Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Berita Pernikahan


__ADS_3

Pak Hakim sudah memberitahu tentang rencana pernikahannya kepada Ratu. Ratu sangat bahagia karena kini ayahnya sudah menemukan pendamping hidupnya kelak. Sebenarnya Ratu dari awal tidak pernah melarang ayahnya menikah lagi, namun Pak Hakim selalu bilang kalau ingin melihatnya bahagia dulu baru memikirkan kebahagiaannya.


Beruntung sekarang pemikiran itu sudah hilang seiring berjalannya waktu. Kini ayahnya sudah menemukan sosok wanita yang akan mampu mendampinginya hingga menutup mata kelak. Terlebih Ratu sudah mengenal Ustadzah Siti yang memang sifatnya keibuan dan sangat baik kepadanya juga warga yang ada di desanya.


Ratu bahkan kini langsung saja mendatangi Kakek Angga di rumahnya untuk memberikan berita pernikahan ini. Walaupun sebenarnya ia bisa menghubungi pria tua itu, namun dia ingin bertemu dengan beliau. Sudah hampir dua minggu, ia tidak bertemu dengan pria tua itu karena sibuk dengan kuliahnya. Tak lupa juga dengan Agung, Adin, dan ibunya.


"Mau kemana, Ratu?" tanya Salwa yang sepertinya akan keluar dari kost bersama dengan Meli.


Hari ini memang waktunya mahasiswa libur. Hari sabtu, weekend seperti ini kebanyakan para mahasiswa memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah, kost, atau sekedar jalan-jalan. Seperti yang dilakukan oleh Salwa dan Meli yang akan jalan-jalan ke mall terdekat.


Ratu begitu terkejut dengan kehadiran dua teman kampusnya ini yang tiba-tiba saja hadir disampingnya. Walaupun memang ia melewati jalan depan kost temannya ini, namun tadi dia tidak melihat mereka keluar. Namun ya Ratu memaklumi saja, mungkin kebetulan waktunya bersamaan saat keluar atau dia yang tidak menyadarinya.


"Mau pergi antar makanan ke rumahnya Ibu Adin. Ibu angkat aku" jawab Ratu sambil mengangkat rantang yang dibawanya.


Mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka tidak bisa bertanya hal lain dan meminta ikut karena ini merupakan hubungan keluarga. Tidak mungkin mereka mengikuti Ratu yang akan pulang ke rumah ibu angkatnya. Akhirnya mereka berpisah di halte bus karena Ratu memutuskan untuk menaiki taksi online.


Sebenarnya Ratu tak bermaksud berbohong dengan mengatakan tentang dia yang akan pergi ke rumah ibu angkatnya. Namun jika ia menjawab akan pergi ke rumah Kakek Angga, tentu keduanya akan semakin heboh. Ia juga merasa kalau dirinya hanya sedikit berbohong saja karena Ibu Adin itu merupakan sosok orangtua angkat baginya.


***


Setelah taksi berhenti didepan area perumahan, Ratu segera saja turun kemudian berjalan kaki memasuki komplek itu. Beberapa anak buah Kakek Angga menundukkan kepalanya hormat karena sudah tahu kalau Ratu dekat dengan keluarga itu. Ratu melihat kearah sekelilingnya yang membuatnya takjub.


Dalam hatinya terus bersholawat saat melihat berbagai rumah mewah yang ada disana. Ia hanya bisa berharap kalau suatu saat bisa memiliki salah satu rumah mewah yang ada disini. Atau setidaknya ia ingin membangun rumah impiannya kelak di desa. Tak berapa lama berjalan, Ratu sudah sampai rumah Kakek Angga.


"Assalamu'alaikum..." salam Ratu saat melihat pintu rumah itu terbuka.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." salam balik dari orang yang ada didalam rumah.


Ternyata yang tadi membalas salamnya itu Ibu Adin. Ibu Adin yang melihat adanya Ratu pun langsung memeluk gadis itu. Ia sungguh rindu dengan kehadiran gadis itu yang selalu membawa aura ketenangan bagi orang yang dekat dengannya. Segera saja Ibu Adin mengajak Ratu masuk untuk menemui Kakek Angga.


"Gimana kuliah kamu?" tanya Ibu Adin.


"Alhamdulillah, lancar" ucap Ratu dengan tutur kata lembutnya.


Saat sampai di ruang keluarga, ternyata disana ada Kakek Angga yang tengah duduk sendirian sambil menonton sebuah berita di TV. Tentunya Ibu Adin segera memanggil Kakek Angga yang sedang fokus itu. Setelah beliau melihat kedatangannya, segera saja Ratu mencium tangan Kakek Angga dengan takzim.


"Kok udah lama nggak main kesini, nak? Kamu nyaman kan tinggal di kost itu?" tanya Kakek Angga beruntun.


"Nyaman, kek. Bahkan sangat nyaman karena semua fasilitasnya lengkap dan nggak jauh dari kampus juga. Terimakasih sudah memberikan semua kenyamanan ini, semoga nanti Ratu bisa membalas kebaikan kakek" ucap Ratu dengan mata yang berkaca-kaca.


Ratu kini sudah duduk disamping Kakek Angga sedangkan Ibu Adin telah pergi sambil membawa makanan yang dibawanya. Kakek Angga tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Ratu. Ia tak menginginkan balasan apapun dari orang-orang yang pernah ia tolong. Cukup mereka selalu mengingatnya dan berdo'a yang terbaik untuk kehidupannya itu sudah membuatnya bahagia.


Ratu menganggukkan kepalanya mengerti. Ia menyetujui ucapan Kakek Angga sekaligus prinsip beliau. Mereka pun segera mengalihkan pembicaraan lain dengan tak lagi membahas kebaikan pria tua itu. Lagi pula Kakek Angga tak suka jika kebaikannya diungkit-ungkit. Ia sudah ikhlas dengan apa yang diberikannya.


"Oh iya, kek. Ratu kesini itu sekalian bawa kabar gembira. Ayah Ratu kira-kira dua minggu lagi akan menikah. Kalau kakek sempat waktunya, beliau mengundang sekeluarga untuk datang kesana" ucap Ratu sambil tersenyum.


Tentu saja berita pernikahan Pak Hakim itu begitu membahagiakan Kakek Angga. Ia tak menyangka diumur beliau yang hampir sama dengan anaknya itu masih mau menikah lagi. Namun ia juga ikut bahagia mendengarnya kalau orang yang dikenalnya menemukan pasangan hidupnya.


"Kakek pasti datang. Lagi pula kakek rindu untuk sekedar duduk di sawah" ucap Kakek Angga sambil tersenyum antusias.


Ratu menghela nafasnya lega karena Kakek Angga mau menghadiri pernikahan ayahnya. Pasalnya ia juga akan ikut menumpang kendaraan beliau karena ia tak tahu arah menuju pulang ke rumahnya. Ia takut tersesat dan malah merepotkan orang banyak.

__ADS_1


"Kalau begitu, bolehkah jika Ratu ikut menumpang dalam mobil kakek?" tanya Ratu dengan tak enak hati.


"Tentu. Kita akan berangkat kesana bersama. Dua hari sebelum pernikahan terjadi, kita akan berangkat" ucap Kakek Angga mengerti.


Tentunya Kakek Angga mengerti tentang Ratu yang akan menumpang dengan mobilnya. Ia juga tak mungkin akan membiarkan Ratu pulang sendirian ke desa. Apalagi Ratu sekarang sudah menjadi tanggungjawabnya dan wajib baginya membahagiakan salah satu cucu angkatnya ini.


Kakek Angga tak boleh egois untuk membiarkan Ratu tidak bisa hadir dalam hari penting keluarganya. Kalau dirinya tak bisa hadir, pasti akan selalu ia coba untuk mengusahakannya.


"Kakek memangnya mau kemana?" tanya Lio yang baru saja turun dari lantai 2 kamarnya.


"Ini lho, kami mau ke desa. Ayah Ratu mau menikah" jawab Kakek Angga.


Tentunya kehadiran Lio yang tiba-tiba itu membuat Ratu terkejut namun gadis itu langsung menormalkan kembali mimik wajahnya. Mendengar jawaban dari Kakek Angga, tentunya membuat Lio terkejut bahkan matanya melotot tak terima. Ia segera saja duduk disamping kakeknya kemudian menatap Ratu seolah meminta penjelasan.


"Pria tua kaya dia masih laku juga? Astaga... Perempuan mana yang berhasil dibodohi olehnya itu. Apa jangan-jangan Bu Yati yang tukang gosip itu?" tanya Lio sambil geleng-geleng kepala.


Tentunya ucapan Lio itu langsung mendapatkan timpukan bantal sofa dari Kakek Angga. Sungguh ucapan cucunya itu sama sekali tak bisa difilter. Sedangkan Ratu hanya bisa terkekeh geli pasalnya ia pub sebenarnya juga bertanya sedemikian rupa dalam hatinya saat ayahnya meminta ijin menikah.


"Bukan Bu Yati, Mas Lio. Ustadzah Siti yang nantinya akan menikah dengan ayah" jawab Ratu sambil terkekeh geli.


Lagi-lagi Lio memelototkan matanya tak terima dengan apa yang didapatkan oleh Pak Hakim. Ternyata yang akan menikah dengan pria paruh baya itu adalah sosok lemah lembut dengan agama yang kuat seperti Ustadzah Siti. Perbuatan baik apa yang dilakukan oleh Pak Hakim itu sehingga mendapatkan sosok pendamping hidup seperti bidadar itu. Sepertinya Lio akan berguru pada Pak Hakim nantinya saat bertemu.


"Kek, masa dapatnya spek bidadari gitu sih. Padahal Pak Hakim itu sifatnya 11 12 sama kaya aku" rengek Lio tak terima.


"Yang jelas ilmu agamanya jauh lebih kuat dibanding kamu" ucap Kakek Angga dengan pedasnya.

__ADS_1


Sontak saja ucapan dari Kakek Angga itu benar-benar menohok hatinya. Ia tak menyangka jika kakeknya malah tak membela dirinya. Padahal ia adalah cucunya sendiri namun kakeknya malah membela Pak Hakim. Sedangkan Ratu hanya tertawa mendengar perdebatan mereka berdua.


Akhirnya Lio juga akan ikut dengan Nathan. Agung, Adin, dan ibunya juga akan diajak membuat perjalanan besok tentu akan sangat ramai. Ratu sangat bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang seperti ini.


__ADS_2