
Rencana kepulangan Lio ke kota sudah terdengar hampir di seluruh warga desa itu. Ada yang sedih namun juga yang bahagia karena tak ada orang sombong di desanya. Sebagian dari mereka yang mengatakan sombong adalah warga yang tak diijinkan meminjam mobil. Padahal Lio sudah menjelaskan bahwa tak bisa sembarang orang dapat memakai mobil mereka terutama yang tak bisa mengemudi.
"Syukur alhamdulillah karena pemuda itu segera pergi dari sini" ucap Mpok Yati yang kini sedang ngerumpi bersama ibu-ibu dengan yang lainnya.
"Harusnya nggak boleh seperti itu, mpok. Mas Lio itu kan punya alasan sendiri kenapa nggak pinjamin kita mobilnya. Toh di desa ini nggak ada yang bisa mengendarai mobil mewah seperti itu. Nanti kalau nabrak, apa kalian mau tanggungjawab? Mahal lho itu biaya di bengkelnya" ucap Ustadzah Siti yang kebetulan lewat.
Tadi saat Ustadzah Siti lewat sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip ria, ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka tentang mobil Lio. Ia langsung mendekat kemudian menegur mereka dengan memberi beberapa nasihat. Semua ibu-ibu yang ada disana terdiam terlebih memang apa yang diucapkan beliau adalah benar adanya.
"Tapi tetap saja pelit. Kan bisa itu karyawannya jadi sopir kita sebentar untuk hanya sekedar keliling desa ini" ucap Mpok Yati.
Sebenarnya kemarin saat meminjam mobil itu mereka sekalian ingin meminta tolong salah satu anak buah Kakek Angga untuk menyopirinya. Namun permintaan awal saja sudah ditolak bagaimana dengan yang kedua itu. Terlebih yang namanya karyawan kalau disuruh pasti harus ada bayaran kan.
"Itu mah karyawannya kakeknya Lio. Lio juga tak berhak dong untuk menyuruh atau mengatur mereka, kan yang membayar itu kakeknya" ucap Ustadzah Siti meluruskan.
Ustadzah Siti segera saja pergi dari kerumunan ibu-ibu yang terdiam setelah mendengar ucapannya itu. Ia tak mau menambah dosanya karena emosi mendengar pembelaan mereka. Mereka sedari dulu memang susah untuk diberitahu dan dinasihati kalau belum terkena getahnya sendiri juga tidak akan berhenti.
***
"Nak Lio mau pulang ke kota jadinya?" tanya Ibu Adin yang kini tengah berbincang dengan Lio.
Setelah kembali dari sawah tadi, Lio segera pulang kembali ke rumahnya. Disana ia sudah disambut oleh Ibu Adin yang tersenyum lembut kearahnya. Tadi Kakek Angga sudah memberitahu tentang Lio yang akan ikut pulang dengannya satu mingguan lagi.
__ADS_1
"Iya, bu. Ada beberapa masalah yang harus segera Lio bereskan. Lagi pula ini Lio juga masih sekolah, udah beberapa minggu bolos nih" ucap Lio sambil cengengesan.
Walaupun ia sudah terbiasa membolos sekolah, namun setelah berada disini beberapa hari membuatnya tersadar. Sadar kalau pendidikan itu penting bahkan seharusnya ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh sang kakek. Banyak orang yang tak seberuntung dirinya bisa merasakan sekolah hingga SMA bahkan nanti kuliah.
"Maka selesaikanlah segera. Ibu dan Adin akan mendo'akanmu dari sini" ucap Ibu Adin.
Sebenarnya Ibu Adin akan merasa sangat kehilangan jika Lio pergi karena ia sudah terbiasa mengurus dua anak sekaligus. Namun dirinya tak boleh egois karena Lio mempunyai kehidupannya sendiri di kota yang merupakan kehidupan aslinya.
"Tenang saja, bu. Lio akan segera menyelesaikan semua urusanku di kota lalu ke sini lagi untuk melamar Ratu" ucap Lio sambil bercanda.
Ibu Adin hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar candaan dari Lio. Terlebih itu sudah urusannya anak remaja yang dirinya tak mau ikut campur. Ia hanya berharap kalau Lio bisa mendapatkan pasangan yang terbaik dan tentunya bisa menerima kekurangan pemuda tengil itu.
***
"Pak, kok cucunya pelit sih mau pinjam mobil saja tidak boleh" kesal seorang ibu-ibu dengan beraninya mendekat kearah rombongan Kakek Angga dan anak buahnya yang tengah berjalan.
Kakek Angga dan anak buahnya hendak mencari sesuatu yang bisa membuat mereka melakukan perubahan pada desa ini. Setidaknya ada perubahan dalam bidang teknologi disini agar anak-anak remaja atau yang masih berusia produktif itu bisa mengakses informasi seluas mungkin. Mereka juga bisa mendapatkan pengetahuan lebih banyak lagi dengan internet.
Namun saat mereka tengah sibuk berdiskusi, tiba-tiba saja ada seorang ibu-ibu yang langsung mengomelinya dan menghadang jalannya. Kakek Angga dan anak buahnya begitu terkejut namun salut akan keberanian ibu-ibu itu. Pasalnya selama di kota juga tak ada satu pun yang berani mendekati mereka jika sudah berjalan di tempat umum.
"Cucu saya nggak pelit. Lagian kalian pinjam mobilnya sama dia, cucu saya kan nggak punya mobil" ucap Kakek Angga sambil terkekeh.
__ADS_1
Ucapan Kakek Angga itu terkesan santai namun begitu menusuk hati ibu-ibu itu. Bahkan beberapa orang yang ternyata mengikuti ibu itu juga langsung terdiam. Mereka bahkan tak bisa membalikkan ucapan Kakek Angga itu. Awalnya anak buah Kakek Angga ingin membuat pembatas untuk pria paruh baya itu agar ibu itu tak dapat mendekat. Namun Kakek Angga memberi kode untuk membiarkannya saja.
Karena sudah terlanjur malu, akhirnya ibu-ibu itu memilih pergi diikuti oleh temannya yang lain. Kakek Angga terkekeh geli melihat wajah-wajah kecewa dari warga yang ada disini. Pasalnya walaupun mereka akan meminjam langsung pada Kakek Angga tak mungkin karena belum saling mengenal.
"Ayo kita lanjutkan, kalau bisa cari lahan kebun yang tak digunakan dan luas" ucap Kakek Angga.
"Baik tuan" ucap anak buah Kakek Angga dengan tegas.
Mereka pun melanjutkan acara berkeliling desa ini untuk mencari lahan yang sekiranya berpotensial untuk mendirikan tower jaringan internet desa. Bahkan Kakek Angga akan membiayai keseluruhan pembangunan tower ini sekaligus biaya layanan internet seumur hidupnya.
"Kakek..." seru seseorang memanggilnya sambil tersenyum tipis.
Kakek Angga mengalihkan pandangannya yang ternyata disana ada seorang gadis manis tengah menyapanya dengan mengayuh sepedanya. Ia adalah Ratu yang baru saja pulang dari pasar untuk membeli beberapa bahan sayuran untuk memasaknya besok pagi. Kakek Angga tersenyum hangat melihat Ratu yang begitu ramah dan cerianya itu.
"Pantas saja tuh si tengil terpesona sama ini gadis. Dia aja senyumnya manis banget" batin Kakek Angga kagum.
"Darimana? Kok sore-sore begini rajin amat sepedaan" ucap Kakek Angga dengan ramahnya.
"Dari pasar, belanja sayur" jawab Ratu dengan semangat.
Kakek Angga begitu suka dengan sikap gadis yang ada didepannya ini. Walaupun gadis desa namun ia mempunyai sikap sopan santun yang luar biasa. Berbeda dengan orang kota yang selama ini dikenal sebagai teman cucunya yang kadang malah seperti seorang yang ingin menjajakan dirinya.
__ADS_1