oleh Agung. Demi masa depan anaknya yang lebih baik, ia rela melakukan apapun.


"Besok-besok Agung pakai sepeda saja biar nggak mabuk kaya gini" ucap Agung dengan badan masih lemas.


"Ini minumnya, den Lio" ucap salah satu ART yang memang sudah ikut Lio sejak lama, Mbok Lala.


"Makasih mbok" ucap Lio.


Mbok Lala menganggukkan kepalanya kemudian pergi dari ruang tamu. Ketiganya segera saja minum teh hangat yang sudah disediakan oleh Mbok Lala. Seketika tenggorokan dan perut yang terasa dingin itu hangat seketika setelah teh itu masuk dalam mulut mereka.

__ADS_1


Setelah mengistirahatkan badannya sejenak, mereka akhirnya masuk kedalam kamar masing-masing. Lio sudah meminta Mbok Lala untuk menyiapkan kamar untuk Agung. Agung begitu bahagia karena mempunyai kamar sendiri bahkan sangat luas. Padahal sebelumnya ia selalu tidur dengan bapaknya karena hanya punya satu kamar. Bahkan kasurnya begitu empuk tak seperti milik dirinya dulu.


"Bismillah... Kehidupan baru, semoga bapak bisa sukses di kota ini agar bisa membuktikan pada mamak kalau kehidupan kami bisa lebih baik" gumam Agung berharap.


***


"Agung, ayo makan dulu" panggil Lio dari luar pintu kamar yang ditempati oleh bocah laki-laki itu.


Setelah masuk kamar tadi Lio langsung membersihkan tubuhnya kemudian mengistirahatkan badannya sebentar diatas kasur. Ia juga bermain dengan ponselnya sebentar untuk melihat banyaknya pesan dan panggilan tak terjawab yang ia terima dari sahabat dan juga pacar-pacarnya.


Lio membiarkan hal itu bahkan tak membalas satu pun karena ia ingin besok membuat kejutan besar untuk semua sahabatnya di markas. Lio meletakkan kembali ponselnya kemudian berjalan keluar kamar karena sebentar lagi akan diadakan makan malam. Namun sebelum itu ia memanggil Agung terlebih dahulu.


Ceklek...


"Iya, bang. Maaf tadi Agung sempat ketiduran" ucap Agung tak enak hati karena membuka pintunya lumayan lama.


"Tak apa, lagi pula kau pasti lelah karena perjalanan jauh" ucap Lio memaklumi.


Lio segera saja menggandeng tangan Agung untuk menuju ruang makan. Ini lah alasan Lio harus menemui Agung dahulu karena bocah laki-laki itu pasti tak tahu dimana letak ruang makan. Sesampainya di ruang makan, ternyata Kakek Angga sudah duduk disana menunggu kedatangan cucunya.

__ADS_1


"Ayo makan" ucap Kakek Angga.


Keduanya mengangguk kemudian segera saja mereka makan dalam keadaan hening. Agung dan Lio begitu lahap menyantap makanan yang disediakan diatas meja pasalnya sudah lama keduanya tak makan dengan menu seperti ini. Terutama Agung yang begitu antusias dengan makanan yang belum pernah dicobanya.


__ADS_2