
Pagi ini Ratu, Adin, dan ibunya akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Kakek Angga. Tentunya jantung Ratu sedikit berdegup kencang karena untuk sekian kalinya akan bertemu Lio setelah satu bulan lebih tak berjumpa. Ia terus mengucap istighfar dalam hatinya agar tak terpengaruh pikiran terus menerus pada Lio.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Yohan setelah sarapan usai dilakukan.
Mereka bertiga menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari rumah Kakek Angga. Koper dan tas milik Ratu sudah ada didalam mobil setelah tadi Diko membantunya membawa keluar. Mereka segera naik ke dalam mobil kemudian kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit.
***
"Itu kok banyak sekali motor besar seperti punyanya Bang Lio di jalanan sih? Memangnya mereka nggak sekolah? Ini kan sudah jam 8 tapi masih berkeliaran di jalan menggunakan seragam" tanya Adin dengan penasaran.
Memang benar adanya saat mobil masih melaju di jalanan kota, terdapat banyak sekali anak sekolah berseragam masih mengendarai kendaraannya seperti kepunyaan Lio. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar dalam kepala mereka terlebih Adin dan Ratu yang belum pernah melihat pemandangan ini saat berangkat sekolah.
"Apa mungkin jam masuk sekolah di kota dan desa itu berbeda?" tanya Ratu dengan pandangan bingung.
Diko dan Yohan yang mendengar hal itu hanya biaa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya yang mereka lihat kini itu bukan anak sekolah sembarangan. Itu merupakan gerombolan geng motor yang tentu saja bisa menjadi salah satu musuh Lio. Namun ia juga tak mungkin memberikan penjelasan pada mereka kalau dekat dengan Lio harus siap jika ada lawan yang menyerang.
"Itu anak-anak bandel yang suka membolos sekolah. Kalian jangan lah dekat-dekat dengan orang seperti itu, bisa juga itu geng motor yang berbahaya" ucap Diko memberi penjelasan.
Ratu dan Adin menganggukkan kepalanya mengerti. Selama tinggal di kota, mereka harus berhati-hati untuk tak sembarangan berdekatan dengan oranglain. Apalagi mereka mempunyai sifat polos yang harus was-was dan pintar jaga diri agar tak menjadi sasaran kejahatan.
"Coba lihat itu. Bahkan mereka mengendarai sepeda motornya dengan kebut-kebutan, kasihan pengendara lain yang takut kalau sampai terjadi kecelakaan" ucap Adin sambil menunjuk kearah geng motor itu.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja. Biar pihak berwajib yang mengurus dan menertibkan. Kita tak usah ikut campur daripada nanti malah ribet sendiri karena mereka itu sangat susah dikasih tahu" ucap Diko.
Kalau tak ada Ratu, Adin, dan ibunya bisa saja keduanya langsung menghajar mereka agar tak menghalangu jalan. Sedari tadi keduanya sudah kesal karena jalanan menjadi macet akibat adanya mereka. Ratu dan Adin menganggukkan kepalanya kemudian berhenti membicarakan geng motor itu.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Diko itu sampai juga di sebuah rumah sakit. Mereka berlima segera turun dari mobil kemudian berjalan masuk ke area rumah sakit. Ratu, Adin, dan ibunya hanya bisa berdecak kagum melihat besar juga luasnya rumah sakit ini. Pasalnya di rumah sakit desanya itu tak seluas ini. Mungkin rumah sakit di desa itu tak sampai seperempat dari yang ada disini.
"Silahkan masuk. Didalam ada Mas Lio dan yang lainnya" ucap Diko mempersilahkan masuk setelah mengetuk pintu.
Ratu menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Lagi-lagi mereka begitu takjub dengan kemewahan ruangan ini. Bahkan mungkin rumahnya di desa saja tak ada apa-apanya dengan ruangan ini. Saking kagumnya, mereka bertiga tak menyadari kalau tingkahnya itu diperhatikan oleh banyak orang.
"Calon istriku..." seru Lio memanggil Ratu.
Sontak saja mendengar ucapan Lio itu membuat Ratu terkejut kemudian melihat kearah laki-laki itu. Sedangkan ketiga sahabat Lio tentunya terkejut dengan kalimat yang dilontarkan oleh laki-laki itu sambil menatap bingung pada gadis berhijab itu.
"Kakek..." seru Ratu melihat Kakek Angga yang tersenyum kearahnya.
Tentu Ratu mengacuhkan panggilan yang dilontarkan oleh Lio membuat laki-laki itu kesal. Sedangkan sahabatnya hanya bisa menahan tawanya karena baru pertama kali ini bosnya dicueki oleh seorang gadis. Ratu segera mendekat kearah Kakek Angga kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim begitu pula Adin.
"Ratu dihatiku... Kok nggak cium tangan babang Lio sih?" tanya Lio sambil menjulurkan tangannya.
"Bukan mahram" seru Adin dan Agung memperingatkan.
__ADS_1
Ratu terkekeh pelan mendengar seruan dari Agung dan Adin. Tentunya sudah cukup lama Lio kembali ke kota membuatnya sedikit lupa dengan kebiasaannya di desa. Lio hanya bisa tersenyum canggung menatap Ratu yang terkekeh geli. Sedangkan ketiga sahabatnya merasa puas melihat bosnya tersiksa seperti ini.
"Lio, jangan suka menggombali Ratu. Masih ingat kan kalau dia kesini bukan untuk kamu tapi kuliahnya. Awas saja kamu kalau dekat-dekat dengan dia. Ingat janjimu sama bapaknya, kalau sudah sukses baru minta pada beliau" peringat Kakek Angga.
"Ya elah... Cuma bercanda kakekku sayang" ucap Lio sambil tertawa canggung.
Padahal Lio sudah rindu dengan Ratu yang selama ini hanya bertukar kabar lewat chatt saja. Bahkan selama ini Ratu tak mau jika ia menghubunginya via video call. Memang agak lain perempuan yang kini didekatinya itu.
"Bos, itu cewek yang loe maksud?" tanya Nathan dengan nada pelannya.
"Iya, cantik kan? Tapi agak lain dari cewek-cewek lainnya" ucap Lio.
Nathan menganggukkan kepalanya mengerti. Terlihat sekali kalau kali ini cewek yang jadi incaran Lio itu berbeda dengan pacarnya selama ini. Sedangkan Yuda dan Delan hanya mendengarkan perbincangan keduanya karena sedikit tak paham.
Ratu dan Ibu Adin sedang berbincang dengan Kakek Angga. Sedangkan Agung dan Adin sudah bersama untuk saling berbincang banyak hal. Yuda dan Delan terlihat melihat Ratu dengan seksama membuat Lio langsung melempar wajah mereka dengan kulit kacang.
"Jangan lihat-lihat calon istri gue" ketus Lio.
"Alah bos... Kaya dia mau aja sama situ" ledek Yuda sambil tertawa.
"Iya, mana dia kayanya ilmu agamanya jos banget lagi. Nah si bos sholat aja sekarang jarang" sindir Delan membuat Lio tertohok.
__ADS_1
Kesal sekali dirinya diledek oleh kedua sahabatnya itu. Memang semenjak pulang dari desa, awalnya ia rajin namun lama kelamaan dirinya sering lupa. Apalagi kalau sudah sibuk dengan sesuatu, diingatkan pun langsung lupa lagi. Sedangkan Ratu hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghela nafasnya mendengar pembicaraan ketiga sahabat itu.