
Lio dengan sabar menunggu urutan untuk mendaftarkan Agung sebagai siswa baru di sekolah swasta terbaik di kota itu. Agung yang baru pertama kalinya melihat gedung sekolah yang begitu besar dan luas hingga ruangan yang begitu banyak pun hanya bisa menatapnya kagum. Bahkan dalam genggaman tangan Lio, Agung terus memindai tiap sudut sekolah yang nantinya akan menjadi tempatnya menempuh pendidikan.
Saat sampai di ruangan khusus mendaftar calon siswa baru pun Agung tak henti-hentinya mengucap syukur karena diberikan kesempatan menempuh pendidikan di sekolah terbaik seperti ini. Sedari tadi Agung tak melepaskan genggaman tangannya dari Lio karena begitu bahagia mempunyai sosok seorang kakak seperti laki-laki disampingnya ini. Disana juga ada beberapa calon siswa baru pindahan yang statusnya sama seperti Agung yang mendaftar disini.
"Atas nama Agung Fatah Thohang" panggil salah satu petugas administrasi.
Lio dan Agung maju ke depan kemudian bocah kecil itu mengeluarkan beberapa berkas yang sudah dipersiapkan oleh Kakek Angga. Ia segera menyerahkannya dengan Lio yang harus mengisi beberapa identitas wali. Tadi ia sudah menghubungi Pak Alam, ayah dari Agung dan memintanya untuk diwakili Lio saja karena kini beliau sedang ada di luar kota.
Pak Alam memang sedang ada di luar kota untuk menjalani pelatihan bela diri dan ketangkasan di aula yang di peruntukkan khusus anak buah Kakek Angga. Hanya butuh satu bulan untuk beliau nanti belajar disana sehingga ia menitipkan anaknya dalam didikan dan pengasuhan Kakek Angga juga Lio. Tentunya Lio tak keberatan karena memang sudah menganggap Agung sebagai adiknya sendiri.
Beberapa menit saja mereka mengisi semua formulir dan verifikasi kelengkapan berkas hingga akhirnya Agung dinyatakan diterima sekolah disini. Lio diminta untuk menyelesaikan administrasi keuangan ke ruangan sebelah sedangkan Agung memilih untuk menunggu di ruangan itu.
"Kamu tunggu disini, biar kakak yang ngurus ini dulu ke sebelah" ucap Lio sambil tersenyum tipis.
Agung menganggukkan kepalanya kemudian Lio berlalu pergi dari ruangan itu. Tak berapa lama, Lio kembali dengan selembar kertas yang ada ditangannya. Segera saja Lio memberikan bukti pembayaran itu kepada petugas pendaftaran yang ada disana. Agung yang tak sengaja melihat nominal biaya yang ada di kertas kuitansi itu pun membulatkan matanya.
"Abang, itu mahal sekali. Uang abang dan kakek nanti bisa habis kalau buat bayar itu" bisik Agung tepat ditelinga Lio.
"Uang kakek masih banyak. Keburu jamuran nanti kalau nggak dipakai jadi kita hambur-hamburin aja" ucap Lio dengan berbisik juga.
Agung hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Lio. Terlebih laki-laki itu malah tertawa sendiri setelah mengucapkan kalimat itu. Agung masih tak percaya dengan nominal yang tertulis di selembar kuitansi itu karena merasa bahwa biaya sekolahnya begitu mahal hingga menyentuh puluhan juta.
Setelah pembayarannya berhasil diverifikasi akhirnya petugas pendaftaran itu memberikan beberapa bukti bahwa Agung telah menjadi siswa di sekolah ini. Untuk mulai masuk sekolah dua hari lagi dan seragam akan dikirimkan pada esok hari ke alamat yang tertera.
__ADS_1
***
"Terimakasih abang sudah mau menemani Agung. Mana harus bayar mahal lagi" ucap Agung dengan tulus.
"Iya, pokoknya kamu harus belajar yang rajin dan bisa membanggakan bapak kamu" ucap Lio memberi pesan.
Agung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Ia berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh agar semua orang yang ada didekatnya itu bangga padanya. Terutama untuk sang bapak, Lio, dan Kakek Angga yang sudah mau membantu juga mendampinginya.
Kini Lio dan Agung sudah berada di dekat gerbang sekolah karena bocah kecil itu telah dijemput oleh sopir kakeknya. Agung langsung masuk dalam mobil itu kemudian melambaikan tangannya kearah Lio.
Setelah melihat mobil yang membawa Agung telah menjauh, Lio segera ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Lio segera naik sepeda motornya kemudian melajukannya kearah warung yang ada di samping sekolahnya.
"Buk... Titip motor ya" seru Lio setelah memarkirkan sepeda motornya di dekat warung.
Lio segera saja pergi dari sana kemudian memanjat pagar dengan bantuan batang pohon disampingnya. Dengan lincahnya Lio menaikinya bahkan kini sudah sampai diatas tembok. Tanpa apa-apa segera saja Lio melompat dari atas tembok itu hingga mendarat mulus diatas tanah.
Brughhh...
Lio mengalihkan pandangannya kearah kanan dan kirinya untuk melihat situasi yang ada di belakang gedung kelasnya ini. Ia kemudian segera saja bangkit hingga berjalan dengan santai menuju halaman belakang sekolah.
"Hai sayang..." seru Lio saat melihat seorang gadis yang terlihat sudah menunggunya itu.
"Kok lama banget sih datangnya?" tanya seorang gadis itu dengan mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Kan aku harus manjat tembok dulu buat masuk ke sini" ucap Lio yang kemudian duduk disamping gadis itu.
Gadis itu merupakan Uci yang tak lain adalah kekasihnya. Ia sengaja menghubungi Uci untuk menemuinya tadi setelah ia selesai dengan urusannya di sekolah Agung. Ada sesuatu yang ingin ia selesaikan sehingga kehidupannya mendatang tak terlalu ribet.
Uci masih mencebikkan bibirnya kesal bahkan memainkan kakinya dengan dihentak-hentakkan kasar. Ia sudah menunggu lebih dari 10 menit disini membuatnya sedikit kesal. Bahkan saat Lio datang ia kini malah mendiamkannya namun laki-laki itu sepertinya tak peduli hingga tampak santai saja.
"Aku disini ingin bilang sesuatu sama kamu. Kita putus aja ya" ucap Lio dengan santainya.
Bahkan kini matanya menerawang lurus ke depan. Bayang-bayang tentang wajah Ratu terus menghantuinya membuat ia harus segera mengambil keputusan. Ia tak ingin menyakiti siapapun disini sehingga sebagai laki-laki harusnya bisa tegas dalam berkomitmen.
Sedangkan Uci yang mendengar ucapan Lio itu sontak saja memelototkan matanya kemudian menatap kearah kekasihnya. Ia tak terima diperlakukan seperti dibuang, padahal awalnya ia begitu bahagia karena pacarnya telah kembali. Namun setelah kembali malah dia diputuskan secara sepihak seperti ini.
"Kamu nggak bisa buang aku kaya gini dong, Lio. Aku mau menerima segala kekuranganmu walaupun kamu tak pernah sekali pun memberikanku uang banyak. Bahkan aku setia juga padamu saat kamu lagi pergi selama hampir sebulan ini" ketus Uci tak terima.
"Aku tak membuangmu. Aku hanya memutuskan hubungan kita saja. Kalau aku membuangmu, saat ini pasti kamu sudah ada dalam kantong sampah" ucap Lio dengan santainya.
Uci merasa tersinggung karena dirinya diibaratkan menjadi sampah. Bahkan kini ia langsung berdiri kemudian menatap Lio dengan tajamnya. Bibir bergincu merah tebal itu mengerucut membuat Lio diam-diam bergidik geli. Lio tak menyangka jika selama ini dirinya tak bisa melihat mana yang cantik alami dengan yang buatan.
"Pokoknya aku nggak mau putus" seru Uci.
"Aku tak perlu persetujuanmu. Yang jelas saat ini kita sudah tak punya hubungan apapun lagi. Lagi pula aku tahu kalau selama ini kamu memanfaatkan statusmu sebagai pacarku hanya demi agar dihormati sama siswa disini saja kan? Kamu juga sudah punya pacar di sekolah lain" ucap Lio sambil menyeringai sinis.
Lio langsung saja berlalu pergi dari hadapan Uci yang kini tampak terkejut dengan ucapan Lio. Uci hanya bisa menghentakkan kakinya kesal karena rahasianya selama ini terbongkar juga. Ia tak ingin kehilangan pamornya karena sudah putus dari Lio.
__ADS_1