
"Yang rambutnya pirang bukan itu cewek?" tanya Uli dengan tatapan penasaran.
Ratu menganggukkan kepalanya membuat mata Uli langsung membulat. Ia menatap tak percaya kalau di hari pertama teman kostnya ini datang ke kampus pada faktanya malah sudah bertemu dengan gadis itu. Bahkan sempat berdebat dan ada masalah dengan gadis itu. Uli hanya bisa menatap tak percaya sekaligus iba kepada teman barunya ini.
"Kenapa sih? Kok kayanya kamu khawatir dan melihatku kasihan kaya gitu" tanya Ratu dengan pandangan bingung.
"Dia itu pembully terkenal di kampus kita. Bahkan tak ada yang berani kasih teguran sama dia sekalipun itu pihak kampus sendiri" ucap Uli dengan raut wajah khawatirnya.
Ratu hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan seperti acuh walaupun sebenarnya ada sedikit rasa takut dalam hatinya. Namun ia percaya kalau Allah akan selalu menjaganya dimanapun ia berada. Uli hanya bisa menatap iba sambil menepuk bahu Ratu berulangkali untuk menguatkannya. Ia yakin kalau hari-harinya nanti di kampus pasti akan sangat berat.
"Kamu harus banyak sabarnya setelah ini kalau misalkan jadi target pembullyan sama gadis itu. Sudah banyak mahasiswa disana memilih keluar dari kampus karena tak kuat jadi bahan bullyan" jelasnya.
"Memang pembullyannya sampai separah itu? Apa pihak kampus tak mengetahuinya?" tanya Ratu meminta penjelasan.
Uli hanya bisa menghela nafasnya kasar ketika melihat Ratu yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi. Walaupun itu sudah merupakan rahasia umum namun ia juga tak tega kalau nanti Ratu malah ketakutan sebelum masuk kuliah disana. Terlebih pembully ini memang dilindungi pihak kampus karena orangtuanya salah satu penyokong donasi terbesar di kampus.
"Namanya Selly. Dia anak tunggal, orangtuanya pengusaha batu bara. Orangtuanya itu merupakan salah satu penyumbang dana terbesar untuk keperluan kampus. Walaupun sebenarnya masih ada yang lebih dari orangtuanya itu, namun tetap saja ia merasa diatas angin karena donatur terbesarnya itu belum ada masuk ke kampus itu" ucap Uli.
"Yang paling parah, Selly itu bikin anak orang depresi hingga masuk rumah sakit jiwa karena dikurung di gudang selama berhari-hari" lanjutnya dengan sedikit berbisik.
__ADS_1
Ratu yang mendengarnya saja sudah bergidik ngeri karena ternyata pembullyan di kota itu sungguh mengerikan dan mengandalkan kekuasaan untuk lepas dari hukuman. Kini Ratu terdiam setelah mendengar cerita dari Uli. Semangat dan antusiasnya untuk berkuliah sedikit menurun namun ia harus membuktikan pada ayahnya kalau dia bisa sukses disini.
Lagi pula ia tak mungkin mengecewakan Kakek Angga yang mau membiayai kuliahnya. Walaupun sebagian besar dari beasiswa, namun Kakek Angga sudah mengeluarkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhannya disini. Ratu memejamkan matanya untuk meyakinkan dirinya kalau dia bisa melewati tahap ini dengan baik.
"Ratu nggak peduli dengan Selly atau Sella atau Sello siapalah itu. Ratu disana hanya berkuliah dan ingin lulus agar bisa membahagiakan ayah juga kakek. Mengenai nanti dibully atau enggak, ada Allah yang akan menjaga anak baik kaya Ratu" ucap Ratu meyakinkan dirinya.
"Semangat" seru Uli sambil tersenyum.
Ratu menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum melihat Uli menyemangati dirinya. Ia yakin kalau semua yang terjadi itu atas ijin Allah, ia tak perlu takut. Lagi pula jika terjadi sesuatu nanti, ia akan meminta tolong pada Kakek Angga juga Lio dan sahabat-sahabatnya. Lio dan sahabat-sahabatnya juga berkuliah disana sehingga ia takkan merasa sendirian walaupun nantinya ia tak boleh terlalu dekat dengan mereka.
***
"Lio, besok kamu coba cek di restorant. Kakek khawatir kalau mama dan papamu itu nekat membuat kericuhan disana. Selama beberapa hari ini anak buah kakek merasa ada kejanggalan juga disana. Coba kamu cek karena tak mungkin anak buah kakek masuk ke ruanganku" ucap Kakek Angga.
"Kalau dua orang itu sampai datang ke restorant dan membuat kericuhan, boleh nggak kalau Lio kasih pelajaran dengan caraku sendiri?" tanya Lio sambil menaikturunkan alisnya.
"Terserah kamu, kakek nggak peduli sama mereka. Yang terpenting kamu harus kembali dalam keadaan baik-baik saja" ucap Kakek Angga dengan tegas.
Lio menganggukkan kepalanya dengan semangat kemudian membantu kakeknya memposisikan tubuhnya dengan benar agar bisa segera istirahat. Setelahnya ia segera beristirahat diikuti oleh ketiga sahabatnya. Setidaknya disini ia tidak merasa kesepian kalau ada sahabat-sahabatnya itu.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Lio pergi bersama dengan Nathan ke restorant milik kakeknya itu. Agung, Adin, dan ibunya yang hari ini menjaga Kakek Angga karena merupakan hari minggu. Sedangkan Yuda dan Delan pulang ke rumahnya untuk sekedar berganti pakaian.
Kakek Angga sengaja meminta Nathan untuk ikut Lio ke restorant karena khawatir dengan emosi cucunya yang kadang tak terkendali. Setidaknya kalau dengan Nathan tentunya akan ada yang menasihati Lio agar bisa menyelesaikan semua masalah dengan cara dewasa.
"Tolong siapkan laporan keuangan selama dua bulan ini. Sekalian keluhan dari pelanggan" ucap Lio kepada orang kepercayaan kakeknya di restorant ini.
Saat Lio telah tiba di restorant milik kakeknya, ia langsung melihat kearah semua area dalam dan luar tempat itu. Lio menganggukkan kepalanya karena melihat baru sepagi ini saja restorant sudah hampir penuh. Itu artinya pemasukannya harus lebih banyak karena pelanggan membludak.
Kedatangan Lio begitu mengejutkan semua karyawan yang ada di restorant tak terkecuali orang kepercayaan kakeknya. Bahkan Lio langsung saja meminta laporan yang biasanya hanya akan diperiksa oleh Kakek Angga. Walaupun begitu, orang kepercayaan kakeknya itu dengan sigap memasuki ruangannya kemudian menyerahkannya kepada Lio yang sudah berada di ruang kerja Kakek Angga.
"Ini, Mas Lio" ucap orang kepercayaan kakeknya sambil menyerahkan laporan bulan ini setelah tutup buku.
Terlebih Lio memang datangnya akhir bulan yang bertepatan dengan selang dua hari setelah tutup buku. Setelah melihat orang kepercayaan kakeknya pergi dari ruangannya, Lio mencoba memeriksa dan membandingkan laporan bulan lalu dengan bulan ini yang telah diperiksa kakeknya.
"Pengeluaran AC 3 biji 15 juta" gumam Lio.
Perasaan tadi Lio tak melihat adanya AC baru yang dipasang namun ini kok ada pengeluaran sebesar ini. Biasanya ruangan AC lebih dikhususkan untuk ruang VIP sedangkan yang biasa hanya menggunakan kipas angin. Lio menghela nafasnya membuat Nathan yang berada didepannya langsung saja mendekat kearah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Lihat... Ada pengeluaran AC 15 juta. Tadi kamu lihat ada AC baru nggak? Ini juga kompor 30 juta itu apaan coba?" kesal Lio sambil melempar laporan keuangan itu diatas mejanya sambil mengacak rambutnya frustasi.