
Kampus begitu heboh dengan kedatangan beberapa polisi bersama dengan Kakek Angga, Lio, dan sahabat-sahabatnya. Sorot wajah mereka terlihat sangat datar dan dingin. Para mahasiswa yang sangat penasaran dengan kehadiran mereka hanya bisa memantaunya dari jauh karena takut dengan tatapannya. Mereka ingin tahu namun tak berani untuk bertanya.
Rombongan itu langsung menuju ke gedung rektor yang memang satu area dengan kampus itu. Bahkan para mahasiswa kini langsung mengikuti rombongan itu untuk mencari tahu. Semua kelas ternyata khusus hari ini dikosongkan akibat kejadian ini. Awalnya mereka semua sudah masuk di kelas, namun tak berapa ada pengumuman kalau jadwal kuliah hari ini diliburkan.
"Itu bukannya pemilik kampus ini? Akhirnya sekarang muncul juga, bahkan kemarin media sosial salah satu organisasi update langsung lho tentang beliau" ucap salah satu mahasiswa dengan rekannya.
"Lalu itu yang belakang siapa? Mahasiswa sini kah? Kok gue belum pernah lihat" tanya salah satu temannya.
"Iya, dia mahasiswa baru. Yang berjalan disamping pemilik kampus itu, cucunya" ucap salah satu panitia ospek tiba-tiba.
Sontak saja ucapan dari salah satu panitia ospek membuat sekitar tempat itu menjadi riuh. Segera saja mereka mengabadikan semua gerak-geriknya dengan kamera ponsel. Para panitia ospek yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala terlebih mendengar rekannya malah memberitahu semua mahasiswa disana. Padahal sudah diperingatkan kalau identitas Lio itu rahasia khusus dosen dan panitia ospek saja.
Namun jika sudah tersebar seperti ini, pasti akan langsung menyebar dengan cepat dikalangan seluruh kampus. Para panitia ospek yang lainnya pun langsung mengangkat tangannya pasrah. Mereka juga tak mau ikut campur jika nantinya orang itu mendapatkan masalah setelah memberitahukan identitas Lio. Mereka segera saja pergi untuk mencari tahu apa yang terjadi ke gedung rektor.
***
"Itu kok pemilik kampus dan Lio bawa polisi ya kesini" seru Meli yang melihat kedatangan mereka dari lantai 2.
__ADS_1
Setelah melihat kedatangan rombongan itu, ia segera saja memanggil Salwa dan Ratu untuk memberitahukan informasi ini. Keduanya yang memang memilih duduk di kelas untuk sekedar berbincang dengan teman sekelasnya itu pun langsung saja heboh. Bahkan teman-temannya yang lain langsung saja berlari kearah pagar pembatas di lantai 2 untuk melihat kebenaran itu.
"Masa iya yang debat kemarin sama Lio dilaporkan ke polisi" ucap Salwa dengan dahi yang mengernyit heran.
"Kayanya nggak mungkin deh. Lio bukan tipe orang yang suka main lapor gitu, dia lebih memilih senggol gampar" ucap Ratu sambil menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Kalau gitu, kita kesana aja yuk. Cari informasi" ajak Meli.
Keduanya pun menganggukkan kepalanya setuju kemudian berjalan mengikuti mahasiswa lain yang berbondong-bondong menuju ke gedung rektor. Padahal ini hal yang sepertinya memalukan namun mereka tentunya tak peduli. Yang terpenting mendapatkan informasi update.
***
Sedangkan didalam sebuah ruangan, seorang rektor terkejut dengan kehadiran pemilik kampus ini dengan beberapa polisi dan mahasiswa. Bahkan beberapa petinggi penting juga datang berbondong-bondong seperti sedang akan terjadi rapat besar. Semuanya kini sudah duduk di kursinya masing-masing dengan Kakek Angga yang memimpin pertemuan ini.
"Disini saya ingin menindaklanjuti mengenai laporan pembullyan yang terjadi pada salah satu mahasiswa kampus ini. Sepertinya rektor kita ini sudah tak sanggup untuk mengatasi kasus pembullyan yang ada di kampus ini, sampai-sampai laporan mahasiswa tak digubris. Tolong jangan main-main di kampus saya karena saya takkan membiarkannya" ucap Kakek Angga sambil terkekeh sinis.
Tentunya para oknum yang bermain di kampus ini langsung tertohok hatinya. Wajah-wajah itu terlihat pucat bahkan tak jarang mereka langsung mengalihkan wajahnya untuk melihat rekannya. Semuanya bahkan gugup sendiri karena sepertinya kali ini ulah mereka akan ketahuan, terutama yang menggunakan kekuasaannya.
__ADS_1
"Maksud anda kasus pembullyan apa? Disini tak ada pembullyan" tanya rektor kampus yang bernama Pak Alim itu kebingungan.
Bahkan kini wajah Pak Alim menatap semua petinggi kampus sekaligus para donatur. Kakek Angga tahu kalau rektor ini alias Pak Alim tidak tahu menahu mengenai kasus ini. Hal ini dikarenakan semua diselesaikan oleh beberapa oknum dosen yang curang dan para donatur kampus ini. Tentunya mereka takkan pernah melaporkan masalah ini hingga sampai ke rektor.
"Pembullyan yang mengakibatkan salah satu mahasiswa kampus ini depresi. Dikurung di gudang selama berhari-hari di tempat gelap dan tidak diberi makanan. Padahal mahasiswa itu tahu kalau yang dibullynya mempunyai trauma dan phobia akan gelap. Bahkan kini mahasiswa itu harus berakhir di rumah sakit jiwa.
Kakek Angga mengetahui hal ini beberapa bulan yang lalu saat dirinya singgah ke kampus ini. Tak sengaja ia melihat sepasang suami istri tengah menangis didekat parkir mobil. Ia pun langsung mendekatinya kemudian menanyakan apa yang terjadi.
"Permisi pak, bu. Mengapa menangis disini? Apa kalian tersesat?" tanya Kakek Angga dengan penasaran.
"Tidak. Kami kesini ingin menuntut keadilan untuk anak saya yang dibully di kampus ini hingga depresi. Kami sudah melaporkan pada dewan pembimbing, namun sedari kemarin hanya diproses tapi tak ada kelanjutannya. Seharusnya pembullynya dihukum, namun sampai saat ini pihak kampus hanya bilang masih dicari" ucap ibu-ibu bercerita sambil bercucuran air mata.
Akhirnya Kakek Angga meminta mereka untuk menjelaskan kronologinya, oknum-oknum yang saat pelaporan mereka ada disana, dan hasil pemeriksaan dokter. Setelah semua bukti dikantongi, Kakek Angga berjanji akan memberikan hukuman berat pada pelaku. Bahkan orangtua dari korban juga sudah ada di gedung itu, hanya saja masih disembunyikan.
Semuanya terkejut ketika mendengar jawaban dari Kakek Angga. Bahkan Pak Alim yang tidak tahu menahu pun langsung menatap kearah semua orang yang hadir disana. Ia tak menyangka, kejadian besar seperti ini ternyata luput dari pengawasannya.
"Lio, bawa kedua orangtua korban" titah Kakek Angga.
__ADS_1
Lio menganggukkan kepalanya kemudian bersama dengan Yuda berjalan keluar untuk memanggil orangtua korban. Semuanya terlihat ketar-ketir apalagi beberapa dewan pembimbing dan pengawas kampus. Tentunya mereka harus lebih bertanggungjawab karena orangtua korban itu dulunya melaporkan kejadiannya pada orang-orang itu.
Tak berapa lama, orangtua korban datang dengan wajah emosi. Bahkan pandangan matanya langsung menghunus kearah beberapa oknum yang dulu seperti lepas tangan. Mereka tak menyangka kalau ternyata keduanya bisa bertemu lagi dengan orang-orang itu. Demi anaknya, mereka rela melakukan apapun bahkan kalau harus berkorban nyawa sekalipun.