
"Tolong kalau mau fitnah orang itu lihat-lihat. Katanya setiap hari dengarin ceramah di masjid, tahu kan kalau fitnah itu perbuatan dosa? Kok masih dilakuin aja. Apa ceramahnya cuma masuk telinga kanan dan keluar dari kiri ya?" ucap Lio dengan pedasnya.
Baginya melawan Mpok Yati ini haruslah sabar dan mode tenang. Ia tak mungkin menggunakan kekerasan karena menghadapi seorang wanita. Kalau ia sampai menghajar seorang wanita maka dia bukanlah laki-laki gentle. Ia memang suka kekerasan namun dirinya tak mau jika berhadapan dengan seorang perempuan.
Mpok Yati terlihat geram karena merasa direndahkan oleh Lio. Bahkan ini sudah menyangkut tentang kegiatan keagamaan yang selama ini ia ikuti. Dalam hatinya ia merasa bersalah dan takut karena telah melakukan fitnah pada oranglain namun egonya ternyata lebih kuat. Ia ingin sekali menendang Lio dari desa ini.
Entah karena sebab apa Mpok Yati sampai membenci Lio hingga seperti ini. Kemungkin besar ia iri dengan apa yang dipunyai oleh Lio tak sama dengan yang dimiliki oleh anak-anaknya. Anak-anaknya tiga laki-laki semua namun hanya lulusan SMP saja karena keterbatasan biaya. Bahkan mereka kini bekerja di ladang sebagai buruh dan tak mempunyai kendaraan bagus. Hal ini memicu sifat iri karena melihat pemuda seusia anaknya sudah mempunyai sepeda motor yang mahal.
Bahkan Lio juga sudah bisa membantu beberapa warga disini dengan kecerdasannya. Ia juga bisa mendekati anak dari Pak Hakim yang diharapkan bisa menjadi salah satu calon istri putranya. Makanya waktu itu ia memilih untuk memfitnah Ratu yang berbuat berlebihan sikapnya pada Lio agar Pak Hakim menjauhkan keduanya.
"Saya nggak punya telinga, makanya nggak dengar kalau ceramah" ucap Mpok Yati dengan percaya dirinya.
"Lah... Itu yang ada di kepala itu apa? Kalau bukan telinga boleh lah kalau itu saya ambil lalu potong-potong dan jadikan soup?" tanya Lio dengan seringaian mengerikan.
Mpok Yati dan rekan-rekannya pun langsung saja memundurkan posisinya berdiri. Mereka memundurkan langkahnya dan menatap Lio dengan bergidik ngeri. Mereka tak menyangka jika Lio sudah seperti seorang psikopat yang siap memotong-motong tubuh semuanya. Kakek Angga hanya diam sambil menikmati pemandangan yang ada didepannya. Ternyata mulut pedas Lio ada tandingannya di desa ini yaitu Mpok Yati.
"Jangan macam-macam kamu atau saya teriak biar warga disini keroyok kamu" seru Mpok Yati kesal.
__ADS_1
Mpok Yati benar-benar ketakutan jika memang apa yang diucapkan oleh Lio itu benar adanya. Bahkan teman-temannya yang sudah terpojok hanya terus mendorong Mpok Yati agar segera menyelesaikan masalahnya. Mereka tadi sudah memperingatkan namun Mpok Yati tetap saja tak mau mendengarkan.
"Saya nggak takut. Lagi pula sekarang warga disini juga takkan percaya sama omongan anda, orang tukang fitnah gitu kok dipercaya" ucap Lio sarkas.
Mpok Yati terdiam kemudian memilih kabur dengan melompat keluar dari teras rumahnya kemudian berlari masuk lewat samping. Gerakan tiba-tiba dari Mpok Yati itu benar-benar membuat terkejut teman-temannya. Bahkan Mpok Yati dengan hebatnya menarik keatas gamisnya agar mudah bagi dirinya untuk melompat.
Rasanya Lio ingin tertawa melihat tingkah dari Mpok Yati yang lari terbirit-birit hanya karena takut dengan ancamannya. Bahkan teman-temannya kini juga mengikuti cara Mpok Yati untuk keluar dari teras rumah wanita itu. Mereka semua tergopoh-gopoh lari pulang ke rumahnya masing-masing.
"Mpok, bukan hanya telinga anda yang saya bikin soup kalau sampai anda memfitnah saya atau yang lainnya. Lidah dan mulut itu juga bahkan mungkin tenggorokan anda akan saya gorok" seru Lio berteriak didepan rumah Mpok Yati.
Kakek Angga langsung menepuk bahu kedua cucunya secara bergantian untuk menenangkan Lio. Ia tahu jika cucunya itu berusaha untuk menetralkan emosinya yang ingin meledak. Mungkin hanya melihat wajah Mpok Yati tadi saja sudah ingin rasanya Lio menampar atau menonjoknya namun ia berusaha menahannya.
"Jangan buang tenagamu untuk menanggapi orang tak penting" lanjutnya.
Kakek Angga segera saja menarik tangan Lio untuk segera pergi dari rumah Mpok Yati. Sedangkan Mpok Yati langsung mengintip lewat gorden yang menutupi jendelanya untuk memastikan kepergian Lio. Dirinya benar-benar ketakutan dengan ancaman yang Lio lontarkan itu. Mungkin untuk beberapa hari ke depan dia takkan pernah mau untuk keluar dari rumah.
***
__ADS_1
"Adin..." panggil Lio saat melihat Adin ada di seberang jalan dengan duduk menatap box berisi donatnya.
Lio dan Kakek Angga yang memang tadi sedang berjalan berdua untuk mencari lahan kembali ternyata tak sengaja melihat Adin. Adin tengah duduk di pinggir jalan dengan box yang biasanya ia gunakan untuk membawa donat didepannya. Namun ada yang aneh, disekitarnya ada donat-donat yang berceceran.
Adin yang mendengar ada suara yang memanggil dirinya pun sontak saja menegakkan kepalanya. Ia tak menyangka jika di seberang sana ada Lio. Lio tahu jika itu Adin karena box donat yang dibawa itu ada tulisan nama bocah laki-laki itu. Lio dan Kakek Angga segera saja menyeberangi jalanan kemudian berjongkok dihadapan Adin.
"Kamu kenapa disini? Bukannya ini sudah waktunya pulang sekolah" tanya Lio dengan tatapan penasaran.
Terlebih Adin wajahnya terlihat berantakan karena sehabis menangis. Lio memindai badan Adin dari atas ke bawah bahkan bocah laki-laki itu tak menggunakan sepatunya. Ia menatap Adin seakan meminta penjelasan dengan apa yang terjadi.
"Tadi Adin waktu mau pulang dihadang sama bapaknya Agung. Bapaknya Agung itu preman di pasar, mereka ngambil sepatu juga sepeda Adin. Adin tadi dipegangi kuat banget padahal udah ngelawan. Aku ngerasa bersalah nggak bisa jaga amanah yang kak Lio berikan" ucap Adin yang langsung menangis setelah menjelaskan.
"Bahkan box donatnya di tendang sama mereka hingga pada jatuh semua isinya" lanjutnya.
Lio dan Kakek Angga yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau sepeda mungkin bisa saja diambil karena ingin tetapi ini sepatu juga. Lio segera membantu Adin berdiri kemudian membawa box donatnya sedangkan isinya mereka biarkan.
"Sudah tak apa, nanti kita beli lagi sepatu sama sepedanya. Tapi kita harus menemui dulu itu orang-orang yang ngambil bukan haknya" ucap Kakek Angga.
__ADS_1
Adin dan Lio menganggukkan kepalanya walaupun bocah laki-laki itu takut dengan bapaknya Agung yang konon adalah preman pasar. Namun ia kini bersama dengan Lio dan Kakek Angga yang mungkin bisa membantunya.