Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Permainan


__ADS_3

Setelah Lio dan Agung menjalankan kewajibannya, mereka bertiga segera saja pergi dari area lobby. Ketiganya akan menuju sebuah timezone untuk bermain permainan bersama. Nathan yang memang berbeda keyakinan pun memilih untuk duduk saja didekat area lobby.


"Ayo adu basket" seru Lio yang kemudian menarik tangan Agung dan Nathan.


Keduanya dengan pasrah mengikuti Lio yang seakan tak habis tenaganya. Bahkan kini Lio seperti anak kecil yang habis terlepas dari orangtuanya. Harusnya disini Agung yang begitu bersemangat dan antusias karena memang belum pernah bermain di mall seperti ini namun ini justru kebalikannya.


Akhirnya ketiganya bermain bersama bola basket dengan riang padahal ini hanya permainan biasa namun mereka begitu antusias. Bahkan setelah bermain basket, mereka mencoba banyak sekali permainan lain yang ditawarkan.


Hingga hampir dua jam mereka bermain disana akhirnya ketiganya memutuskan untuk pulang. Hari sudah mulai gelap membuat Lio tak mau jika nantinya pulang kemalaman apalagi ada Agung bersamanya. Akan bahaya jika ada musuh geng motornya tiba-tiba menyerang di jam-jam sore atau malam seperti ini.


"Loe mau ikut pulang ke rumah kami atau gimana?" tanya Lio saat mereka bertiga sudah ada di halaman parkir.


"Gue nginap di rumah loe aja" jawab Nathan sambil menggunakan helmnya.


Agung dibantu oleh Lio mengenakan helmnya dengan benar kemudian mengangkatnya agar bisa naik keatas motornya. Setelah semua siap, ketiganya segera melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Udara sore hari ditambah padatnya jalan raya membuat mereka harus berhati-hati dalam berkendara.


***


Akhirnya kedua motor itu memilih jalan alternatif melewati beberapa perkampungan untuk menghindari kemacetan yang panjang. Namun saat mereka tengah melewati jalanan sepi, tiba-tiba saja ada beberapa anggota geng motor mulai mengejarnya.


"Bos, AREX" seru Nathan yang melihat dari kaca spionnya.


Geng AREX yang tadinya memang sedang nongkrong di sebuah warung dekat jalanan yang dilewati oleh Lio dan Nathan itu sontak saja langsung bergegas mengejar mereka. Terlebih ada salah satu anggota geng AREX yang memang mempunyai dendam pada Lio karena berhasil mengacak-acak identitasnya.


Lio juga langsung melihat kearah spion sepeda motornya. Ia tak menyangka jika harus bertemu dengan musuh gengnya itu disini dengan kondisi ada Agung. Jika Lio dan Nathan saja yang langsung menghadapi mereka, kemungkinan menang ada hanya saja disini ada Agung.

__ADS_1


"Gasss dalam motormu Nath. Kita disini ada Agung nggak mungkin kita menghadapi mereka" seru Lio.


"Agung, peluk perut kakak dengan erat" titahnya pada Agung yang terlihat ketakutan.


Baru kali ini Agung berada dalam situasi seperti ini bahkan melihat banyak sekali sepeda motor yang mengejar. Agung terlihat ketakutan dan khawatir jika mereka nanti bisa mengejarnya. Agung segera menuruti perintah dari Lio dengan memeluk perutnya dengan erat padahal ditengah-tengahnya ada paper bag berisi belanjaan.


Nathan yang mendengar perintah dari Lio pun juga sama langsung melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan Nathan dengan sengaja meliuk-liukkan sepeda motornya seakan menantang anggota geng AREX. Sebisa mungkin Nathan membiarkan Lio bisa melajukan sepeda motornya dengan mengorbankan dirinya yang bisa saja celaka.


Lio langsung menambah kecepatannya membuat Agung merasa seperti akan dibawa oleh angin badannya. Namun ia tak berani protes pasalnya keadaan memang sangat darurat membuat mereka harus melajukan sepeda motornya dengan kencang.


Brummm....


Ngeng.... Ngeng....


"Misah..." seru Nathan.


Lio menganggukkan kepalanya mengerti kemudian memisahkan diri dari Nathan pada saat ada pertigaan jalan. Lio ke kanan sedangkan Nathan ke kiri untuk membuat mereka kebingungan sehingga mempunyai waktu untuk melarikan diri.


Lio melewati beberapa gang kecil yang menyulitkan anggota geng motor AREX itu. Sedangkan kini Agung tampak terdiam dan terus memejamkan matanya karena tak berani melihat bagaimana Lio meliuk-liukkan sepeda motornya.


"Agung, coba kau lihat ke belakang ada yang mengejar kita atau tidak" ucap Lio membuat Agung langsung membuka matanya.


Lio tahu jika Agung takut dengan cara dia menaiki sepeda motornya bahkan tadi hampir saja akan menabrak orang. Namun kini Agung harus membuka matanya pasalnya spion motor Lio yang kecil membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat ke belakang.


"Aman bang, bahkan mereka tak terlihat sama sekali" ucap Agung.

__ADS_1


Lio menganggukkan kepalanya kemudian sedikit memelankan sepeda motornya. Didepan sana sudah terlihat jalan raya membuat Lio menyegarakan untuk melajukannya kesana. Paling tidak jika sudah berada di jalan raya yang ramai, mereka takkan mengejarnya karena akan sangat bahaya. Apalagi ada pihak berwajib yang nanti langsung menangkap mereka.


"Akhirnya... Kita sampai juga di jalan raya" ucap Lio sedikit menghela nafas lega.


"Gimana Agung permainan kebut-kebutannya abang?" lanjutnya bertanya sambil terkekeh pelan.


"Ngeri bang. Baru kali ini Agung ngerasain sendiri gimana rasanya kebut-kebutan di jalan pakai sepeda motor" ucap Agung sambil tertawa.


Lio juga tertawa mendengar ucapan dari Agung itu padahal semua ini tak ada yang lucu sama sekali. Namun pengalaman pertama dari Agung ini akan menjadi cerita sendiri bagi bocah laki-laki itu. Terlebih jika sudah berdekatan dengan Lio tentunya akan sering merasakan hal seperti ini.


Lio melajukan sepeda motornya kearah perumahan tempat tinggalnya berada. Agung menghela nafasnya lega karena semua selamat terlebih barang belanjaan yang berada di tengah-tengah antara dirinya dengan Lio.


"Gimana bos? Aman?" tanya Nathan yang ternyata sudah berada di halaman rumah Lio.


Nathan memang lebih cepat sampai ke rumah Lio karena berhasil mengecoh beberapa anggota AREX. Bahkan mereka sampai harus terjebak di sebuah lubang jalan lumayan besar karena terlalu fokus mengejarnya. Bahkan ia tak perlu yang namanya putar jalan karena semuanya memilih membantu rekannya yang masuk dalam lubang jalan itu.


"Aman... Belanjaan juga aman" jawab Lio santai.


Ketiganya pun langsung berjalan menuju dalam rumah bahkan kini di luar langit sudah tampak gelap. Mereka segera saja merebahkan badannya diatas sofa karena merasa lelah dengan apa yang terjadi. Lio yang baru merasakan lagi atmosfer seperti ini tentu saja merasakan badannya sedikit kelelahan.


"AREX tuh punya masalah apa sih sama kita? Kesal gue lama-lama, mana tiap balapan nggak pernah terima kalau kalah" ketus Nathan.


"Mungkin mereka mengincar gengnya itu jadi penguasa jalanan nomor satu" ucap Lio dengan acuh.


Nathan sedari dulu sudah malas kalau menghadapi geng AREX itu terlebih mereka yang tak mau mengalah sedikit pun. Yang lebih parahnya lagi adalah mereka sering menggunakan senjata tajam untuk melawan saingannya.

__ADS_1


__ADS_2