
Lio terus melajukan sepeda motornya bagaikan jalan raya itu sebagai sirkuit balapan. Berulangkali ia menyelip diantara banyaknya sepeda motor dan mobil yang ada di jalanan itu untuk mengelabuhi orang yang mengikutinya. Bahkan tak jarang ia meliuk-liukkan sepeda motornya agar lawan kesal karena jalannya selalu dihadang oleh Lio.
"Abang keren. Ini kaya yang Agung sering lihat di TV" seru Agung sambil terus memeluk erat perut Lio.
Bahkan Agung merasa seperti sedang melayang dibawa oleh angin saking kencangnya Lio membawa sepeda motornya. Namun ini adalah yang kedua kalinya ia merasakan seperti ini walaupun ada perbedaan yang begitu mencolok. Waktu itu mereka dikejar oleh banyak orang sedangkan ini hanya beberapa saja.
Tak berapa lama, lawan kehilangan jejak Lio dan Agung karena pemuda itu berani juga lihai dalam menyusup diantara banyaknya kendaraan yang melintas. Akhirnya lawan langsung saja menepikan sepeda motornya ke tepi jalan yang lumayan sepi.
"Sialan... Selalu saja kita kalah kalau harus balapan sama itu bocah satu" kesalnya.
"Namanya juga raja jalanan. Makanya banyak yang nggak suka sama dia karena susah buat dikalahkan" ucap salah satu rekannya.
"Kalau memang dia susah dikalahkan, otomatis anggotanya akan memuja dia dong. Lha ini nyatanya loe malah mengkhianati bos loe sendiri" ucapnya sambil menyindir.
Ternyata dua orang yang mengejar Lio itu salah satunya merupakan anggota dari geng motor LEXON yang berkhianat. Entah tujuannya apa namun yang jelas pasti bertujuan buruk agar bisa membuat Lio terluka. Keduanya memang menggunakan jaket dan motoe baru untuk mengelabuhi Lio agar tak tahu siapa musuh dia sebenarnya.
Keduanya segera saja pergi dari sana kemudian menggeber sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Keduanya tadi sempat membuka helmnya saat berbincang dan tanpa mereka sadari ternyata ada Lio juga Agung yang melihatnya. Lio mengelabuhi mereka dengan bersembunyi untuk mengetahui siapa orang yang mengejarnya.
"Abang, tadi yang bicara itu kan salah satunya yang kemarin datang ke rumah kan?" tanya Agung dengan tatapan penasarannya.
Lio hanya menganggukkan kepalanya karena masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka jika temannya itu ternyata sudah bergerak sejauh ini sampai harus membuntutinya. Ia yakin kalau temannya itu pasti sudah merencanakan hal buruk untuk mencelakai dia dan Agung.
__ADS_1
"Ayo kita pulang" ajak Lio yang kemudian diangguki oleh Agung.
Lio dan Agung langsung berjalan kearah sepeda motor yang keduanya parkirkan lumayan jauh dari mereka memantau orang yang mengikutinya. Dalam perjalanan, Lio terus memikirkan tentang tujuan temannya itu ingin membuatnya celaka sampai harus menyamar dengan sepeda motor dan jaket baru.
***
"Kenapa wajahmu muram begitu?" tanya Kakek Angga yang melihat cucunya termenung melihat acara TV yang ada didepannya.
Tadi setelah pulang sekolah, Lio langsung duduk di ruang keluarga kemudian menyalakan TV yang ada didepannya. Sedangkan Agung langsung masuk dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Kakek Angga yang baru turun dari kamarnya pun langsung menatap cucunya itu dengan penasaran.
"Biasa, kek. Hari ini banyak kejadian yang cukup membuatku terkejut. Ternyata orang yang dekat denganku sendiri lah yang berkhianat, aku masih tak menyangka jika dia orangnya" ucap Lio sambil mengacak rambutnya frustasi.
Lio menatap kakeknya yang kini memandangnya penuh tanya. Bahkan Kakek Angga terlihat penasaran dengan cerita yang akan disampaikan oleh cucunya itu karena pasti ini akan berhubungan dengan geng motornya. Lio terlihat menghela nafasnya kasar karena hal ini masih membuatnya shock.
"Dia bersama orang yang diajak bekerjasama itu akan menghancurkan acara reuni akbar yang baru saja akan diadakan" ucap Lio.
Mendengar hal itu, Kakek Angga mengepalkan kedua tangannya. Matanya menyorot tajam kearah TV yang masih menyala itu. Sedangkan Lio langsung mengelus lengan kakeknya agar tak terlalu tegang agar nantinya bahunya tak sakit kembali.
"Kek, aku mau tanya. Apa dulu di geng motor kita itu ada saudaranya dia juga yang ikut bergabung? Pasti ada orang dalam juga kan kek yang punya pengaruh mengapa dia bisa sampai melakukan hal ini. Hah... Kepala Lio rasanya sangat pusing" tanya Lio begitu penasaran.
Terlebih kini Lio penasaran dengan alasan terjadinya pengkhianatan ini. Sedari dulu mungkin sudah ada yang berkhianat namun tak menyadari adanya pengkhianat itu karena semua bermain rapi. Kakek Angga seperti mengingat-ingat sesuatu dengan yang terjadi dulu.
__ADS_1
"Iya, tapi dia sudah meninggal. Waktu terakhir yang kakek dengar itu dia dikeroyok oleh beberapa orang hingga meninggal di tempat. Sampai saat ini kami masih mencari siapa pelakunya karena memang tak ada CCTV di jalanan itu" ucap Kakek Angga memberitahu.
Mendengar apa yang diceritakan oleh kakeknya itu sontak saja membuat pikiran Lio terbuka. Bahkan kini matanya berbinar cerah karena merasa ada titik terang penyebab dari kejadian pengkhianatan ini. Kakek Angga menatap Lio dengan pandangan anehnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada kemungkinan besar si pengkhianat ini berpikir kalau geng motor kita yang menyebabkan saudaranya meninggal. Ia dendam dengan menyusup sebagai pengkhianat berkedok anggota loyal untuk menghancurkan LEXON" ucap Lio menyampaikan argumentasinya.
Kakek Angga masih menatap tak percaya kearah cucunya yang menganalisa semua teka-teki ini. Bahkan dirinya dan Nathan hanya membantu sedikit saja namun Lio sudah menemukan banyak hal. Kakek Angga pun masih menyelidiki alasan dari pengkhianatan ini namun sampai saat ini belum menemukannya.
"Bisa jadi. Tumben otakmu pintar. Tapi kejadian ini sudah terlalu lama, bahkan dia juga belum lahir. Darimana dia bisa mengetahui peristiwa ini?" tanya Kakek Angga yang malah menambah beban pikiran Lio.
Lio hanya bisa menepuk keningnya kesal. Tak menyangka jika teka-teki untuk menyelesaikan masalah ini ternyata begitu rumit. Ia pikir kalau sudah menemukan pelakunya akan selesai namun ternyata harus mencari tahu penyebab ini semua terjadi. Rasanya otak Lio ingin meledak saja.
"Sudah... Janga terlalu dipikirkan. Yang penting gimana caranya kita untuk mencegah terjadinya kericuhan nanti saat reuni terjadi" ucap Kakek Angga.
"Kita harus kumpulkan anggota yang dulu. Tentunya pilih yang tak ada hubungannya dengan dia agar tak semakin kacau" ucap Lio sambil tertawa.
Kakek Angga menganggukkan kepalanya mengerti. Sebelum undangan disebar, tentunya ia harus berkoordinasi dengan teman-temannya yang dulu. Bahkan ia harus berdiskusi masalah ini namun harus memilih orang yang tepat.
Lio pun kini segera pergi berlalu dari ruang keluarga untuk masuk kamarnya. Karena terlalu asyik berbincang dan bermain teka-teki dengan kakeknya membuat ia lupa kalau dirinya belum membersihkan diri. Apalagi pikirannya yang begitu kacau hari ini.
__ADS_1