
Adin dan ibunya begitu sedih karena hari ini Lio juga kakeknya akan kembali ke kota. Bahkan para tetangga sudah berkerumun didepan rumah kontrakan Lio. Rumah kontrakan ini akan tetap ditinggali oleh Adin dan ibunya bahkan sudah dibayar hingga satu tahun kedepan oleh Lio. Sedangkan kini didalam rumah, Lio sudah memeluk Ibu Adin dengan begitu eratnya.
"Lio bakalan kangen sama ibu. Terimakasih sudah mau merawat bahkan menasihati Lio kalau ada salah. Apa ibu nggak mau ikut saja dengan kami ke kota?" tanya Lio.
Sedari kemarin Lio sudah menawarkan Adin dan ibunya untuk ikut bersamanya tinggal di kota, terlebih ada Agung juga yang akan menemaninya. Namun Ibu Adin menolak karena takut tak bisa menyesuaikan diri disana terlebih ia sudah banyak merepotkan Lio.
"Ayolah, bu. Kalau ibu takut nggak bisa beradaptasi ya pelan-pelan saja. Kaya Lio nih, awalnya emang nggak betah tinggal disini tapi lama kelamaan ya biasa saja. Nanti Lio nggak bisa sering-sering kesini lho, kalau ada apa-apa sama ibu kan aku jadi nggak tahu" lanjutnya mencoba merayu.
Adin dan ibunya terkekeh geli melihat wajah Lio yang merengek. Lio yang biasanya garang ternyata mempunyai sikap manja seperti ini jika sedang bersama dengan orang terdekatnya. Kakak Angga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu.
"Lebih baik kalian ikut kami saja. Walaupun kontrakan ini sudah dibayar selama satu tahun ke depan nanti bisa kita berikan sewanya pada oranglain yang membutuhkan tempat tinggal. Terlebih ada dua karyawan kakek yang masih disini untuk mengurus pembangunan tower jaringan internet" ucap Kakek Angga ikut membujuk.
Ibu Adin menatap anaknya seakan meminta persetujuan. Terlebih nanti anaknya harus mengurus surat kepindahan sekolahnya ke kota membuat semuanya pasti butuh waktu. Akhirnya Ibu Adin menyetujuinya namun mereka akan pindah bersamaan dengan dua karyawan Kakek Angga. Hal ini tentunya karena Adin harus mengurus tentang kepindahan sekolahnya.
Lio pun hanya menganggukkan kepalanya memahami apa yang terjadi. Keempatnya segera saja berjalan keluar dan disana sudah ada Ratu, Pak Hakim, Ustadzah Siti, dan beberapa warga. Mereka tersenyum melihat kehadiran Lio dan Kakek Angga.
__ADS_1
"Ratu, tunggu aku balik lagi kesini ya. Aku akan segera menyelesaikan semua urusanku di kota agar bisa segera kembali kesini. Jangan terima lamaran dari laki-laki mana pun yang datang kecuali aku" ucap Lio dengan tegasnya.
"Jangan menyuruh seseorang untuk menunggu sedangkan kamu disana masih saja berkelana mencari seseorang yang lebih sempurna. Saya tunggu kamu sampai 4 tahun ke depan, jika kamu tak datang ke rumah untuk melamar anakku maka jangan salahkan kalau Ratu akan ku nikahkan dengan laki-laki pilihanku" ucap Pak Hakim dengan tegasnya.
Pak Hakim tak mau anaknya diberi janji atau harapan palsu oleh seseorang sehingga ia harus lah tegas dalam membatasi setiap laki-laki yang dekat dengan putrinya. Ratu menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh ayah. Ia juga tak mau jika harus menunggu seseorang tanpa kepastian yang jelas.
"Saya terima. Jika dalam waktu 4 tahun saya belum juga kembali ke desa ini, maka silahkan bapak menikahkan putri anda dengan yang lainnya. Tapi selama empat tahun ini saya mohon untuk bapak dan Ratu agar tak menerima lamaran dari siapapun" ucap Lio yakin.
Pak Hakim hanya menganggukkan kepalanya. Entah apa yang akan terjadi di masa depan semuanya tak ada yang tahu. Ia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya itu. Sedangkan Lio hanya melirik sebentar Ratu yang menundukkan kepalanya.
"Ehemm... Disini saya mewakili sang cucu, Lio ingin mengucapkan terimakasih atas bantuannya selama ini. Tanpa kalian, Lio takkan bisa bertambah lagi ilmunya tentang agama dan rasa sosialnya. Maafkan juga jika cucu saya ini pernah melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak. Semoga suatu saat nanti kami bisa bertemu kembali dengan keadaan desa ini yang lebih maju lagi" ucap Kakek Angga dengan senyum tipisnya.
Kakek Angga mengedarkan pandangannya ke seluruh warga yang hadir. Ia tak menyangka jika kepulangan mereka ke kota akan didatangi oleh beberapa warga yang rela berkumpul didepan rumah Lio sejak pagi. Baginya di desa ini ia bisa tahu bagaimana rasanya bersosialisasi dan hidup bertetangga dengan banyak orang.
Bahkan kini Kakek Angga sedikit membungkukkan badannya begitu pula dengan Lio dan beberapa anak buahnya. Pertanda mereka akan pamit dan sebagai ucapan terimakasih. Bahkan Mpok Yati juga ada disana namun sedikit bersembunyi dibalim tubuh tetangganya.
__ADS_1
"Kami pamit ya pak, bu, dan adik-adik semua" seru Lio yang kemudian berjalan kearah motornya.
Lio akan menggunakan sepeda motor sedangkan kakeknya mengendarai mobil bersama dengan anak buahnya. Agung dan Pak Alam juga berada satu mobil dengan kakeknya itu. Bunyi klakson bersautan pertanda Lio dan Kakek Angga sudah menjalankan kendaraannya untuk pergi dari desa ini. Semua menatap kepergian Lio dan Kakek Angga dengan melambaikan tangannya.
Ratu yang melihat Lio kini pergi hanya bisa menatap kepergiannya dengan mata sendu. Ia masih lah ingin mengenal lebih jauh pemuda kota itu untuk meyakinkan dirinya bahwa memang Lio pantas untuk ditunggu.
"Semoga kau benar-benar menepati janjimu untuk kembali ke desa ini dan melamarku" batin Ratu menatap sepeda motor Lio yang sudah menjauh.
"Wah... Sekarang udah nggak ada yang tengilin Pak Hakim lagi. Pasti desa ini akan sepi seperti biasanya" ucap salah satu bapak-bapak.
Semuanya tertawa mendengar ucapan itu. Memang benar adanya jika dengan kepergian Lio dari desa ini tentunya suasana akan menjadi seperti biasanya. Terlebih Lio yang selalu membangkitkan semangat anak muda untuk ikut ronda dan kerja bakti sudah tak ada lagi.
Semoga saja pembangunan tower dan beberapa fasilitas umum yang dimodali Kakek Angga itu bisa berguna untuk masyarakat sekitar. Bahkan dengan adanya proyek ini, beberapa warga bisa menjadi pekerjanya disana dengan upah yang sudah disesuaikan.
Pak Hakim yang mendengar celotehan warga hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia yakin jika hidupnya akan monoton tanpa tingkah usil dari Lio yang selalu membuatnya sebal itu. Semua warga kini sudah membubarkan diri diikuti oleh Pak Hakim dan Ratu.
__ADS_1
"Serahkan semuanya pada Allah. Kalau ia memang jodohmu pasti ia akan kembali kesini. Namun jika bukan, pasti ada seseorang yang lebib tepat untukmu" ucap Pak Hakim yang mengetahui kegalauan putrinya itu.