Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Dugaan Sementara


__ADS_3

Semuanya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Lio. Pasalnya seorang Farel pasti lah tahu kalau pacarnya itu kekasih dari Lio, ketua geng motor LEXON. Walaupun Farel bukan anggota inti atau punya jabatan penting di geng AREX namun ia mempunyai strategi juga pemikiran baik mengenai penyerangan.


Mereka semua kini berpikir bahwa orang yang telah membocorkan semua permasalahan hingga strategi pada geng AREX adalah Uci. Uci yang sering keluar masuk markas tanpa pemeriksaan kemudian memberi informasi itu kepada Farel.


"Apa mungkin Uci yang membocorkan semua dari kepergian Lio hingga beberapa strategi untuk penyerangan?" tanya Yuda.


Semua orang langsung menatap kearah Yuda yang mengucapkan hal itu. Namun Lio dan Nathan menatap semua sahabat-sahabatnya disana dengan tatapan sulit diartikan. Biarlah saja jika mereka menduga-duga tentang siapa pengkhianat yang ada di geng motor LEXON.


"Mungkin iya atau tidak. Kita akan selidiki" ucap Lio dengan yakin.


Mereka semua menganggukkan kepalanya mengerti apa yang diucapkan oleh Lio. Namun disana ada satu orang yang kini tersenyum penuh kemenangan karena merasa tam dicurigai sebagai pelakunya. Namun Lio dan Nathan tentunya yang punya kepekaan tinggi langsung tersenyum sinis.


Mereka akhirnya terdiam diatas rooftop dengan sibuk pada ponselnya masing-masing. Mereka semua memilih untuk membolos kelas. Padahal Kakek Angga sudah memperingatkan Lio, namun lihat lah kini laki-laki itu malah memejamkan matanya dengan duduk di pembatas pagar rooftop.


***


"Mau ke markas atau pulang, bos?" tanya Yuda setelah mereka kini berada di parkiran.


Setelah duduk di rooftop hingga jam sekolah usai, mereka memutuskan kembali ke kelas. Saat mereka masuk kelas, sudah banyak siswa yang keluar sehingga tak terlalu jadi pusat perhatian. Mereka segera saja mengambil tasnya kemudian pergi kearah parkiran.


"Gue pulang dulu mau menemui kakek di restorant" ucap Lio.


Mereka semua menganggukkan kepalanya kemudian segera pergi dari area parkiran sekolah dengan mengendarai sepeda motornya masing-masing. Mereka melajukan sepeda motornya dengan arah yang berbeda.


***

__ADS_1


Baru dua hari pembangunan tower jaringan internet itu berlangsung. Semua berjalan dengan lancar karena semua warga ikut bergotong royong agar pembangunan tower bisa cepat selesai. Mereka tak ingin berlama-lama mengerjakan ini karena dana yang akan dikucurkan bisa saja membengkak.


Bahkan Pak Hakim meminta pengertian warga untuk tak memanfaatkan bantuan orang terlebih tidak profesional dalam bekerja. Pak Hakim tentu tak enak pada Kakek Angga jika mereka tak bekerja cepat padahal sudah diberikan fasilitas yang sangat bagus. Bahkan dalam dua hari ini, pembangunan sudah mencapai 40%.


"Progressnya sudah sejauh ini, sepertinya pembangunan tower ini takkan mencapai satu bulan sudah selesai" ucap salah satu anak buah Kakek Angga yang mengawasi.


"Tentu. Semoga warga disini segera mendapatkan manfaatnya terutama anak-anak sekolah" ucap Pak Hakim menanggapi.


Memang tujuan utama dari pembangunan tower ini adalah untuk memudahkan anak sekolah dalam mengakses ilmu pengetahuan lebih luas. Terlebih Kakek Angga tak hanya memberikan bantuan pembangunan tower jaringan saja namun beberapa komputer juga. Komputer itu nantinya akan diletakkan di dekat balai desa agar ada yang mengawasinya.


"Walaupun saya gaptek mengenai komputer atau teknologi lainnya tapi saya sangat mendukung hal ini untuk kemajuan desa dan anak sekolah disini" lanjutnya.


Anak buah kakek Angga pun menganggukkan kepalanya mengerti. Terlebih desa ini keadaannya memang sangat jauh dari kata maju dibandingkan daerah sekitarnya. Entah mengapa desa ini jauh dari kata maju padahal pihak pemerintah desa katanya sudah pernah mengajukan bantuan pada pusat.


"Saya dengar Ratu ingin melanjutkan pendidikan tinggi ke kota?" tanya anak buah Kakek Angga mengorek informasi.


Memang benar jika saat ini untuk menempuh pendidikan tinggi itu sangat susah untuk memasukinya. Bukan rahasia lagi kalau kebanyakan lulusan dari desa itu akan sangat susah berkuliah di kota. Lulusan desa akan dipandang rendah terlebih fasilitas pendidikan disini juga dibawah rata-rata.


"Coba dekati saja tuan Angga, beliau kan punya channel orang dalam. Sekali bilang juga pasti diterima di universitas favorit" ucap anak buah kakek Angga menyarankan.


"Tidak. Saya ingin Ratu itu masuk kuliah dengan prestasinya sendiri bukan karena orang dalam. Percuma masuk kuliah kalau nantinya saat lulus malah nggak jadi apa-apa. Yang penting kualitas mahasiswanya bukan kampusnya" ucap Pak Hakim menolak dengan bijak.


Anak buah kakek Angga tak menanggapi semua yang diucapkan oleh Pak Hakim. Namun diam-diam ia merekam pembicaraannya dengan Pak Hakim agar nanti bisa didengar oleh Kakek Angga. Kakek Angga sendiri lah yang menyuruh anak buahnya itu untuk menanyakan hal ini karena takut jika Lio hanya dimanfaatkan oleh keluarga gadis yang disukainya.


***

__ADS_1


"Kek, ajarin Lio mengelola restorant ini dong. Biar kakek bisa pensiun dini kalau ada aku yang bisa gantiin" ucap Lio dengan asal menyelonong masuk dalam ruangan kakeknya yang ada di restorant itu.


Bahkan Lio tak mengetahui dengan kehadiran dua orang tamu Kakek Angga yang duduk disana. Sedangkan Kakek Angga langsung menormalkan wajahnya yang tadi marah dan tegang menjadi lebih santai. Sedangkan dua orang tamu yang ada di ruangan itu langsung berdiri menatap remaja yang kini sibuk melihat kearah kakeknya.


"Lio..." panggil seorang tamu wanita kakek Angga.


Sontak saja Lio mengalihkan pandangannya kearah dua orang tamu berbeda lawan jenis itu. Raut wajahnya begitu terkejut melihat siapa yang ada di ruangan kakeknya itu. Bahkan kini Lio langsung mendatarkan wajahnya dan menatap tajam kearah keduanya.


"Mau apa kalian datang kemari?" tanya Lio dengan nada datarnya.


"Kami rindu denganmu, nak" ucap seorang wanita yang tak lain Mama Lio.


Cihhh...


Lio berdecih sinis mendengar ungkapan dari mamanya itu. Tentunya pemuda itu takkan mudah percaya dengan apa yang diucapkan mamanya. Sudah lebih dari 5 tahun mereka tak bertemu membuat hati Lio benar-benar membeku.


Tatapan datar syarat akan kekecewaan dan kebencian ia layangkan pada wanita yang melahirkannya itu. Disampingnya ada seorang laki-laki dewasa yang tak lain adalah Papa Lio sendiri. Bukan hanya dengan mamanya, namun Lio juga menatap sinis pada papanya.


"Bulsyitttt... Jangan ngomong rindu, lebih dari 5 tahun kalian kemana. Hey... Sadar diri itu penting" ketus Lio.


Bahkan kini Kakek Angga langsung menarik tangan Lio untuk duduk di kursi sofa khusus tamu. Namun Lio memberontak dan malah duduk di kursi kebesaran kakeknya. Kakek Angga hanya bisa menghela nafasnya pasrah karena ia tahu luka yang ditorehkab oleh kedua orangtuanya itu begitu menyakitkan.


"Maafkan kami, nak. Kami menyesal telah melukai hati dan fisikmu" ucap Papa Lio yang sedari tadi diam.


"Kek, tolong masukin ke penjara aja mereka. Tadi mereka sudah mengaku lho kalau menyakiti fisikku. Itu masuk tindak penganiayaan pada anak dibawah umur kan?" ucap Lio berbicara pada kakeknya.

__ADS_1


Kedua orangtua Lio tak menyangka jika anaknya yang manis kini berubah jadi bengal seperti ini. Keduanya sontak saja langsung menatap kearah Kakek Angga dan mencoba menyalahkan pria tua itu karena membuat Lio berubah.


"Papa, pasti papa kan..."


__ADS_2