
"Kamu sudah mau berangkat sekolah hari ini? Apa tidak besok saja? Biar kamu bisa istirahat dahulu" ucap Kakek Angga.
Kakek Angga yang melihat Lio sudah rapi dengan seragamnya langsung mencerocosnya dengan beberapa pertanyaan. Ia juga merasa jika Lio ini terlalu rajin bangun pagi saat ini pasalnya dulu jarang sekali ia sudah ada di meja makan sepagi ini. Pasti dia akan terlambat sekolah atau berangkat mepet jam masuk sekolahnya. Namun lihatlah, baru jam 6 namun Lio sudah siap dengan seragam barunya.
"Wah... Den Lio kesambet setan darimana nih? Biasanya juga kalau bangun jam 7 saat bel masuk sekolah bunyi" ucap Mbok Lala yang terkejut dengan adanya Lio di meja makan.
Sindiran yang begitu menohok hati Lio namun ia takkan marah lagi pula yang diucapkan oleh Mbok Lala memang benar adanya. Ia selalu bangun saat jam masuk sekolah kemudian berangkat setengah jam setelahnya. Mengingat hal itu membuat Lio hanya bisa salah tingkah dan malu sendiri.
"Maklum mbok, habis kerasukan setan dari desa. Beruntung ini setannya baik jadi bisa sedikit menyadarkan Lio" ucap Kakek Angga sambil terkekeh pelan.
Mbok Lala juga tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Kakek Angga itu. Ia segera kembali ke dapur setelah mereka memulai sarapan paginya. Bahkan Agung yang tak paham dengan apa yang dibicarakan hanya diam duduk disana. Agung akan didaftarkan ke sekolah esok hari oleh Pak Alam sembari menunggu surat-surat kepindahannya dikirim oleh anak buah Kakek Angga.
"Agung, kamu di rumah saja ya. Nanti sore bang Lio ajak jalan-jalan" ucap Lio membuat Agung menganggukkan kepalanya antusias.
Agung begitu penasaran dengan suasana kota yang hanya bisa dilihatnya saat melihat acara TV di balai desa saja. Terlebih saat kemarin berada di mobil ia hanya tidur sehingga tak mengetahui bagaimana keadaan lingkungan sekitar. Lio segera berpamitan kepada kakeknya setelah menyelesaikan sarapannya.
"Lio berangkat dulu, kek" ucap Lio sambil mencium tangan kakeknya.
Kakek Angga begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Lio. Selama ini Lio tak pernah berpamitan kepada dirinya entah kemana pun ia pergi bahkan sampai mencium tangannya. Sehingga terkadang ia harus mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan cucunya itu.
__ADS_1
Bahkan saat di desa beberapa hari kemarin juga Lio belum pernah berpamitan kepada dirinya seperti ini. Kalau memang cucunya itu serius berubah maka ia akan sangat senang dan mendukungnya.
"Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan dan bolos sekolah lagi" peringat Kakek Angga.
Walaupun sekolah itu merupakan miliknya dan temannya namun tak serta merta ia bisa membebaskan Lio. Apalagi ia kadang tak enak hati dengan perilaku cucunya yang sangat seenaknya itu.
***
Lio menaiki sepeda motornya dengan kecepatan sedang karena waktu masih lah pagi untuk dirinya berangkat. Jarak antara rumah Lio dan sekolahnya hanya butuh waktu 10 menit saja namun setengah 7 dirinya sudah berangkat. Lio menikmati udara pagi di kota yang sudah penuh dengan polisi kendaraan terlebih jalanan hari ini lumayan macet.
Tak berapa lama dirinya mengendarai sepeda motornya, tiba lah ia di sekolahnya. Semua siswa memandang kedatangan sepeda motor yang amat mereka kenali itu dengan pandangan terkejut. Tak terkecuali beberapa gerombolan siswa laki-laki yang masih nongkrong diatas motornya yang ada di parkiran.
"Itu motornya Lio, kan?" tanya Yuda sambil mengucek-ngucek matanya.
"Penghancur pengkhianat kembali" gumam Nathan dengan senyuman misteriusnya.
Bahkan Nathan menatap seseorang yang terlihat mengepalkan kedua tangannya saat melihat sepeda motor yang diyakini dinaiki oleh Lio itu masuk kedalam tempat parkir. Bahkan sepertinya orang itu tak menyadari jika sedari tadi Nathan menatapnya sinis dan begitu intens.
Benar saja hampir semua siswa yang ada disana mengalihkan pandangannya kearah sepeda motor yang beberapa hari terakhir menghilang. Namun yang mereka rasa aneh adalah jika memang itu Lio mengapa tak parkirkan motornya didekat sahabat-sahabatnya yang lain.
__ADS_1
Tak berapa lama orang yang menaiki sepeda motor itu membuka helmnya dan mereka terkejut karena dugaannya benar. Dia adalah Lio sang badboy sekolah yang beberapa hari terakhir ini menghilang tanpa kabar. Kini Lio kembali membuat sekolah ini takkan seperti kemarin-kemarin.
"Bos..." seru Yuda dan Kala bersamaan.
Keduanya langsung berlari kearah Lio sedangkan Nathan juga Delan mengikutinya dari belakang. Keduanya begitu antusias melihat kedatangan Lio kembali kemudian memeluknya dengan erat. Namun Lio yang risih langsung melepaskannya.
"Peluk tuh cewek masa gue" ucap Lio dengan sedikit bergidik geli.
Walaupun mereka dekat namun sebelumnya tak pernah melakukan adegan pelukan seperti ini. Bahkan ketika saling menguatkan antar sesama pun mereka hanya menepukkan tangannya di bahu sahabatnya. Lio segera berjabat tangan dan melakukan tos dengan keempat sahabatnya itu.
"Kok nggak ngabarin kita bos kalau udah bisa kembali ke sini? Terus kok loe bisa sih sampai nyasar. Haduh... Ketua geng motor LEXON nyasar ke desa, apa kata dunia?" ucap Delan sambil tertawa.
Semuanya hanya bisa terkekeh pelan dengan banyolan dan sikap berisik dari Delan itu. Bahkan Delan lah yang selalu menghidupkan suasana tegang diantara mereka jika sedang bersama. Namun ia juga bisa serius jika sedang membicarakan mengenai masalah.
"Entahlah... Entar gue ceritain dengan detail deh. Kita makan dulu napa di kantin atau warung belakang sekolah. Kita hari ini bolos dulu lah, masuk sekolahnya besok-besok saja" ucap Lio dengan santai.
Ternyata oh ternyata... Berubahnya Lio hanya sementara karena faktanya kini ia malah mengajak sahabat-sahabatnya untuk bolos. Bagi Leo kata besok-besok itu berarti tak menentu kapan ia akan masuk kelasnya. Keempatnya pun segera berjalan menuju warung belakang sekolah diikuti beberapa anggota LEXON lainnya.
Namun ada beberapa yang memilih masuk kelas karena sudah sering membolos. Lio pun menghargai keputusan mereka karena kebiasaan buruknya ini tak pantaslah untuk ditiru. Nathan berjalan beriringan dengan Nathan disampingnya.
__ADS_1
"Jangan menceritakan semua hal tentang masalahmu. Pengkhianat akan mudah menghancurkanmu jika sampai dia tahu kelemahanmu" bisik Nathan tepat pada telinga Lio.
Beruntung mereka berjalan di barisan paling akhir sehingga semuanya mungkin tak mendengar apa yang diucapkan oleh Nathan. Lio menatap Nathan dengan pandangan yang sulit diartikan bahkan ada seringaian sinis tampak diwajahnya. Ia masih menduga-duga tentang keterkaitan ucapan kakeknya dengan Nathan yang memiliki kemiripan. Ia harus menyelidiki semua ini.