
Kakek Lio yang bernama Anggara Sanggawa atau yang biasa dipanggil Kakek Angga itu benar-benar pusing karena kehilangan jejak cucunya. Lio yang biasanya sangat mudah ia temukan keberadaannya, kali ini lumayan sulit karena posisi maps yang berubah-ubah. Terlebih jarang adanya sinyal di ponsel Lio membuatnya susah untuk dicari.
Informasi terakhir dari Yuda, sahabat cucunya yang dihubungi jika Lio tersesat di desa Ra entah apa kelanjutannya itu membuat adanya sedikit kelegaan di hati pria paruh baya itu. Setidaknya kondisi Lio baik-baik saja walaupun berjanji akan pulang satu bulan lagi namun ada kekhawatiran dalam hati Kakek Angga. Walaupun Lio hampir setiap hari membuatnya serangan jantung karena tingkahnya, namun ia begitu sayang pada cucu satu-satunya itu.
"Yuda, kumpulkan semua anggota LEXON. Kakek ingin kalian menyebar ke seluruh desa yang berawalan dari "Ra" untuk mencari keberadaan Lio. Harus ada yang ngurusin tuh restorant milik kakek" keluh Kakek Angga.
Melalui sambungan ponselnya, Kakek Angga menghubungi Yuda yang notabene adalah wakil ketua dari anggota geng LEXON yang untuk sementara ini mengatur semua yang ada pada organisasi itu. Bahkan kakek Angga setelah mengeluh akan hal itu langsung saja menutup panggilannya membuat Yuda tercengang.
"Pantas saja Lio selalu kesal jika berbincang dengan kakek. Orangnya aja suka nyuruh seenaknya gini" gerutu Yuda sambil mengelus dadanya sabar.
Yuda pun dengan segera mengumpulkan semua anggotanya di rumah yang mereka jadikan markas. Tak berapa lama, beberapa orang dengan menggunakan motor besarnya mulai berdatangan ke markas itu. Yuda segera menyerukan perintah dari Kakek Angga agar pria paruh baya itu nantinya tak mengomeli terus.
"Semuanya... Seperti yang kalian tahu kalau ketua kita saat ini sedang tak bisa ditemukan. Tadi Kakek Angga memintaku untuk kita menyusuri beberapa desa yang berawalan dengan "Ra" sesuai dengan petunjuk yang Lio kasih waktu itu" ucap Yuda dengan tegas.
"Kita kumpulkan daftar desanya lalu bagi dengan adil anggota yang ada untuk nantinya menyebar" lanjutnya.
"Siappp..." jawab semuanya dengan semangat.
Mereka pun langsung saja bergerombol membentuk beberapa kelompok kemudian mencari apa yang disuruh oleh wakil ketuanya. Semuanya saling bekerjasama dengan anggota yang lainnya untuk menemukan titik terang dimana letak ketua mereka berada.
***
"Sudah ada 5 desa yang berawalan dari kata "Ra" yang ada di daerah ini. Kita harus mencarinya dulu daerah mana saja yang masih belum maju sehingga belum ada jaringan internet. Ini dilihat dari kondisi si bos yang memang susah sinyal" ucap Yuda menganalisa.
__ADS_1
Semua mendengarkan ucapan dari Yuda dengan seksama. Memang benar adanya jika mereka harus mencari informasi masing-masing daerah agar tak terlalu banyak mencari disana yang malah berakhir sia-sia dan capek tenaga. Mereka akhirnya terus berdiskusi hingga menemukan kemungkinan jika Lio berada di desa itu.
Setelah menentukan dua desa yang akan mereka tuju, akhirnya Yuda membagi anggotanya menjadi tiga kelompok. Dua kelompok untuk menyusuri desa sedangkan yang sisanya menjaga markas karena bisa saja jika tiba-tiba ada lawan yang menyerang karena mengetahui semua orang tengah fokus pada Lio.
***
"Kok ada yang aneh ya? Seperti akan ada sesuatu yang terjadi" gumam Lio merasakan perasaan tak enak.
Kini Lio tengah berbaring di lantai ruang tamu yang beralaskan tikar tipis. Semenjak disini hidupnya terasa lebih santai bahkan tak ada beban sama sekali. Bahkan saat berada di kota, ia merasa hidupnya begitu tertekan dengan segalam macam aturan dari sang kakek. Dimulai harus memikirkan usaha restorant yang dibangun kakeknya demi kelangsungan hidup sang cucu.
"Ternyata kangen juga sama kakek" gumamnya.
Tiba-tiba saja Lio terbangun dari baringannya dengan tiba-tiba saat mendengar suara orang minta tolong. Bahkan banyak suara langkah kaki warga yang seperti mengejar sesuatu. Buru-buru Lio keluar dari rumah kontrakannya untuk melihat apa yang terjadi.
"Copet...." seru Bapak-bapak yang mengejar.
Bahkan bapak-bapak yang merupakan warga desa itu sudah terengah-engah mengejar pencopet muda yang larinya begitu gesit. Lio pun menutup pintu kontrakannya kemudian ikut warga lainnya untuk mengejar pencopet itu.
"Wah... Sore-sore pada olahraga lari" ucap Lio bercanda.
"Olahraga gundulmu itu. Kamu itu anak muda, buruan sana kejar itu pencopet" ketus Pak Hakim yang mendengar ocehan Lio barusan.
"Asiaaapppp... Kalau pencopetnya ketangkap, sebagai imbalannya restui Lio buat jalin cinta sama anakmu ya pak ustadz" seru Lio kemudian berlari dengan cepat.
__ADS_1
"Bocah edan..." seru Pak Hakim kesal.
Lio berlari meninggalkan beberapa warga yang sudah kelelahan mengejar pencopet itu. Terutama meninggalkan Pak Hakim yang siap menerkamnya karena berbicara asal. Sedangkan Pak Hakim menggerutu panjang pendek karena selalu frustasi menghadapi Lio. Apalagi sampai harus merestui anaknya didekati oleh bocah tengil itu, ia takkan membiarkan semua itu terjadi.
Tak berapa lama, Lio datang dengan membawa seorang bocah laki-laki yang berumur sekitar 12 tahun itu. Bahkan dompet yang ada di tangan bocah itu tadi sudah ia bawa. Para warga yang duduk didekat balai desa itu pun langsung mendekat kearah Lio yang menggandeng pencopet itu.
"Eitssss... Jangan asal mau pukul dan main hakim sendiri" seru Lio saat melihat para warga hendak menghajarnya.
Sedangkan bocah laki-laki itu tampak menundukkan kepalanya dibalik tubuh Lio karena ketakutan akan diamuk oleh warga. Sedangkan Lio berusaha menghalangi warga yang ingin merangsek kearah pencopet yang ada dibelakangnya.
"Ini dompetnya, kayanya isinya juga belum sempat diambil" lanjutnya sambil menyerahkan dompet yang ada digenggaman tangannya.
Pemilik dompet itu maju kemudian mengambil dompet itu dengan begitu kasarnya. Sikap seperti ini sangat tak disukai oleh Lio terlebih laki-laki itu sepertinya juga seumuran dengannya. Bahkan ia tak mengucapkan terimakasih sama sekali padanya.
"Oh... Dompet gue yang isinya banyak duit ini untungnya masih utuh" ucap pria itu dengan sedikit sinis.
Lio yang kesal pun mengambil dengan kasar dompet yang ada di tangan pemuda itu. Ia membuka dompet yang kelihatan tipis itu membuat mulutnya menganga lebar.
"Isi cuma satu lembar uang seribu gini aja ribut sampai mau ngejar pencopetnya" kesal Lio yang merasa dibodohi.
Pemuda itu malu karena tangan Lio yang begitu gesit membuatnya tak bisa mengelak jika ia dengan cepat bisa membuka dompet. Semua warga disana juga shock melihat apa yang ada didalam dompet itu. Mereka merasa ditipu oleh pemuda yang berteriak pencopet tadi hingga pelakunya langsung kabur karena takut diamuk warga.
"Sialan..." seru warga mengejar pemuda yang mempunyai dompet itu dengan wajah memerah menahan amarah.
__ADS_1