Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Reuni Akbar


__ADS_3

Hari ni merupakan acara reuni akbar yang akan diselenggarakan oleh geng motor LEXON. Semua persiapan sudah siap 100% bahkan grup semua anggota geng LEXON dari beberapa generasi sudah ramai sejak pagi. Pasalnya dua jam sebelum acara dimulai, Lio dan Nathan menyebarkan scan barcode khusus untuk anggota yang bisa masuk dalam gedung acara di chatt pribadi masing-masing. Tentunya hal itu membuat gaduh semua anggota di grup mempertanyakan kebenaran ini.


"Satu scan barcode ini hanya bisa dipergunakan untuk satu orang. Tidak bisa membawa anak, istri, gebetan, teman, atau selingkuhan".


Begitulah tulisan yang ada di pesan pribadi yang dikirimkan oleh Lio dan Nathan. Entah bagaimana keduanya mengirimkan hal itu ke ribuan anggota dalam waktu satu jam saja. Tentunya itu dibantu oleh Agung dan anak buah Kakeknya. Tentunya beberapa pesan akan sampai berbeda waktu untuk setiap orangnya karena memang barcode itu sudah ada namanya masing-masing.


"Gokil... Tangan gue pegel ngirim ini semua" seru Nathan mengeluh.


"Sama guys... Ah loe enak nggak ngirim anggota generasi sekarang. Generasi sekarang kan jauh lebih banyak dari yang sebelumnya" ucap Lio.


Tentunya mereka berdua sama sekali tak menghiraukan chatt grup yang sudah mencapai ribuan itu. Bahkan pesan pribadi pun tak dijawab oleh keduanya karena semuanya sudah jelas kalau itu berasal dari nomornya. Kecuali yang generasi dulu, itu memakai nomor ponsel Kakek Angga.


"Ayo siap-siap" seru Kakek Angga yang melihat kedua cucunya malah masih berbaring diatas kasur.


Mereka pun menuruti apa ucapan yang diperintahkan oleh Kakek Angga. Keduanya segera bersiap dengan menggunakan kaos dan jaket yang memang dibuat secara bersamaan dan dibagikan 2 minggu sebelum acara ini dilaksanakan. Setelah semua siap, mereka segera berkumpul di ruang keluarga.


Terlihat lah disana sudah ada Kakek Angga dengan setelah yang sama dengan keduanya. Kakek Angga terlihat lebih muda dengan setelan sporty dan trendynya. Sungguh mereka hanya berbeda wajahnya yang keriput dan masih kinyis-kinyis saja. Tentunya celana jeans, jaket, kaos, dan topi mereka lah yang membuat semuanya sama seperti anak muda gaul.


"Kakek mau boncengan dengan siapa?" tanya Lio.

__ADS_1


"Denganmu saja. Oh ya Agung, di rumah saja ya karena ini bisa bahaya" ucap Kakek Angga pada cucunya yang paling kecil itu.


Agung hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula ia tak mau kalau kakek dan kedua abangnya malah sibuk mengamankan dirinya dibandingkan dengan keselamatan mereka jika dirinya ikut. Apalagi yang ia tahu, geng motor abangnya itu selalu diincar oleh musuh-musuhnya. Seperti waktu itu, keduanya yang harus pulang dengan dikejar-kejar anggota geng motor lain.


Ketiganya segera berangkat dengan dikawal oleh beberapa anak buah Kakek Angga. Sebagian anak buah Kakek Angga sudah mengamankan lokasi dibantu pihak yang berwajib dan beberapa bodyguard milik salah satu anggota generasi dulu. Tentunya hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir adanya kerusuhan.


Sebenarnya Lio dan Nathan pun nanti mampu kalau hanya melindungi anggota lainnya, namun pada faktanya keduanya itu akan mengungkapkan sesuatu yang bisa membuat ricuh. Untuk itu untuk mengantisipasi jika nantinya akan terjadi keributan besar, mereka lebih memilih untuk menggandeng beberapa orang profesional.


***


Sesampainya di pertigaan jalan, mereka sudah dihadang oleh beberapa anggota kepolisian dan anak buah Kakek Angga. Semuanya antri dengan scan barcode yang ada di ponselnya masing-masing. Ada beberapa yang lupa membawa ponselnya namun tetap tidak diijinkan masuk ke dalam.


"Ponsel saya itu dibawa istri. Ya mana bisa saya bawa, toh semuanya juga tahu kalau saya ini anggota" kesal salah satu anggota yang tertahan.


Ada beberapa yang ribut karena memaksa masuk membuat antrian semakin mengular. Lio, Nathan, dan Kakek Angga yang sudah sampai disana pun langsung turun kemudian mencoba untuk mengatur ulang. Tentunya dengan barcode yang sudah mereka siapkan bahkan wajah mereka akan direkam demi menghindari adanya penyusup. Penanggungjawab setiap generasi juga ada disana membuatnya langsung saja memeriksa apakah itu anggota atau bukan.


"Silahkan masuk" ucap salah satu penanggungjawab setelah memastikan semuanya.


"Tuh kan... Saya ini anggota generasi 2. Nggak mungkin jadi penyusup atau mengkhianati geng ini" ucap seorang anggota yang tadi sempat tertahan.

__ADS_1


Walaupun sedikit ribet, namun hal ini cukup efektif untu memeriksa setiap orang yang masuk. Bahkan tak diperbolehkan sama sekali untuk menggunakan masker dimulai dari pertigaan hingga saat acara nanti. Setelan satu jam semua pemeriksaan selesai dan aman dari penyusupan, segera saja semua anggota berkumpul di gedung aula hotel itu.


Sedangkan area pertigaan sudah dijaga oleh anak buah Kakek Angga dan pihak kepolisian. Hal ini agar tak ada yang bisa melintasi masuk saat acara berlangsung. Bagi anggota yang terlambat tak diperkenankan untuk masuk.


"Gokil ini mah... Ramai banget" seru Yuda yang begitu bangga menjadj bagian dari anggota geng motor ini.


"Iya, mana penjagaannya ketat banget lagi. Ini mah antisipasi serangan dadakannya luar biasa" ucap Fikri, anggota lainnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Ini si bos juga nggak kira-kira ngasih pengumumannya. Mana pagi buta sebelum shubuh lagi ngasih barcodenya. Di grup juga ramai tapi si bos nggak jawab apa-apa" takjub Kala sambil bertepuk tangan.


"Orang yang mau jadi penyusup ketipu" ucap Yuda sambil terkekeh.


Tanpa mereka semua sadari, ada seseorang yang mengepalkan kedua tangannya karena semua rencana yang disusunnya itu ternyata gagal. Tadinya mereka sudah bersiap-siap namun saat dia membuka ponsel dan menemukan barcode untuk masuk, tentunya ia segera menghubungi temannya.


Hal ini membuat semua rencana yang disusun gagal dan harus membuat plan lain. Kini mereka sedang menyusun rencana lain namun mengalami buntu. Mau masuk nekat juga tak mungkin karena jalan satu-satunya menuju hotel itu hanya ada satu pintu masuk. Mana dijaga oleh banyak anak buah Kakek Angga dan pihak kepolisian juga.


"Sialan... Jeli juga bos gue dalam antisipasi acara ini biar nggak berantakan. Apalagi banyak musuh siap menghadang" batin seseorang yang sedari tadi duduk diantara semua teman-temannya.


"Dia gelisah" bisik Nathan tepat pada telinga Lio.

__ADS_1


"Biarkan saja. Paling juga dia dan bosnya itu lagi nyusun rencana biar ada adegan seru di acara ini" jawab Lio dengan santai.


Keduanya terus mengawasi semuanya bahkan yang memasang bagian lampu, sound, dan beberapa tanaman pun tak luput dari pengawasan mereka. Mereka tak mau lalai, bahkan semua yang masuk dalam acara ini sekali pun itu karyawan harus mempunyai barcode yang dikirim Lio.


__ADS_2