Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kecurangan


__ADS_3

"Bos..." seru Yuda, Kala, dan Delan saat Lio dengan kakeknya sudah sampai didepan rumahnya.


Saat Lio turun kemudian membantu kakeknya keluar dari mobil, mereka langsung disambut dengan seruan dari ketiga sahabat pemuda itu di geng motor LEXON. Menurut Lio, ini masih lah sangat pagi untuk orang menjenguk seseorang yang sedang sakit. Namun biarlah, lagi pula mereka sahabatnya dan berniat baik untuk menjenguk kakeknya.


Nathan yang tadi menggunakan sepeda motor bersama dengan Agung juga sudah sampai disana. Ketiga sahabat Lio mengernyitkan dahinya heran saat melihat seseorang yang tak mereka kenali. Namun mereka belum berani bertanya karena fokus ketiganya disini adalah untuk menjenguk Kakek Angga. Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah secara bersamaan.


"Kakek akan istirahat saja di kamar. Kalian disini lah saja, kumpul-kumpul" ucap Kakek Angga.


Mereka menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Kakek Angga. Namun Lio tetap mengantar kakeknya itu menuju kamarnya apalagi kondisi bahunya masih sakit membuatnya ingin segera merebahkan badannya.


"Berhati-hatilah dalam berucap atau menceritakan sesuatu. Diantara mereka ada yang hanya ingin mencari informasi tentang kehidupanmu lebih dalam saja" ucap Kakek Angga memperingatkan sebelum Lio keluar dari kamarnya.


Lio menganggukkan kepalanya mengerti. Dari Nathan dan kakeknya tentu ia sudah bisa mengambil kesimpulan kalau pengkhianat yang mereka maksud adalah salah satu dari ketiga sahabatnya itu. Walaupun selama berteman dan berkumpul seperti ini, Lio sama sekali tak menemukan keanehan diantara ketiganya.


"Sebenarnya ada apa dengan kakek? Kok Sampai harus dirawat di rumah sakit" tanya Yuda dengan tatapan penasarannya saat melihat Lio memasuki ruang keluarga.

__ADS_1


"Biasa... Namanya juga orangtua. Bahunya encok" ucap Lio berbohong.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya mengerti dari arti ucapan Lio. Nathan bangga pada sahabatnya itu untuk tak mengumbar permasalahannya kepada ketiganya. Nathan juga masih ingin memastikan apakah dugaannya itu benar atau tidak. Sedangkan Yuda, Kala, dan Delan menganggukkan kepalanya mengerti. Agung sendiri tadi memilih untuk masuk kamarnya karena terlalu canggung dengan teman-teman Lio.


"Bagaimana dengan markas? Aman?" tanya Lio mengalihkan pembicaraan.


"Sejauh ini aman sih, bos. Walaupun ada beberapa anggota yang jarang ke markas karena kita juga sudah tak ada kegiatan di luar seperti dulu" ucap Yuda melaporkan.


Lio paham dengan apa yang dimaksud oleh Yuda. Mereka memang kini jarang bisa berkumpul bersama karena tak ada kegiatan yang dulunya sering semuanya kerjakan bersama. Seperti balapan motor, bazar, dan kunjungan ke Panti Asuhan setelah keberadaan Lio belum ditemukan saat itu.


Namun kini Lio telah kembali yang tentunya pemuda itu akan memikirkan rencana agar bisa membuat semua anggotanya kompak. Dengan adanya kegiatan memang mereka akan lebih sering bersama karena semua akan saling bahu membahu dalam melancarkan acara.


Yuda, Kala, Delan, dan Nathan menganggukkan kepalanya mengerti. Akan kasihan jika kita bisa membantu oranglain yang bahkan tak dikenal namun orang yang dekat dengan kita malah terabaikan. Lebih penting memang membantu orang yang dekat terlebih dahulu dibandingkan orang luar.


"Bos, yang boncengan sama Nathan tadi siapa? Kok masuk ke kamar atas" tanya Kala.

__ADS_1


Pasalnya jika itu merupakan anak pembantu atau bodyguard tentunya ia tak mungkin masuk dalam kamar lantai atas. Setahu mereka, kamar lantai atas itu hanya khusus untuk keluarga saja. Bahkan sahabat-sahabat Lio jika menginap, tak pernah berada di kamar lanrtai atas kecuali Nathan. Nathan yang sudah dianggap cucu oleh Kakek Angga tentunya bisa keluar masuk rumah ini dengan leluasa. Namun kebiasaannya ini tentu tak diketahui oleh sahabat-sahabatnya yang lain.


"Adik angkat gue waktu tersesat di desa waktu itu" jawab Lio dengan jujur.


Lio memang jujur tentang apa yang terjadi kalau dia tersesat di desa waktu itu. Namun tentunya segala perilakunya dan kedekatannya dengan Ratu hanya akan menjadi konsumsi pribadinya. Ketiganya menganggukkan kepalanya mengerti, namun ada kejanggalan disini. Pasalnya Lio bukan lah orang yang mudah akrab dengan orang baru. Namun jika dilihat, mereka teramat dekat bahkan sampai dianggap sebagai adik.


"Bos, loe nggak curiga sama adik angkat loe itu? Dia kan hanya orang desa dan baru dikenal beberapa hari aja, masa udah diajak tidur di kamar atas. Kita berempat aja yang udah bareng bertahun-tahun, nggak pernah tuh diijinkan naik keatas lantai 2" ucap Delan dengan sedikit protes.


Lio mengernyitkan dahinya melihat perubahan sikap dari sahabatnya itu. Pasalnya Delan itu bukan orang yang suka iri dengan apa yang didapatkan oleh oranglain. Bahkan ia juga sama seperti dirinya yang sangat bersimpati dengan beberapa anak jalanan yang butuh bantuan. Baru kali ini Lio melihat sahabatnya protes hal yang sebenarnya adalah hal pribadinya.


Nathan hanya tersenyum melihat ada sahabatnya yang mau protes juga tentang Lio. Bagaimana jika mereka nanti melihat kalau dia yang bisa bebas masuk rumah ini? Pasti akan ada peperangan yang mungkin saja bisa terjadi. Lio hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa lirih.


"Dia itu yang udah bantu aku selama di desa. Dalam keadaan nggak punya duit pun, keluarganya selalu berusaha mencari uang agar aku bisa makan. Mereka menerimaku dengan tinggal di rumahnya yang tak bisa membayar sewa sepeser pun. Masa iya aku taruh dia di kamar rumah belakang? Sedangkan mereka di desa menampungku di rumahnya sendiri. Bahkan rela mereka tidur bertiga berdesakan sedangkan aku? Bisa leluasa tidur di kamar" ucap Lio dengan sedikit bumbu kebohongan.


Delan terdiam karena sepertinya ia sadar dari kesalahannya yang iri pada Agung. Pantas saja Lio mengijinkan tentang bocah cilik itu tinggal di lantai atas, orang yang membantu sahabatnya itu di desa. Sedangkan Kala dan Yuda kini semakin paham dengan apa yang dilakukan oleh Lio. Mereka yakin jika Lio tak mungkin salah dalam menilai orang.

__ADS_1


"Terkadang orang yang baru kita kenal itu justru bisa menjadi seorang sahabat dan pelindung dibandingkan dengan yang lama kita kenali. Bukan tak mungkin orang yang dekat sudah lama dengan kita malah akan jadi penghancur kita di masa depan" ucap Lio dengan sedikit menyindir.


Mereka semua menyetujui apa yang diucapkan oleh Lio. Namun tanpa semuanya sadari, ada seseorang diantara mereka yang mengepalkan kedua tangannya. Tentunya ia merasa tersindir dengan ungkapan yang diucapkan oleh Lio itu.


__ADS_2