Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Pamit


__ADS_3

Hari terus berganti hingga hari ini merupakan waktu terakhir Lio dan kakeknya berada di desa ini. Kakek Angga sudah membeli sebidang tanah yang nantinya akan dibangun untuk membuat tower jaringan internet. Ia sudah menyerahkan semua semua pembangunan serta orang-orangnya kepada Pak Hakim. Kalau nanti ada kendala, bisa langsung menghubungi dua anak buahnya yang sengaja ia tinggalkan di desa ini selama satu bulan ke depan.


Lio sudah berkeliling ke area desa untuk berpamitan kepada semua tetangga yang ada disana, terutama kepada Ustadzah Siti. Beliau lah yang membantunya selama ini entah dari makanan atau beberapa keperluan lainnya saat dia belum mempunyai orang dekat. Tentunya selain Ratu.


"Ustadzah, terimakasih sudah membantu saya selama ini. Semoga ke depannya kita bisa bertemu kembali. Ini ada sedikit rezeki untuk ustadzah dan keluarga" ucap Lio sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Rezeki berupa sembako dan sedikit uang sudah Lio letakkan diatas meja yang ada di teras rumah milik Ustadzah Siti. Ustadzah Siti begitu bahagia karena mendapatkan banyak rejeki dari Lio membuatnya kini terharu. Bahkan Ustadzah Siti berulangkali mengucapkan terimakasih pada pemuda itu.


"Sama-sama, nak. Semoga saat kembali ke kota nanti, nak Lio bisa sukses dan membahagiakan keluarganya. Jangan lupakan kami yang ada di desa ini dan mudah-mudahan nak Lio suatu saat nanti mau menjenguk kami disini" ucap Ustadzah Siti penuh harap.


Lio mengaminkan harapan dari Ustadzah Siti didalam hatinya. Setelah selesai dari rumah beliau, segera saja Lio pergi ke rumah tetangga yang lainnya. Saat masih berada di jalan ternyata ia melewati rumah Mpok Yati. Selama beberapa hari ini setelah kejadian waktu itu, Mpok Yati sama sekali tak keluar dari rumahnya jika ada Lio disitu. Sepertinya wanita paruh baya itu takut atas ancamannya waktu itu.


"Mending kasih enggak ya?" gumam Lio.


Karena dirinya baik hati, akhirnya Lio memutuskan untuk memberi sedikit rezeki pada Mpok Yati walaupun beliau sudah jahat kepadanya. Lio meletakkan sembako itu di teras rumahnya karena ia malas untuk memberikannya secara langsung. Lagi pula ia tadi melihat ada siluet seseorang yang sedang mengintip dibalik gorden jendela.

__ADS_1


"Tuh mpok... Walaupun mpok jahat sama saya, saya masih berbaik hati kasih rejeki buat mpok. Semoga mpok bisa segera berubah dengan menjaga mulutnya agar tak banyak fitnah menyebar" seru Lio saat tahu bahwa yang mengintip tadi adalah Mpok Yati.


Lio segera saja pergi dari rumah Mpok Yati kemudian pergi menuju ke tempat pujaan hatinya. Pujaan hatinya yang sebentar lagi takkan ia temui dalam jangka waktu yang lama. Dengan langkah begitu riangnya ia berjalan sambil tersenyum dan menyapa beberapa tetangganya.


"Assalamu'alaikum ya ukhti..." seru Lio saat sampai didepan rumah Pak Hakim.


"Jangan teriak-teriak bocah tengil" tegur Pak Hakim yang baru saja datang.


Bahkan Lio sampai berjengit kaget karena terkejut dengan kehadiran Pak Hakim yang ada dibelakangnya. Lio hanya bisa cengengesan karena ditegur oleh Pak Hakim yang sudah memelototkan matanya tajam. Pak Hakim langsung saja menyingkirkan Lio dengan menyenggol bahunya. Beruntung Lio bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tak jatuh bersama dengan sembako yang dibawanya.


"Mau apa kau ke rumahku? Kalau cari Ratu, dia masih sekolah" ucap Pak Hakim yang tahu dengan apa isi otak dari Lio.


"Oh iya... Jam segini kan pujaan hatiku masih di sekolah ya. Ini pak saya mau pamit, kan besok besok saya sudah kembali ke kota. Sekalian saya kesini mau ngasih seserahan eh oleh-oleh maksudnya untuk kalian sekeluarga" ucap Lio sambil cengengesan.


"Sok-sokan pakai bilang seserahan. Sekolah dulu sampai lulus terus kerja keras biar bisa memberikan nafkah pada anak saya" ucap Pak Hakim dengan sinis.

__ADS_1


Ucapan Pak Hakim itu seperti menohok dirinya. Pasalnya Kakek Angga sepertinya sudah cerita banyak mengenai ulah dirinya yang suka membolos sekolah. Tentunya kakeknya itu takkan menceritakan tentang dirinya yang ikut geng motor. Bisa-bisa penilaian buruk langsung tersemat padanya dan hal itu bisa mengurangi poin sebagai menantu idaman oleh Pak Hakim.


Untuk sementara ini, Ratu dan Pak Hakim tak boleh tahu tentang kegiatannya di kota sebagai ketua geng motor. Semua ini akan berlangsung hingga nanti ia bisa menetapkan hatinya pada Ratu. Ia ingin lihat saat kembali ke kota nanti apakah hatinya masih tertaut pada Ratu atau tidak.


"Ya namanya juga ucapan, pak. Siapa tahu kan jadi do'a bisa ngasih seserahan kepada Ratu suatu saat nanti" ucap Lio sambil cengengesan.


Pak Hakim mendengus kasar melihat tingkah Lio yang teramat santai menjawab ucapannya itu. Bahkan kini Lio sengaja seperti berlama-lama di rumahnya demi menunggu kepulangan Ratu dari sekolah. Walaupun sebenarnya Lio dan kakeknya adalah orang baik namun hatinya belum lah pas jika anaknya terikat oleh pemuda dari kota itu. Terlebih ia belum tahu asal-usul bahkan kegiatan Lio di kota itu seperti apa.


Yang ia tahu jika pemuda kota ini seperti di sinetron remaja yang suka balapan, membolos sekolah, bahkan bermain di tempat hiburan malam. Itu lah yang ia takutkan jika Lio adalah pemuda kota seperti yang ada dalam acara TV yang ia tonton di balai desa.


"Buruan pulang sana dan ya terimakasih untuk bawaannya. Ingat pesan bapak, jika kembali ke kota jangan sampai tingkahmu kembali seperti saat kamu pertama kali masuk desa ini" ucap Pak Hakim memberi pesan.


Lio hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga berharap bahwa semua ilmu yang didapatnya di desa ini bisa ia gunakan saat menjalani kehidupan di kota. Namun tentunya ia hanya bisa berharap bahwa lingkungan sekitarnya bisa mendukungnya untuk berubah.


"Iya, pak ustadz. Saya pulang dulu, salam untuk calon istriku yang belum pulang itu. Suruh ia temui aku di rumah kontrakan untuk melihatku terakhir kalinya esok hari" ucap Lio yang langsung pergi berlalu dari hadapan Pak Hakim.

__ADS_1


Bahkan Lio berlari tergesa-gesa karena takut menjadi amukan Pak Hakim setelah mengucapkan kalimat itu. Sedangkan Pak Hakim sendiri hanya bisa mengelus dadanya sabar karena Lio benar-benar menguji kesabarannya. Semoga saja anaknya kelak bisa mendapatkan jodoh yang tak seperti Lio itu. Jika pun berjodoh dengan Lio, maka pemuda itu harus lah sudah berubah dan mampu membimbing Ratu.


__ADS_2