Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Keputusan


__ADS_3

"Dia kakek saya. Bahkan saya disini karena perintah beliau. Dia meminta saya mengusut tuntas kejanggalan yang ada di restorant ini. Bahkan semua keputusan kini ada di tangan saya karena disini saya pewaris dari semua bisnis milik Kakek Angga" ucap Lio sambil menyeringai.


Bahkan kini Pak Broto sudah tak bisa berkutik lagi. Lio langsung mengambil ponselnya kemudian menunjukkan layarnya kepada Pak Broto. Pak Broto memelototkan matanya saat melihat kalau sedari tadi obrolan keduanya itu ternyata didengarkan oleh Kakek Angga.


Lio memang sengaja menghubungi kakeknya agar mendengar pembicaraan apa yang sedang mereka lakukan. Ia tak ingin kakeknya malah berpikiran kalau yang ia temukan itu tak masuk akal. Mungkin sekarang Kakek Angga juga shock mengenai orang kepercayaannya yang mengkhianati dirinya. Padahal Pak Broto dan Kakek Angga ini sudah saling mengenal lebih dari 5 tahun.


"Saya tak menyangka kalau orang yang ku percaya selama beberapa tahun ini ternyata mengkhianati kepercayaanku. Semua keputusan ada pada cucuku karena dia adalah pemilik usahaku yang sesungguhnya" ucap Kakek Angga dari seberang sana.


Terlihat sekali kalau Kakek Angga begitu kecewa akan perbuatan yang dilakukan oleh orang kepercayaannya itu. Selama bertahun-tahun mengenal bahkan mereka sering berbagi informasi namun semuanya harus berakhir dengan tak baik. Apalagi tadi Pak Broto sempat ingin mengadu domba dengan teman yang merupakan supplier sayurnya di restorant ini.


"Lebih baik anda pergi dari sini sekarang juga. Bereskan semua barang-barang anda dan tunggu jumlah kerugian yang akan saya kirimkan ke alamat rumah anda" ucap Lio dengan tegas.


Bahkan Lio langsung mematikan panggilan pada kakeknya itu. Pak Broto sudah makin mati kutu hingga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan langkah gontainya, Pak Broto keluar dari ruangan Kakek Angga. Namun ia masih sempat melihat kalau Pak Broto menyunggingkan senyum sinisnya.


Sepertinya Lio harus meminta anak buah Kakek Angga agar mengawasi pergerakan Pak Broto. Tak mungkin juga kalau Pak Broto terima dipecat seperti ini oleh anak kecil seperti dirinya. Namun ia harus melakukan ini agar tak ada lagi yang berani mengacaukan usaha milik kakeknya itu.


Bisa jadi nanti Pak Broto malah melarikan diri agar tak harus mengganti kerugian akibat dari perbuatannya itu. Tentunya anak buah Kakek Angga harus mencegah agar Pak Broto itu tak kabur dan bisa mengganti semua kerugian yang telah ditimbulkan. Apalagi orang yang curang pasti akan selalu ada saja cara untuk dirinya kembali meyakinkan oranglain agar mempercayainya.

__ADS_1


"Mending loe periksa semua karyawan. Jangan sampai ada jejaknya si Broto ini disini" ucap Nathan tiba-tiba.


Kedatangan Nathan yang tiba-tiba ini membuat Lio yang tengah melamun menjadi terkejut. Namun tak ayal ia mengetahui maksud dari ucapan sahabatnya itu. Ia juga tak mau memelihara orang yang tak berguna di restorant milik kakeknya ini.


"Gimana sama urusan depan dan dapur?" tanya Lio penasaran kemudian duduk di kursi kebesaran kakeknya.


"Semua aman. Supplier langsung datang dan semua bahan fresh, aku sudah memeriksanya secara langsung. Untuk pengunjung, semua aman terkendali, mereka memahami karena memang makanan disini enak jadi pasti ada kendala di stok bahan baku" ucap Lio dengan santai.


Tentunya sebagai orang yang dipercaya oleh Kakek Angga mengikuti Lio, ia sebisa mungkin membantu dan terjun langsung untuk memeriksa semuanya berjalan dengan baik. Lio sungguh bangga punya sahabat dan saudara yang bisa diandalkan seperti Nathan ini. Apalagi pikirannya jauh lebih dewasa dibanding dirinya yang menggebu-gebu.


Lio pun kini langsung menatap layar laptopnya dengan begitu fokus. Sedangkan Nathan langsung merebahkan badannya diatas sofa ruang kerja Kakek Angga. Ia baru merasakan hal seperti ini yang membuatnya sadar kalau mengurus bisnis itu capek.


"Masuk..." jawab Lio dengan sedikit keras.


Seorang karyawan masuk dalam ruangan Kakek Angga kemudian menghadap kearah Lio. Sedangkan Nathan sendiri hanya memposisikan badannya dengan duduk. Terlihat karyawan itu menunduk seakan ragu untuk mengucapkan sesuatu.


"Ada apa? Bukannya masalah di dapur sudah selesai?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Itu pak... Ada dua tungku kompor yang bermasalah. Sebenarnya itu sudah rusak lama tapi dari Pak Broto sendiri tak ada perintah untuk menggantinya. Ini orderan semakin membludak menjelang makan siang. Kalau cuma mengandalkan kompor yang ada, pasti kita kuwalahan" ucap karyawan itu menyampaikan unek-uneknya.


Lio menatap Nathan yang juga memandangnya. Tentu Lio langsung saja mengerti kalau kompor yang ada di laporan keuangan itu palsu. Segera saja Nathan menghubungi anak buah Kakek Angga untuk membeli dua kompor tambahan. Tentunya hal ini sudah atas persetujuan Lio.


"Kamu bisa kembali ke dapur. Sebentar lagi kompornya akan sampai" ucap Lio membuat karyawan itu menganggukkan kepalanya mengerti.


Lio memijit kepalanya yang terasa pusing akibat masalah restorant yang ternyata seribet ini. Ia tak menyangka kalau masalah yang ada di restorant sungguh banyak. Sepertinya Kakek Angga yang harus pensiun itu memang benar adanya karena beliau tak bisa fokus dan teliti dalam bekerja. Kalau seperti ini terus, usahanya dari nol bisa bangkrut.


"Sabar... Nanti kita diskusi sama kakek. Kalau memang nantinya kakek menyerahkan semua tanggungjawab ini padamu, kamu harus mau. Kakek sudah tua, tak baik membiarkannya memikirkan banyak pekerjaan seperti ini" ucap Nathan memberi ketenangan.


Terlebih ia melihat kalau Lio seperti punya banyak pikiran dan beban berat di pundaknya. Wajahnya begitu tertekan dengan banyaknya masalah juga beban yang ditanggungnya. Hidup tak ada orangtua yang menopangnya, hanya kakeknya lah yang ia punya. Namun kini kakeknya sudah tak lagi muda seperti dulu.


"Aku nggak nyangka kalau kakek ternyata sudah setua itu. Perasaan dulu waktu aku umur 12 tahun, beliau masih kuat menggendongku" ucap Lio sambil tertawa.


Ia mengingat banyak kenangan yang sudah dilewatinya bersama sang kakek. Hatinya bahagia karena ternyata ia bisa melewati masa kecilnya yang suram itu dengan baik bersama kakeknya. Kakeknya lah yang selalu menjadi sosok penghibur sekaligus pemberi kasih sayang kepadanya.


"Waktu memang terus berlalu. Sudah saatnya buat kita yang jaga kakek. Bukan malah merepotkannya terus dengan kenakalan kita" ucap Nathan sambil menepuk bahu sahabatnya.

__ADS_1


Mata Lio terlihat sudah berkaca-kaca karena mengingat kenangan dulu. Lio langsung memeluk sahabatnya itu sambil mengucapkan terimakasih. Ia tak tahu apa jadi dirinya jika tak ada kakek dan sahabatnya ini. Ia hanya bisa berharap kalau semuanya sehat dan tetap menjadi keluarga seperti ini. Apalagi masih ada beberapa anggota keluarga tambahan yang harus merasakan kebahagiaan seperti mereka.


__ADS_2