
"Jadi gimana Pak Ustadz? Saya kan udah berhasil nih nangkap pencopetnya, bolehlah ya restui saya buat menjalin kasih dengan anak bapak" ucap Lio sambil menaikturunkan alisnya.
Sepertinya sekarang Lio mempunyai kebiasaan baru yang sungguh menyenangkan yaitu menjahili dan menggoda Pak Hakim yang notabene ayah dari Ratu, gadis yang selalu hadir dalam ingatannya beberapa hari ini. Pak Hakim melotot tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Lio itu.
"Bocah gendeng, jangan harap kamu bisa mendekati anak saya" seru Pak Hakim dengan menatap marah Lio.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang" tantang Lio dengan gaya tengilnya.
Tanpa menggubris ucapan Lio yang semakin asal, Pak Hakim pergi berlalu dari hadapan pemuda itu. Bahkan ia sampai melupakan bocah laki-laki yang tadi menjadi pelaku pencopet. Warga sekitar yang tadi ikut mengejar pun sepertinya lupa karena sibuk dengan pemilik dompet berisi selembar uang seribu itu. Lio membalikkan badannya sehingga terlihat bocah laki-laki itu masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu bisa mencopet? Mana nyopetnya salah orang lagi" ucap Lio sambil terkekeh pelan.
"Adin butuh uang untuk ke puskesmas soalnya ibu Adin sakit. Adin udah kerja tapi uangnya tidak cukup" ucap bocah laki-laki bernama Adin itu dengan lirih.
Lio merasa tertegun dengan apa yang terjadi oleh anak didepannya ini. Hal ini membuat ia bersyukur jika selama ini hidupnya selalu berkecukupan. Berkat kakeknya, kehidupannya tak pernah merasa kekurangan. Dalam relung hatinya, ia merasa bersalah pada kakeknya yang susah payah membiayai hidupnya namun ia malah nakal bahkan sering tak mematuhi perintahnya.
"Kalau gitu ayo kita antar ibumu ke puskesmas. Biar nanti kakak yang bantu biayain" ucap Lio dengan suara sedikit serak.
Lio merasa terenyuh dengan perjuangan bocah ini demi membiayai biaya puskesmas sampai rela mencopet. Walaupun caranya salah namun ia mengapresiasi dengan kegigihan bocah itu. Lio pun meminta ijin pulang ke rumahnya sebentar untuk mengambil dompet karena tadi buru-buru hingga tak sempat membawanya.
__ADS_1
Tak berapa lama, Lio kembali untuk menemui Adin yang kini sedang duduk didekat balai desa sambil memainkan jari-jari mungilnya. Ia segera menggandeng tangan Adin untuk menunjukkannya jalan menuju rumahnya. Mereka berjalan melewati pasar, ternyata letak rumah itu berada dibelakangnya. Lingkungannya begitu kumuh karena berada didekat pembuangan sampah, bahkan Lio harus menahan rasa mualnya karena bau yang begitu sedap.
"Ibu, ayo ke puskesmas" ajak Adin yang berlari kedalam sebuah rumah berdinding triplek kayu itu.
Lio pun sedikit mengintip kearah dalam rumah itu sehingga bisa melihat bagaimana keadaannya. Lio sungguh merasa miris dengan kehidupan Adin dan ibunya itu karena rumah itu begitu sempit. Bahkan jika ia masuk dan sandaran di dindingnya mungkin akan roboh. Lagi-lagi ia merasa besyukur dengan kehidupannya yang jauh dari kata kekurangan.
Adin membantu ibunya untuk keluar dari rumah kecil itu. Lio langsung membopongnya karena saat dipapah oleh Adin, ia melihat kondisi ibu itu benar-benar lemah. Karena merasa kasihan, Lio akan membopong ibu itu sampai puskesmas. Awalnya Adin menolak karen tak enak dengan Lio yang sudah membantunya namun laki-laki itu begitu keras kepala dan tak menggubris penolakan bocah laki-laki itu.
***
Cukup lumayan lama Lio berjalan menuju puskesmas yang jaraknya jauh dari rumah Adin. Bahkan kini wajahnya sudah bercucuran keringat karena terik matahari yang begitu panas. Namun ini tak menyurutkan langkahnya untuk membantu sesama. Setidaknya imagenya disini tak buruk seperti saat di kota dulu.
"Din, cari petugas medis buat bawain brankar kesini" titah Lio.
"Kok sendirian? Ini ibumu harus dibawa kemana kalau nggak ada petugas medis yang menjelaskan?" ucap Lio sambil membaringkan Ibu Adin diatas brankar.
"Mereka sibuk, katanya" jawab Adin jujur.
Lio mengepalkan kedua tangannya erat saat tahu maksud terselubung dari kalimat yang diucapkan oleh petugas medis itu. Bahkan di puskesmas ini hanya beberapa orang saja yang terlihat mondar mandir yang berarti sedang tak ada pasien banyak. Bahkan ada juga petugas medis yang keluar masuk dengan membawa makanan.
__ADS_1
Sepertinya Lio tahu alasan dari petugas medis tak mau membantu Adin membawa brankar. Pakaian Adin yang sangat lusuh serta penampilannya yang kucel menjadi faktor utamanya. Mereka berpikir bahwa Adin akan berobat disini dengan meminta keringanan biaya. Bukannya mau suudzon sama orang, namun Lio sudah mengenali orang-orang seperti ini di kota besar.
"Ya sudah, ayo kita dorong brankar ini ke ruang UGD yang ada disana" ucap Lio mencoba menetralkan emosinya.
Adin yang masih kecil tentunya tak paham dengan sifat orang-orang seperti itu dan Lio mencoba memakluminya. Mereka berdua langsung mendorong brankar milik Ibu Adin kearah ruang UGD yang sempat Lio lihat tadi. Sesampainya disana, tak ada satupun petugas medis atau siapapun yang bisa mereka mintai pertolongan.
"Astaga..." gumam Lio pelan sambil menghela nafasnya.
"Adin tunggu ibu disini, biar kakak yang cari bantuan" ucapnya.
Adin menganggukkan kepalanya kemudian Lio segera melangkahkan kakinya kearah ruang pendaftaran. Dengan kesalnya, Lio sampai menggebrak meja pendaftaran disana. Bahkan disana ada beberapa petugas yang berjaga dengan saling bergosip satu sama lain namun saat Adin datang meminta bantuan malah bilang sibuk.
"Hei... Kalian tak lihat ada orang sekarat di UGD? Mau makan gaji buta kalian? Kerja bukan gosip aja bisanya" sentak Lio.
Melihat wajah garang Lio, beberapa petugas wanita ketakutan. Terlebih dari pakaian Lio yang sepertinya pemuda dihadapan mereka bukanlah orang sembarangan. Pasalnya Lio kini menggunakan pakaian saat awal masuk desa ini.
Bahkan Lio dengan sengaja menunjuk-nunjuk kearah mereka dengan jarinya. Segera saja mereka bergerak untuk menuju ke UGD agar bisa membantu proses administrasi. Lio juga mengikuti mereka dengan langkah cepat agar Adin nanti tak dihina lagi.
"Cepat..." sentaknya.
__ADS_1
Beberapa petugas medis langsung menghubungi dokter dan meminta keterangan dari Adin. Terlihat sekali kalau raut tak ikhlas terpancar dari wajah mereka saat berdekatan dengan Adin dan ibunya. Bahkan Adin sampai risih karena terus ditatap sinis oleh para petugas medis itu. Kalau tak takut dengan Lio, pasti mereka sudah mengusir Adin.
Memang di tempat pelayanan kesehatan ini banyak yang mengeluhkan tentang pelayanannya yang kurang baik. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk dalam puskesmas ini jika sakit. Jika sakit, para warga sekitar memilih untuk membeli obat di warung daripada kesini.