Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Perbincangan Seru


__ADS_3

"Saya adalah calon menantunya kakek" ucap Ratu sambil terkekeh geli.


Ratu hanya menirukan gaya dan ucapan dari Lio yang pasti sudah bercerita kepada kakeknya ini tentang dirinya. Bukan percaya diri karena merasa dibicarakan oleh keduanya namun setiap kali Lio berbicara tentangnya pasti akan selalu mengucapkan seperti itu. Kakek Angga tertawa mendengar Ratu yang memperkenalkan dirinya dengan gaya seperti Lio.


"Jangan kamu ikuti lah gaya dan ucapannya itu. Kakek saja yang mendengar dia mengucapkan seperti itu ingin sekali menjitak kepalanya" ucap Kakek Angga sambil tertawa.


Ratu hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kearah gubuk yang ada di tengah sawah. Disana juga ada sang ayah yang sedari tadi memperhatikannya. Pasti ayahnya yang posesif itu akan memarahinya jika berbincang lama dengan laki-laki asing. Kakek Angga juga mengikuti Ratu menuju kearah gubuk itu.


"Pak Hakim..." panggil Kakek Angga.


Pak Hakim tersenyum melihat kakeknya Lio ada disini. Ternyata yang tadi berbicara dengan anaknya itu adalah kakeknya Lio. Dari jarak yang lumayan jauh itu memang tak terlalu kelihatan wajah dari Kakek Angga sehingga Pak Hakim sempat ingin mendekat kearah anaknya.


Kakek Angga segera saja mendekat kearah Pak Hakim kemudian duduk disampingnya. Sedangkan Ratu duduk disamping sang ayah. Mereka semua terdiam dengan pikirannya masing-masing sambil menatap lurus ke depan.


"Maafkan cucuku yang selalu membuat kalian kesal" ucap Kakek Angga tiba-tiba.


Ratu dan Pak Hakim saling pandang karena tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Kakek Angga. Namun Pak Hakim berpikir apakah Kakek Angga mengetahui perlakuannya terhadap Lio yang terlihat tak menyukai kehadiran cucunya itu. Namun jika Kakek Angga tahu mengapa dia yang meminta maaf tentang ini.


"Maksudnya gimana ya, pak?" tanya Pak Hakim sedikit kikuk.

__ADS_1


"Cucuku itu pasti selalu membuat kalian kesal bukan? Pasalnya terlihat dari sikapnya yang berbeda ketika bersama dengan kalian" ucap Kakek Angga sambil terkekeh pelan.


Pak Hakim dan Ratu sedikit canggung dengan apa yang dibicarakan oleh Kakek Angga. Terlebih Kakek Angga seakan sudah tahu bagaimana sikap cucunya selama tinggal di desa ini sehingga banyak orang yang kesal dengannya.


"Memang sih, pak. Kadang dia bikin saya kesal dengan ucapan dan tingkah tengilnya itu. Tapi sebenarnya dia baik bahkan selalu sigap kalau membantu oranglain" ucap Pak Hakim dengan sedikit memuji Lio.


Benar, Lio memang selalu sigap jika membantu oranglain. Bahkan saat pemuda itu masih di kota pun jika ada yang memang butuh bantuan akan selalu membantu. Namun jika sudah ada yang mengusiknya, ia akan mudah dalam terpancing emosinya. Kakek Angga menganggukkan kepalanya sambil terkekeh pelan mendengar pujian yang terlontar dari Pak Hakim.


"Jadi apa cucu saya sudah cocok menjadi menantu anda?" tanya Kakek Angga sambil tertawa.


Pak Hakim dan Ratu juga tertawa mendengar pertanyaan yang terlontar dari Kakek Angga itu. Bahkan nada bicaranya pun hampir sama dengan Lio membuat mereka tertawa bersama. Sungguh Lio sekarang menjadi bahan pembicaraan seru bagi tiga orang yang ada di gubuk sawah itu.


Ratu mengalihkan pandangannya kearah lain saat mendengar ucapan Kakek Angga. Ada perasaan tak nyaman saat Kakek Angga mengungkapkan rencananya membawa Lio untuk kembali ke kota secepatnya. Hatinya gundah namun dengan secepat kilat ia mengucap istighfar didalam hatinya.


Sedangkan Pak Hakim hanya bisa tertawa sumbang terlebih ia tak yakin jika Lio akan kembali kesini hanya untuk melamar seorang gadis desa seperti anaknya. Pasti di kota ada yang lebih cantik dan punya segalanya dibandingkan anaknya ini.


Kakek Angga segera pamit kemudian pergi berlalu meninggalkan sepasang ayah dan anak itu di gubuk tengah sawah. Keduanya masih terdiam karena pikirannya sedang melayang kemana-mana akibat ucapan terakhir dari Kakek Angga ini.


"Jangan terlalu berharap jika Lio akan kembali kesini untuk melamarmu. Berharaplah sama Allah karena dia lebih tahu apa yang kamu butuhkan" ucap Pak Hakim yang kemudian berlalu pergi berlalu dari hadapan anaknya.

__ADS_1


Pak Hakim tahu bagaimana pergolakan batin anaknya itu. Terlebih ia sering melihat anaknya itu mencuri pandang kearah Lio. Siapa yang takkan tergoda atau memuja laki-laki kota itu? Wajah tampan dan bersih membuat gadis-gadis bisa saja terpesona. Terlebih dompetnya yang tebal akan membuat semuanya juga mengantri untuk mendapatkannya.


Ia tak mau anaknya terlalu berharap pada manusia yang nantinya bisa saja membuat kecewa. Terlebih anaknya hanya berasal dari keluarga biasa yang jika dibandingkan dengan perempuan yang mendekati Lio akan sangat jauh perbedaannya.


***


Ratu terdiam mendengar ucapan dari ayahnya itu. Ia tak menyangka jika ayahnya tahu kalau selama ini dirinya diam-diam menaruh rasa kagum pada Lio. Terlebih sikapnya yang mau membantu oranglain membuatnya sedikit terpukau hingga ingin menjatuhkan hati padanya.


"Jangan melamun, nanti bisa kesambet setan" ucap seseorang yang baru saja datang.


Bahkan kini seseorang itu duduk satu meter dari Ratu membuat gadis itu tersentak kaget melihat ada orang didekatnya. Seingatnya tadi tak ada seorang pun di sawah itu sehingga ia bisa nyaman berpikir dan melamunkan sesuatu. Apalagi orang yang datang itu ternyata adalah Lio.


"Jangan kesini, nanti digrebek warga. Apalagi di sawah ini cuma ada kita berdua" usir Ratu sambil langsung menjauhkan tubuhnya.


"Aku akan segera ikut pulang kakekku ke kota. Aku hanya bisa bilang untuk kamu jaga hatimu untukku kelak. Suatu saat nanti aku akan kembali setelah aku dan kamu lulus sekolah. Jika saat itu tiba, aku ingin melamarmu menjadi pasangan hidupku" seru Lio setelah sedikit menjauh dari gubuk itu.


Ratu begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Lio. Ia tak menyangka jika laki-laki itu menginginkan dirinya untuk menjaga hati demi dirinya. Namun seperti apa yang ayahnya bilang, ia tak boleh berharap lebih.


"Harusnya yang jaga hati itu kamu. Banyak perempuan di kota yang lebih cantik dibanding aku. Aku tak ingin kau berjanji untuk kembali kesini dan melamarku, tapi buktikan lah ucapanmu itu" teriak Ratu saat melihat Lio yang sudah berjalan menjauh.

__ADS_1


Ratu yakin jika Lio mendengar teriakannya. Terlebih tadi ia sempat menengok kearahnya saat dirinya sedang berteriak. Ia hanya berharap sama Allah kalau kelak akan dipertemukan dengan jodoh yang memang terbaik untuknya. Perasaannya kini sedikit lega saat sudah mengetahui isi hati Lio tentangnya dan mengungkapkan apa yang ada dihatinya sendiri.


__ADS_2