
Masalah dengan geng AREX sudah usai, bahkan berakhir dengan perdamaian walaupun dalam kondisi tertentu mereka akan menjadi rival. Namun mereka sudah berjanji jika nantinya ada masalah bakalan langsung meminta konfirmasi dahulu. Apalagi dalam dunia geng motor seperti ini pasti ada saja rival yang ingin saling menjatuhkan dengan adu domba.
Semua anggota geng LEXON pulang ke markas dengan wajah yang begitu sumringah. Tak ada lagi bayang-bayang pertengkaran di jalanan dan merugikan pengendara lainnya jika mereka bentrok. Setiap kali kedua geng motor besar itu bertemu, pasti ada saja yang dirugikan sehingga perdamaian kali ini tentu akan menjadi hal baik untuk orang sekitar.
"Kalian pulangnya hati-hati. Dan yang tidur di markas juga hati-hati. Jangan pada kelayapan, gue balik duluan soalnya harus menunggu kakek di rumah sakit" seru Lio saat mereka sudah berada didekat gang masuk arah markas.
"Siap bos. Salam buat kakek" seru semuanya.
Lio menganggukkan kepalanya kemudian mengangkat jempolnya sebagai pertanda kalau pesannya akan disampaikan. Lio segera melajukan sepeda motornya diikuti oleh ketiga sahabatnya. Mereka akan ke rumah sakit untuk menjaga Kakek Angga.
***
"Malam kek, udah makan belum?" tanya Lio saat mereka telah sampai di ruang rawat inap Kakek Angga.
Kondisi Kakek Angga kini sudah lebih baik. Hanya saja tinggal menunggu bekas operasinya sedikit kering dulu baru bisa untuk pulang. Lagi pula kalau dirawat di rumah nanti malah Lio akan bingung dengan bagaimana mengganti perban kakeknya. Ia sendiri kalau sudah melihat luka operasi itu malah takut dan merinding sendiri.
"Udah. Kalian darimana? Kok pulang sampai malam begini" tanya Kakek Angga penasaran.
Padahal tadi mereka ijin hanya untuk melakukan pemberkasan di kampus saja namun sampai hari menjelang malam belum menunjukkan batang hidungnya. Ia sangat khawatir karena takut terjadi apa-apa dengan mereka. Mau bagaimana pun juga, kondisi di luar sedang tidak baik-baik saja sehingga ia mewajibkan cucunya itu untuk ada didekatnya setiap saat.
__ADS_1
Apalagi saat dihubungi, mereka tak ada yang mengangkat panggilannya. Bahkan panggilan dari anak buah Kakek Angga sudah mencari di markas dan kampus namun tidak ada. Hal itu membuat Kakek Angga khawatir hingga berpikiran kalau cucunya sedang tawuran.
"Kami tadi mampir ke markas geng AREX dulu, kek" ucap Lio sambil tersenyum tipis.
Mendengar ucapan dari cucunya itu sontak saja membuat Kakek Angga memelototkan matanya. Bahkan kini ia memindai empat remaja laki-laki didepannya ini dengan seksama. Ia sedikit menghela nafas lega karena semuanya terlihat baik-baik saja dan tak ada lecet sama sekali.
"Ada masalah apa sampai kesana? Kenapa nggak tanya kakek dulu?" tanya Kakek Angga dengan raut wajah khawatirnya.
Mereka segera mendekat kearah brankar tempat tidur Kakek Angga. Mereka tersenyum melihat Kakek Angga begitu perhatian dan khawatir pada semuanya. Orang baik seperti Kakek Angga ini memang selalu dihormati antar sesama karena beliau selalu perhatian dengan seseorang yang bahkan bukan keluarganya sendiri.
Bahkan Delan dan Yuda pun merasakan perhatian juga kasih sayang itu. Walaupun mereka hanya sahabat Lio saja, namun tak jarang jika keduanya ditanyai mengenai kabarnya dan alasan jarang datang bermain ke rumah. Hal kecil memang, namun itu sangat berarti untuk keduanya yang tak pernah merasakan kasih sayang dari keluarganya.
"Masalah kecil. Tadi kami ditemani Paman Rino. Geng motor LEXON dan AREX sudah berdamai, kek" ucap Lio membuat Kakek Angga terkejut.
"Kesepakatan apa yang kalian jalin? Tapi ini serius kan?" tanyanya dengan tatapan tak percaya.
"Serius, kek. Kami sepakat buat nggak lagi ada keributan dan kalau ada sesuatu langsung dibicarakan bersama. Kita hanya akan rival saat event tertentu ssperti balapan, kalau enggak ya kita hidup berdampingan seperti biasa" ucap Lio menjelaskan.
Kakek Angga yang mendengarnya sangat bersyukur karena kesepakatan itu membuat semuanya bernafas lega. Tak ada lagi sekarang dua geng motor itu akan bentrok di jalanan. Kakek Angga langsung saja memegang tangan cucunya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu memang calon pemimpin masa depan yang luar biasa. Kalian bertiga juga, kakek hanya bisa berdo'a untuk kesuksesan kalian kelak" ucap Kakek Angga dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih, kek. Do'a kakek itu yang paling penting untuk kita" ucap Nathan sambil tersenyum.
Semuanya menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Nathan. Untuk saat ini memang Kakek Angga sudah waktunya istirahat memikirkan yang lainnya. Ia hanya cukup berdo'a untuk kebaikan orang-orang disekitarnya. Setelah semuanya berbincang sebentar, akhirnya Lio dan ketiga sahabatnya bergantian untuk membersihkan diri.
***
"Tadi kamu kenapa? Habis balik dari kampus kok pulang ganti baju terus pergi lagi" tanya salah satu teman kost Ratu yang bernama Uli.
Uli tadi melihat teman kostnya itu pulang dari kampus dalam keadaan berantakan. Bahkan gamis dan hijabnya juga penuh dengan warna kecoklatan seperti bekas lumpur. Dirinya tadi ingin bertanya, namun ia sedang kedatangan tamu sekampusnya. Uli juga satu kampus dengan Ratu, tetapi ia merupakan kakak tingkat gadis itu.
Kini mereka berdua sedang duduk didekat balkon lantai dua kost. Disana memang ada balkon atau seperti rooftop yang didesaign khusus agar semua anak kost bisa nyaman seperti sedang nongkrong. Tentunya anak kost pasti akan jarang keluar kost dan lebih memilih nongkrong disana.
"Tadi ada orang iseng, Kak Uli. Dia mahasiswa juga di kampus, katanya sih pembully. Tadi awal ketemu udah debat sama dia, eh waktu pulangnya dia sengaja dong lewat jalanan yang ada genangan airnya dan air itu terciprat deh pada baju dan hijabku" ucap Ratu dengan menggebu-gebu.
Ratu masih kesal dengan kejadian tadi saat ada orang yang dengan sengaja malah memperlakukannya seperti itu. Padahal awal bertemu juga memang dirinya hanya menegur saja namun berakhir dia dikerjai. Ratu hanya bisa menghela nafasnya pelan berulangkali kala mengingat semua itu.
"Pembully? Cewek?" tanya Uli dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
"Iya. Yang pakai baju belum jadi. Roknya aja cuma setengah paha, sekali nunduk kelihatan semua tuh isinya" jelas Ratu dengan bergidik geli.
Ia masih tak menyangka ada seorang gadis yang mengumbar auratnya secara berlebihan. Walaupun sebenarnya itu adalah haknya pribadi, namun melihatnya sudah membuat ia geli sendiri. Setidaknya kalau tak menutup semuanya, Ratu hanya mau melihat kearah gadis yang sopan-sopan dan tak berlebihan seperti itu.