Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Menyalahkan


__ADS_3

Bukannya menyesal dengan kejadian di masa lalu kemudian berusaha meminta maaf dan memperbaiki diri, keduanya malah sibuk menyalahkan Kakek Angga. Mereka menuduh Kakek Angga telah mempengaruhi anak keduanya. Tentunya Lio tak terima kakeknya itu dituduh macam-macam. Dia bertingkah seperti ini karena kemauannya sendiri dan juga meluapkan rasa kecewanya pada orangtuanya.


"Papa, pasti papa kan yang mempengaruhi anakku hingga ia durhaka dan kurang ajar seperti ini" tuduh Papa Lio dengan tatapan tajamnya kearah Kakek Angga.


Kakek Angga sedikit terkejut mendengar tuduhan dari anaknya itu namun ia langsung menormalkan raut wajahnya. Wajar saja jika anaknya itu menuduh dirinya sebagai dalang dibaliknya perubahan Lio. Namun harus perlu digarisbawahi disini adalah semua ini terjadi karena tingkah laku orangtua pemuda itu sendiri.


Sedangkan Lio sudah menatap tajam kearah orangtuanya karena menuduh kakeknya sebagai dalang perbuatannya. Terlebih papanya mengatai dirinya sebagai anak yang durhaka. Padahal dia seperti ini juga karena mereka berdua sendiri.


"Jangan menuduh kakekku sembarangan. Saya seperti ini bukan karena kakek, tapi kalian sendiri yang mengubahku. Asal kalian tahu, bukankah sedari dulu aku memang seperti ini? Selalu durhaka dan kurang ajar seperti yang kalian bilang, lalu sekarang mengapa jadi terkejut melihat perubahanku?" tanya Lio sambil terkekeh miris.


Seketika kedua orangtua Lio terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Bahkan mereka tak menyangka jika perlakuan keduanya itu ternyata membuat luka dihati anaknya. Lio yang dulunya selalu ramah bahkan tersenyum ketika mendapatkan sesuatu pada akhirnya hanya akan mendapatkan bentakan dari kedua orangtuanya karena masalah yang bukan ia penyebabnya. Seketika bayang-bayang masa lalu itu berputar dalam ingatan mereka.


Ctass.... Ctass...


"Dasar anak durhaka. Kaya nggak diajarin sopan santun sama orangtua" teriak Mama Lio.


Waktu itu Lio tak mau jika diminta kedua orangtuanya untuk les piano karena itu bukanlah bakatnya. Bahkan Lio berteriak didepan keduanya membuat mereka marah besar. Mereka berpikir bahwa Lio tak diajari sopan santun hingga berani berteriak didepan orangtuanya sendiri.


"Dasar anak tak berguna. Lebih baik dulu ku habisi saja kamu" serunya.


Bahkan tak jarang kaki dan punggungnya menjadi sasaran kemurkaan mereka. Padahal hanya masalah sepele seperti tak mau les piano namun semuanya menjadi besar. Mereka bahkan tak segan untuk memukul kakinya dengan ikat pinggang. Hal itu juga yang membuatnya kini menjadi orang yang kuat dengan belajar bela diri.


"Sudah ingat kah kalian?" tanya Lio dengan tatapan terluka.

__ADS_1


Mereka masih terdiam bahkan terkesan menunduk. Namun ego keduanya yang begitu tinggi tentunya menganggap bahwa semua yang mereka lakukan sudah benar. Kini keduanya malah menatap Lio dengan begitu tajamnya tanpa terlihat rasa bersalah sama sekali.


"Itu sudah benar karena kami memang mendidikmu keras agar tak mudah ditindas. Kalau baru digituin aja kamu udah mlempem, nggak usah jadi laki" seru Papa Lio.


"Kalau begitu saya juga benar dong. Saya durhaka dan kurang ajar dengan kalian itu juga ingin mendidik kalian bahwa kekerasan pada anak itu bisa membekas dalam ingatannya hingga dewasa kelak. Kalau belum siap anaknya jadi anak kurang ajar, jangan jadi orangtua dong" ledek Lio.


Jika memang orangtuanya terus mencoba menghancurkan mentalnya dengan ucapan pedas mereka, tentunya Lio juga harus seperti itu. Ia tak terima, selama bertahun-tahun dirinya diasuh oleh kakeknya namun dengan seenaknya mereka datang dan menilainya dengan cap anak durhaka. Padahal mereka tak tahu bagaimana dia dan kakeknya berjuang agar bisa hidup layak.


Orangtua Lio hanya bisa diam bahkan tak bisa membalas ucapan anaknya itu. Ternyata sudah beberapa tahun tak bertemu mengubah semuanya. Terutama sikap dan tingkah anaknya itu. Ada sedikit rasa bersalah dalam hati keduanya namun lagi-lagi, ego mengalahkan semuanya.


"Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan disini? Membuat keributan atau berdebat dengan cucuku kah?" tanya Kakek Angga mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana.


"Mungkin mau minta warisan kali, kek" ucap Lio dengan asal.


"Kalau pun mereka minta warisan, nggak akan aku kasih. Dulu aja waktu kakek butuh makan, mereka nggak ada tuh kasih uang sepeser pun. Masa nggak pernah ngasih duit, sekarang minta warisan ke kakek" ucap Kakek Angga sambil terkekeh pelan.


Lio hanya tertawa melihat wajah pucat kedua orangtuanya yang sepertinya dugaannya itu sangat benar. Bahkan kini keduanya terlihat meneguk salivanya kasar mendengar pernyataan Kakek Angga. Kesal... Keduanya kini menatap penuh emosi pada kedua orang yang malah tertawa seakan apa yang dilihatnya ini sebuah lelucon.


"Kami kesini bukan untuk minta warisan. Tapi kami ingin meminta pertolongan untuk diberilan kuciuran dana karena usaha keluarga kami sedang ada masalah" ucap Mama Lio berusaha menahan rasa malunya.


"Keluarga kalian? Lalu apa urusannya dengan kami? Kami kan bukan keluarga kalian" ucap Lio dengan sarkasnya.


"Lio..." sentak Papa Lio dengan mata menatap tajam.

__ADS_1


Bahkan kini Papa Lio sudah berjalan mendekat kearah anaknya itu. Ia mengambil sebuah penggaris panjang kayu yang ada di sudut ruangan kemudian mengarahkannya pada anaknya itu.


Prakkkk...


Arghhhh...


Kakek...


Papa Lio mengayunkan penggaris kayu itu kearah anaknya namun dengan gerakan cepat Kakek Angga berdiri kemudian melindungi cucunya. Pukulan itu bukan mendarat pada bahu Lio namun punggung Kakek Angga. Tentu saja Lio merasa linglung karena kejadiannya begitu cepat membuatnya shock. Bahkan kini kakeknya sudah jatuh dalam pelukannya sambil memegang punggungnya itu.


"Sialan..." sentak Lio dengan amarah yang begitu besar.


Lio segera saja membawa kakeknya untuk duduk di kursi kebesarannya. Ia merasa bersalah pada kakeknya yang tak sigap dalam melindungi orang yang amat ia sayangi itu. Bahkan kini ia langsung berdiri menghadap kedua orangtuanya yang sudah ketakutan.


"Kalian tahu... Saya akan melakukan apapun untuk melindungi bahkan menjaga kakek. Kalau ada yang melukainya sedikit pun maka saya takkan segan-segan menghabisinya walaupun kalian merupakan orang yang membuatku" serunya.


Nafas Lio sudah naik turun karena emosinya yang benar-benar terkuras karena kejadian ini. Bahkan ia dengan sigapnya langsung mengambil penggaris panjang kayu itu dengan sekali sentakan membuat Papa Lio langsung melangkahkan kakinya mundur.


"Ingat nak, ini papamu. Kalau kau melukai kami berarti kau durhaka sama kami" seru Papa Lio.


"Ingat juga bahwa kakek itu orangtuamu. Kau telah melukainya berarti kau juga durhaka sama orangtua" ucap Lio dengan terkekeh sinis.


"Dan ingat, kami takkan pernah mau untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk keluarga kalian itu. Kalau memang kalian keluarga, mengapa di saat kondisi seperti ini tak membantu?" tanyanya.

__ADS_1


Kedua orangtua Lio terdiam karena mendengar ucapan dari anaknya itu. Selama ini keluarga barunya masing-masing seakan abai dengan usaha yang telah dirintis bersama. Bahkan saat ada masalah seperti ini pun mereka memilih angkat tangan.


__ADS_2