
Lio terdiam didalam kamarnya sendiri sambil menatap langit-langitnya. Semenjak kejadian tadi sore membuatnya tak enak untuk makan. Bahkan ia hanya menerima rantangan berisi makanan itu kemudian meletakkannya diatas meja dekat dapur. Biarlah nanti Adin dan ibunya yang akan memakan semua makanan itu.
Kondisi ibu Adin sudah lebih baik bahkan sudah bisa berjalan walaupun tak bisa lama-lama. Bahkan badannya sudah lebih segar dan kemarin sempat meminta ijin padanya untuk mencari pekerjaan. Namun Lio masih belum mengijinkannya karena khawatir kalau kondisinya belum pulih benar.
"Apa aku udah salah bersikap ya? Sampai menyinggung Ratu seperti itu" gumam Lio sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Perasaan kalau di kota, gadis-gadis mah langsung malu-malu kucing kalau ku gombali" lanjutnya.
Rasanya Lio mulai frustasi untuk memecahkan teka-teki tentang Ratu. Sepertinya ia harus memantapkan tujuannya mendekati Ratu itu karena apa dulu. Kalau hanya memainkan perasaannya sudah pasti ia akan berhadapan dengan bapaknya. Ia juga disini hanya satu bulan yang bisa saja takkan kembali ke desa ini sehingga tak boleh memberikan harapan kepada gadis-gadis disini.
"Nak Lio, ayo makan" ajak Ibu Adin yang langsung melongokkan kepalanya.
Tadi Ibu Adin sudah mengetuk pintu kamar Lio berulangkali namun pemuda itu tak kunjung membuka pintunya. Akhirnya dengan keberaniannya, Ibu Adin melongokkan kepalanya sehingga bisa melihat kalau Lio sedang melamun sambil bergumam sendiri.
Mendengar ada suara yang memanggilnya, Lio langsung tersadar dari lamunannya. Lio segera mengalihkan pandangannya kemudian mengubah posisinya menjadi terduduk. Melihat senyum dari Ibu Adin membuatnya rindu dengan sosok seorang ibu. Bukan rindu ibu kandungnya, hanya saja ia rindu bagaimana pelukan atau kasih sayang dari seorang mama.
Melihat Lio yang malah terdiam menatap dirinya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca akhirnya membuat Ibu Adin berjalan mendekat kearah pemuda yang membantunya itu. Ia mengelus pipi Lio dengan lembutnya membuat laki-laki itu langsung mengusap air matanya yang jatuh di kedua pipinya.
__ADS_1
"Nak Lio kenapa? Kangen ya sama ibunya karena nggak bisa ketemu selama satu bulan" tanya Ibu Adin.
Lio tersenyum kecut mendengar ucapan dari Ibu Adin. Mana ada Mama Lio akan merindukannya balik saat ia tengah rindu pada wanita paruh baya itu. Sosok mamanya yang tak pernah selalu ada untuknya sudah membuat luka di hati Lio menganga lebar. Bahkan hanya untuk bertanya bagaimana kabar dirinya saja tak pernah.
"Nggak mungkin mama saya rindu Lio. Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya tanpa kehadiran Lio" ucap Lio sambil tersenyum miris.
Ibu Adin yang mendengar hal itu merasa bersalah karena telah membahas tentang keluarga kepada Lio. Ibu Adin mengusap lembut rambut Lio membuat pemuda itu memejamkan matanya merasakan usapan dari sosok seorang ibu. Begitu hangat dan membuatnya nyaman sehingga membuat Lio meneteskan air matanya.
"Ibu memang tak tahu tentang kehidupan kamu sebenarnya. Namun di hati seorang ibu pasti ada rasa rindu untuk anaknya walaupun setitik di hatinya. Kamu jangan patah semangat dan jadilah anak yang berprestasi agar kelak orang yang tak mempedulikanmu itu tertampar oleh kenyataan. Bahwa mereka salah karena tak memberikanmu kasih sayang, padahal kamu adalah calon bibit orang sukses" ucap Ibu Adin menasihati.
Lio yang mendengar itu langsung saja membuka matanya dan melihat senyum hangat tercipta dari bibir wanita paruh baya itu. Lio sepertinya merasa beruntung karena mendapatkan orang-orang tulus di desa ini. Walaupun aturannya begitu ketat dan terkesan meremehkan pendatang sepertinya, namun mereka mempunyai rasa simpati yang besar antar sesama.
"Wah... Terimakasih, bu. Ibu dapat kalimat-kalimat itu darimana kok bijak banget?" tanya Lio sambil terkekeh.
"Dari FTV yang ibu tonton di TV yang ada di balai desa" ucap Ibu Adin sambil tertawa.
Memang di desa ini yang mempunyai TV hanyalah dua tempat, balai desa dan rumah Pak Hakim. Itu pun channelnya hanya dua dan masihlah hitam putih. Namun ditengah keterbatasan itu membuat mereka bisa berkumpul jadi satu dengan melihat secara bersama-sama.
__ADS_1
"Wah... Besok-besok beli TV ah biar ibu bisa ngucapin kalimat-kalimat bijak kaya gitu" ucap Lio sambil tertawa.
"Nggak perlu beli TV, mahal. Kita nanti nonton di balai desa aja biar bisa sama yang lainnya, ramai-ramai malahan" ucap Ibu Adin menolak usulan Lio.
Lio hanya menganggukkan kepalanya mengerti, mereka akan jauh lebih senang jika nonton bersama-sama membuatnya mengurungkan niatnya untuk membeli TV yang lebih bagus. Terlebih disini jaringan internet belum memadai maka akan sulit mencari channel TV nantinya.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kamar karena pasti Adin sudah menunggu di ruang tamu yang biasa dijadikan tempat makan juga. Ibu Adin dengan sigap mengambilkan makanan untuk anaknya dan Lio. Mereka pun makan bersama-sama dalam keadaan hening.
"Lihat ma, disini ada sosok seorang ibu yang aku dambakan malah memberiku kasih sayang padahal aku bukanlah dagingnya. Aku memang rindu padamu, tapi sayangnya setiap rindu yang ku langitkan tak pernah terbalas olemu" batin Lio.
Memang semenjak ia tinggal dengan kakeknya, Lio sudah tak pernah lagi bertemu dengan ibunya. Hanya papa nya saja yang masih sempat bertemu karena ia mengunjungi sang kakek.
Namun saat bertemu dengannya pun, Papa Lio tak pernah menyapa atau menegurnya. Ia selalu langsung masuk rumah dan berbincang dengan kakeknya. Bahkan pembicaraan apa pun ia tak tahu karena dirinya sudah tak peduli. Namun jika memang papanya menyakiti sang kakek, maka dia lah yang akan maju untuk melindungi pria paruh baya yang selama ini menyayanginya itu.
"Bang Lio kok bengong ngliatin kami? Kami kaya orang kampungan ya karena makan sampai nambah berulangkali" ucap Adin merasa tak enak hati karena kini makanannya tinggal sedikit.
"Eh... Enggak, siapa bilang begitu. Orang abang bengong karena lihat cicak lagi kawin kok" ucap Lio asal.
__ADS_1
Adin yang penasaran pun langsung mengedarkan pandangannya kearah semua dinding yang ada di rumah itu. Namun setelah beberapa menit Adin tak kunjung menemukannya. Hal itu membuat Lio dan ibu Adin tertawa karena bocah laki-laki itu ternyata menganggap serius ucapan dari Lio. Begini saja rasanya Lio sudah sangat bahagia walaupun bukan karena punya harta berlimpah.