Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Terkejut


__ADS_3

"Ayah..." panggil Ratu dari arah samping mobil.


Mendengar suara yang ia sangat rindukan selama beberapa bulan ini, sontak saja membuat Pak Hakim yang masih linglung menatap semua barang yang ada di teras rumahnya itu segera saja mencari kearah sekitarnya. Ia yakin kalau itu bukan suara halusinasi saja karena begitu dekat dengan telinganya.


Deg...


Jantung Pak Hakim berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia kini melihat anaknya berdiri disampingnya sambil tersenyum melihat kehadirannya. Akhirnya sosok yang ia rindukan itu hadir disini bahkan dua hari sebelum pernikahannya dilaksanakan.


Ia sungguh terkejut sekaligus terharu karena anaknya menyempatkan hadir di hari bahagianya. Segera saja Pak Hakim memeluk Ratu begitu juga dengan gadis itu. Pertemuan keduanya setelah lebih dari satu bulan lamanya itu membuat semuanya terharu. Apalagi Pak Hakim yang tentunya kesepian karena ditinggal oleh anaknya kini bertemu juga dengan Ratu.


"Calon ayah mertua..." panggil Lio yang memang ingin merusak moment itu.


Sontak saja adegan haru itu berubah suasananya. Bahkan kini para tetangga langsung tertawa mendengarnya apalagi Pak Hakim yang langsung melepaskan pelukannya pada Ratu. Ia menatap Lio yang kini tersenyum dengan jahilnya menatap kearah Pak Hakim. Pak Hakim hanya bisa menghela nafasnya sabar melihat kedatangan Lio yang tentunya akan membuatnya harus punya stok obat darah tinggi.


"Bagaimana kabarnya, Pak Hakim?" tanya Kakek Angga tiba-tiba untuk mengalihkan pandangan pria paruh baya itu.


Segera saja Pak Hakim langsung mengalihkan pandangannya kearah Kakek Angga. Pak Hakim langsung saja memeluk Kakek Angga kemudian mengajaknya segera masuk dalam rumahnya. Karena rumahnya tak cukup untuk menampung semua orang yang datang, akhirnya ia meminjam rumah Ustadzah Siti untuk membiarkan mereka istirahat.


Ia cukup terkejut saat menyadari kalau yang datang tak hanya Kakek Angga dan Lio saja. Namun hampir juga teman Lio juga Adin dan Agung yang dulu pernah tinggal disini. Bukan merasa kerepotan, namun ia kini malah senang karena rumahnya ramai.


"Nak, tolong kamu mintakan kunci rumah kontrakan Ustadzah Siti ya. Biar sebagiannya bisa istirahat disana soalnya kalau di rumah ini semua, takkan cukup" ucap Pak Hakim memberi perintah pada anaknya.

__ADS_1


Ustadzah Siti beberapa hari ini memang sudah tidak lagi kesini karena ada tradisi pingitan bagi calon pengantin. Ia selama hampir satu minggu ini selalu membeli masakan jadi untuk lauknya selama di rumah. Ratu pun menganggukkan kepalanya kemudian pergi berlalu ke rumah Ustadzah Siti.


"Kok manggilnya masih Ustadzah Siti sih, pak? Bebeb, calon istriku, ayang, sayangku, cintaku seperti itu lho. Biar gaul kaya anak muda sekarang" ucap Lio sambil tersenyum jahil.


"Sepertinya bibirmu itu perlu saya kuncir pakai jepit jemuran biar diam" kesal Pak Hakim yang sedikit salah tingkah.


Para warga yang melihatnya tentu hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah keduanya kalau ketemu selalu berantem dan berdebat seperti ini. Mereka segera saja pergi dari rumah Pak Hakim karena merasa tak ada perlu disana.


Sedangkan Ibu Yati atau dulunya dipanggil Mpok Yati itu langsung saja mengikuti tetangganya setelah mendengar ucapan menohok dari Lio. Hanya Lio dan kakeknya itu yang sepertinya bisa menahan laju cerocosan dari Ibu Yati.


***


Tentunya mereka semua masih berbincang-bincang didepan rumah Pak Hakim itu. Mendengar apa yang disampaikan oleh Ratu, langsung saja mereka berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan istirahat disana. Akhirnya mereka memutuskan untuk Ratu, Kakek Angga, Ibu Adin, Lio, dan Nathan yang akan istirahat di rumah Pak Hakim. Sedangkan yang lain langsung saja pergi menuju rumah kontrakan.


"Nanti Ustadzah Siti yang akan mengirimkan makanan untuk yang di rumah kontrakan. Yang di rumah ini, biar Ratu dan Ibu Adin yang masak" ucap Ratu setelah selesai memasukkan barang-barangnya kedalam rumah.


"Apa kamu nggak capek, nak? Kan habis perjalanan jauh" tanya Pak Hakim sedikiy khawatir.


Tentu saja Ratu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak lelah karena rasa itu sudah tertutup dengan kebahagiaan akibat bertemu dengan ayahnya. Ia bahagia karena kini sudah bertemu dengan orangtuanya dan sebentar lagi akan menemani Pak Hakim menuju kebahagiaannya.


Ia dan Ibu Adin segera saja memasak untuk semua orang yang ada disana. Dengan bahan masakan yang tadi memang dibawa dari kota itu akan disulap menjadi makanan yang enak untuk makan siang kali ini. Lagi pula hari masih cukup pagi untuk tiduran di kamar.

__ADS_1


***


Setelah makan siang berlangsung, ternyata Lio mengajak ketiga sahabatnya untuk pergi ke sawah yang ada di desa itu. Tentu ketiga sahabatnya itu langsung saja mengikuti Lio dengan sangat antusias. Mereka begitu bahagia karena merasakan suasana tenang dan sejuk yang ada di desa ini. Apalagi saat tak mendengar banyak suara kendaraan disini.


"Enak ya bos ternyata disini. Suasana dan udaranya itu masih sejuk. Nggak ada polusi bahkan tadi sepanjang jalan cuma ada sepeda saja yang lewat" ucap Yuda.


Walaupun siang hari, namun cuaca disini tidak terlalu terik. Bahkan menurut Yuda, Nathan, dan Delan, sangat sejuk bahkan tidak terasa gerak atau panas. Akhirnya mereka segera saja berjalan melewati sebuah galengan membuat Lio terkekeh geli saat melihat ketiga sahabatnya itu seperti kesusahan.


"Udah dibilangin pakai sandal jepit saja, malah ngeyel mau pakai sepatu" ucap Lio sambil tertawa.


Tentunya hanya Lio yang memakai sandal jepit sedangkan ketiga sahabatnya menggunakan sepatu kets. Tentu galengan yang terbuat dari tanah dan sedang kondisi basah pun membuat sepatu sahabat-sahabatnya kotor. Apalagi beberapa kali mereka sedikit terpeleset karena jalanan yang lumayan licin.


"Loe sih bos, nggak ngasih tahu kami baik-baik. Tadi cuma suruh kami pakai sandal saja tanpa ada alasan apapun" kesal Delan.


Lio bodo amat mendengar kekesalan sahabatnya itu. Ia pikir juga sahabatnya itu sudah tahu bagaimana kondisi sawah sehingga mengajaknya kemari. Yang sebenarnya mengajak dan memaksa untuk datang ke sawah itu adalah Yuda dan Delan. Sedangkan Lio hanya menuruti saja permintaan mereka.


Lio berjalan dengan santainya meninggalkan ketiga sahabatnya yang belum terbiasa berjalan di sawah seperti ini. Saat ia sudah duduk disebuah gubuk, ia melihat temannya yang terus berusaha membuat sepatunya tidak kotor.


"Buruan... Keburu malam. Mau temani jangkrik kalian disini" kesal Lio sambil berteriak.


Sontak saja mereka bertiga berlari setelah mendengar teriakan dari Lio itu. Tentunya teriakan itu hanya sebuah kebohongan semata. Padahal sudah jelas kalau hari masing siang namun mereka dengan polosnya malah percaya dengan ucapan Lio.

__ADS_1


__ADS_2