Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Pertolongan


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Adin dan ibunya, Lio memilih untuk keluar dari rumahnya. Malam hari saatnya orang-orang istirahat, namun Lio memilih untuk bergabung pada bapak-bapak dan pemuda disana. Ia akan melakukan ronda malam yang mungkin jarang ada di kota besar karena kebanyakan di perumahan sekitarnya sudah ada seorang satpam yang berjaga.


"Sini den, ngopi-ngopi" ajak salah satu bapak-bapak yang melihat kehadiran Lio.


Lio tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya mengerti kemudian berjalan mendekat kearah pos ronda. Disana sudah ada beberapa bapak-bapak yang berkumpul sambil berbincang seru. Semua akan keliling desa ini sekitar pukul 10 nanti untuk memeriksa keamanan desa.


"Kok tumben cuma ada bapak-bapak? Biasanya ada pemudanya juga" ucap Lio sambil bertanya.


"Mungkin mereka pada molor soalnya besok kan ada yang sekolah" jawab salah satu bapak-bapak.


Lio bingung akan apa yang akan dikerjakannya disini pasalnya jika berbincang dengan bapak-bapak pasti tidak akan nyambung. Lio pun akhirnya memilih untuk bermain game saja di ponselnya. Walaupun yang dimainkannya bukan lah game online yang selama ini ia mainkan.


Tak berapa lama duduk, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkeliling desa dengan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan kearah selatan, sedangkan yang lainnya ke utara. Mereka pun akhirnya bergegas mengelilingi desa dengan berjalan kaki.


"Wah... Pak Hakim kok di teras sendirian?" sapa salah seorang bapak-bapak.


Lio ditemani oleh beberapa warga berjalan menuju arah utara yang disana ternyata melewati rumah Pak Hakim. Melihat Pak Hakim berada di terasnya sambil duduk dengan ditemani kopi hitam pun membuat semua warga menyapanya, kecuali Lio. Entah mengapa kali ini Lio seperti tak bersemangat.


Bahkan Lio masih teringat dengan kalimat yang diutarakan oleh Ratu saat tadi datang ke kontrakannya membawa makanan. Hanya untuk bertatap wajah dengannya pun kini ia malu. Ternyata kehadiran Ratu dalam hidupnya sungguh mengubahnya menjadi sosok yang pemikir. Biasanya Lio tak pernah berpikir jika ingin melakukan sesuatu atau mendengar ucapan seseorang namun kali ini baru dtegur oleh Ratu saja sudah mulai berbeda arah pemikirannya.

__ADS_1


"Iya nih, mumpung nggak kebagian jaga ronda. Lho ada nak Lio to? Biasanya kalau lihat saya pasti langsung ngoceh kok sekarang jadi pendiam sih" sindir Pak Hakim.


"Mungkin lagi sariawan, pak" ucap salah satu bapak-bapak sambil terkekeh.


Bahkan hampir semua bapak-bapak tertawa mendengar jawaban dari salah satu mereka itu. Sedangkan Lio hanya menanggapinya dengan senyuman tipis saja. Lio sedari tadi menghela nafasnya kasar karena perasaannya semakin tak enak.


"Tolong... Tolong..."


Saat mereka sedang berbincang didepan rumah Pak Hakim, tiba-tiba saja ada suara teriakan meminta tolong. Semua warga yang mendengarnya pun langsung menghentikan perbincangannya. Mereka memasang telinganya baik-baik begitu juga dengan Lio dan Pak Hakim. Mereka berjalan pelan-pelan sambil mencari darimana letak suara yang terdengar itu.


"Sepertinya ini di belakang rumah Pak Hakim" ucap Lio menduga-duga.


"Ratu..." seru Lio menatap tak percaya kearah area belakang rumah Pak Hakim.


Semua orang langsung mengarahkan pandangannya kearah apa yang dilihat oleh Lio melalui bantuan cahaya senter ponselnya. Semua juga langsung menyorotkan senternya kearah yang mereka tuju bahkan Pak Hakim juga sampai menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya.


Ratu anaknya bergelantungan di sebuah sumur dengan bantuan pegangan pada bata yang disemen. Entah bagaimana caranya Ratu bisa sampai bergelantungan disana pada malam hari begini. Memang selama ini sumur yang dimiliki Pak Hakim ini masih terbuka dengan pembatas atasnya hanyalah batu bata yang disemen rendah. Kemungkinan besar Ratu terpeleset atau tertarik saat menimba air karena tangannya licin.


Semua langsung masuk kedalam area belakang rumah Pak Hakim melewati pintu yang memang ada disana. Beruntung mereka bisa langsung masuk lewat pintu belakang kalau melalui jalan depan maka akan semakin lama untuk menyelamatkan Ratu.

__ADS_1


Bahkan Pak Hakim sampai gemeteran badannya hingga harus dipapah dua orang warga. Pak Hakim shock dan terkejut karena melihat anaknya berada diantara hidup dan mati. Bayang-bayang kehilangan sang istri berputar dalam otaknya saat melihat Ratu bergelantungan seperti itu.


"Ayo pegang tanganku" seru Lio memegang telapak tangan Ratu yang masih menggenggam pegangan batu bata itu.


Ratu menggelengkan kepalanya dengan wajah basah air mata. Ratu masih mengingat tentang apa yang diucapkan ayahnya kalau ia tak boleh bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia takut jika nanti Allah dan ayahnya marah karena tak mengikuti ajaran agamanya.


"Kalau kau mau ku bantu, ayo pegang" kesal Lio karena tak kunjung mendapatkan respons.


"Nggak apa, nak. Pegang saja tangannya nak Lio, ini keadaannya darurat lho" ucap salah satu bapak-bapak yang mengerti kalau Ratu tak mau berpegangan tangan dengan mahramnya.


Sedangkan Pak Hakim yang sudah lemas mengingat keadaan putrinya malah hampir pingsan. Ia sangat lah lemah jika sudah berhadapan dengan kehilangan. Beberapa warga bahkan berteriak agar Ratu mau memegang tangan Lio karena disana yang muda hanya lah dia sehingga tenaganya lebih kuat untuk menyelamatkan gadis itu. Akhirnya Lio yang dibisiki oleh salah satu warga jika tentang Ratu yang tak mau bersentuhan dengan bukan mahramnya pun akhirnya membuka jaketnya.


Ia memasukkan sedikit tangannya pada lengan jaket sehingga tak kelihatan. Ia segera menyerahkan tangannya yang sudah terbungkus jaket kearah Ratu. Seakan mengerti kode yang diberikan oleh Lio, Ratu pun memegang tangan pemuda itu. Dengan sekuat tenaga, Lio menarik tubuh Ratu dengan balutan jaket. Balutan kain jaket itu membuatnya sedikit susah untuk menarik sesuatu namun ia tak menyerah demi menyelamatkan nyawa orang.


Sedangkan para warga yang memang kekuatannya tak sebanding dengan Lio hanya bisa menyaksikan proses menolong Ratu itu dengan membantu menyinari cahaya disekitarnya. Ada juga yang langsung menarik Lio ke belakang agar nanti pemuda itu tak ikut-ikutan melucur ke sumur.


"Ayo sedikit lagi" seru Lio kepada Ratu.


Sepertinya Ratu sudah merasa lemas karena sedari tadi menangis dan berteriak. Bahkan walaupun dia hanya diam dan ada yang menariknya namun ia berusaha untuk membantu agar bisa menaikkan tubuhnya keatas. Tak berapa lama, Ratu berhasil naik keatas dengan digendong oleh Lio.

__ADS_1


Semua yang ada disana menghela nafasnya lega karena Ratu berhasil dinaikkan keatas. Lio bahkan langsung menggendong Ratu dengan membawanya kedalam rumah diikuti oleh yang lainnya. Sedangkan Pak Hakim yang juga lemas kini dipapah kembali untuk berjalan ke rumahnya.


__ADS_2