
"Kamu kenapa sih Ratu bisa kaya begini? Kalau jalan kemana pun itu berdo'a dulu" marah Pak Hakim.
Setelah sadar dari rasa shock dan terkejutnya, Pak Hakim langsung saja mengarahkan pandangannya kearah sang anak. Ratu yang masih dikelilingi oleh Lio dan bapak-bapak yang tadi membantunya. Setelah tadi membaringkan Ratu di kursi panjang, Lio juga segera memberikan air minum untuk gadis itu. Namun setelah meminum satu gelas air, ternyata sang ayah yang kesadarannya telah pulih memilih menyalahkan dan memarahi Ratu.
Lio dan bapak-bapak yang lainnya segera menyingkir dari Ratu. Bahkan Ratu terlihat masih shock dan terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpanya itu. Namun sang ayah yang tak mengerti keadaannya langsung membobardirnya dengan pertanyaan yang membuatnya pusing. Lio dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan oleh Pak Hakim itu.
"Maaf ayah, tadi Ratu ingin mengambil air dari sumur. Namun karena tangan Ratu licin jadi tiba-tiba ember berisi air yang sudah aku angkat dengan menarik talinya itu malah balik menarik badan kearah sumur. Beruntung Ratu langsung memegang pembatas batu bata sumur itu" ucap Ratu dengan sedikit menundukkan kepala.
"Makanya jangan ceroboh. Kalau malam-malam itu istirahat bukannya malah kelayapan ambil air di sumur. Bisa mati berdiri ayah kalau sampai tadi kamu tercebur beneran kesana" sentak Pak Hakim.
"Maaf..." lirih Ratu.
Mereka yang menyaksikan kemarahan Pak Hakim pada sang anak pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Harusnya sebagai seorang ayah itu menanyakan bagaimana keadaan anaknya terlebih dahulu bukan malah memarahinya. Terlebih ini masalah mengambil sumur saja kalau malam tidak boleh, benar-benar keterlaluan sepertinya didikan Pak Hakim yang keras ini.
Sepertinya ketakutan dan trauma yang dimiliki oleh Pak Hakim karena kehilangan istrinya itu membuat dampak begitu hebat pada kehidupan pria paruh baya itu kedepannya. Terutama pengaruh pada didikannya kepada Ratu yang dinilai begitu keras. Walaupun sebenarnya Pak Hakim ini jika bersama jamaahnya akan negmong bahkan menasihati dengan dewasa.
"Mohon maaf Pak Hakim yang terhormat. Bukannya saya menyela atau menggurui anda, cuma menurut saya anda itu terlalu berlebihan dalam menyikapi hal ini" ucap Lio menyela pembicaraan keduanya.
__ADS_1
Bahkan Pak Hakim nafasnya sudah naik turun karena sehabis memarahi Ratu yang kini matanya berkaca-kaca. Lio yang melihatnya benar-benar tak tega, pasalnya ia juga pernah berada di posisi seperti Ratu yang selalu dimarahi oleh orangtuanya. Dan rasanya itu tak enak hingga membekas dalam ingatannya sampai kini.
Para warga yang lainnya mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh Lio. Namun sepertinya Pak Hakim menganggap semua itu penghinaan bahkan langsung menatap tajam kearah Lio yang berdiri dengan santainya. Tak seperti warga lain yang mungkin akan sedikit menunduk tak mau melihat kearah Pak Hakim, namun Lio malah menatap tajam pria paruh baya itu.
"Berlebihan? Tahu apa kamu soal seperti ini, kamu saja masih anak ingusan. Belum tahu menikah dan punya anak itu rasanya seperti apa sehingga takkan mengerti bagaimana rasanya kehilangan" sentak Pak Hakim tak terima.
"Saya memang masih anak ingusan, namun kehidupan saya mungkin jauh lebih suram daripada anda sendiri. Saya sudah berulangkali merasakan kehilangan bahkan kasih sayang sekali pun dari orang terdekat. Saya tahu bagaimana rasanya dibentak dan dididik begitu keras hingga membuat trauma dalam hidup saya hingga kini. Maka dari itu jika melihat anak dibentak terlebih itu perempuan, maka saya akan membelanya. Bentakan bahkan kata-kata kasar itu akan diingat sampai anak itu dewasa, jadi jangan salahkan anak anda saat dewasa nanti bisa melakukan hal yang sama kepada anda" ucap Lio dengan nada datarnya.
Tanpa berpamitan, Lio segera saja pergi berlalu dari rumah Ratu dengan melewati pintu belakang seperti awal masuk tadi. Ia tak mempedulikan para warga yang masih ada disana dan Pak Hakim yang terdiam setelah mendengar ucapannya. Ia tak peduli jika gara-gara ucapannya nanti malah membuat hubungannya dengan warga di desa ini memburuk.
Lio benar-benar tak bisa menyembunyikan unek-uneknya saat melihat kejadian Pak Hakim memarahi Ratu. Bahkan ia juga harus berperang dengan pikirannya sendiri agar amarahnya tak meledak. Karena semua ingatan tentang bentakan kedua orangtuanya saling beradu dalam pikirannya akibat melihat kejadian itu.
"Terimakasih sudah membantu saya, pak" ucap Ratu dengan tersenyum tipis.
Para warga itu menganggukkan kepalanya kemudian pergi berlalu setelah berpamitan. Bahkan Pak Hakim juga hanya terdiam tak merespons ucapan warga yang juga berpamitan kepadanya. Setelah melihat semua warga pergi, Pak Hakim langsung masuk kedalam kamarnya tanpa mengucapkan apapun. Ratu yang melihat itu merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.
"Semoga setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Mas Lio tadi, ayah akan sadar kemudian tak mengulanginya lagi dengan mendidikku lebih bijak lagi" gumam Ratu berharap.
__ADS_1
Ratu pun segera beranjak dari baringannya diatas kursi menjadi duduk. Tadi setelah diperiksa sedikit, ternyata kakinya sedikit terluka akbat gesekan dengan pembatas sumur saat terjatuh. Ia segera masuk ke kamarnya untuk istirahat karena esok pekerjaan sekolah dan rumah telah menanti.
***
"Den Lio ndak usah dengarin ucapan Pak Hakim tadi yang mungkin menyinggung" ucap salah satu bapak-bapak yang baru saja datang.
Ternyata Lio tak langsung pulang ke rumah kontrakannya melainkan duduk di pos ronda. Lio hanya menjawabnya dengan anggukan saja kemudian mereka mulai menghitung uang jimpitan yang telah diambil. Digabung dengan para warga yang berkeliling kearah selatan akhirnya tugas ronda malam ini selesai. Lio memilih untuk pulang karena jadwal tunggu pos ronda sampai pagi sudah ada bagiannya sendiri.
"Baru pulang, nak?" tanya Ibu Adin saat melihat Lio yang membuka pintu rumah.
Lio terkesiap pasalnya ia tadi merasa tak ada seorang pun ada disana. Namun ternyata saat ia akan menutup kembali pintunya, Ibu Adin mengejutkannya hingga ia sedikit memejamkan matanya. Lio membalikkan badannya kemudian tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Ibu belum tidur?" tanya Lio setelah berhasil mengunci pintu.
"Belum. Baru selesai membersihkan dapur belakang soalnya tadi habis makan langsung ke masjid jadi belum sempat bersih-bersih" ucap Ibu Adin.
"Harusnya besok saja, bu. Lagi pula ibu masih belum sembuh total" ucap Lio.
__ADS_1
Ibu Adin hanya menanggapi ucapan Lio dengan gelengan kepala pertanda bahwa ia sudah baik-baik saja. Setelahnya mereka berdua menuju kamarnya masing-masing untuk istirahat. Ibu Adin bersama anaknya tidur dalam satu kamar sedangkan Lio berada disebelahnya.