
"Berarti semua sudah selesai?" tanya Kakek Angga.
"Sudah, kek. Kami juga sudah memecat dalang kekacauan ini. Tak lupa juga Lio sudah mengancam semua karyawan yang terlibat untuk mengaku dan menyerahkan surat pengunduran diri. Kalau tidak, pasti kami akan membawanya ke pihak yang berwajib" ucap Nathan.
Kakek Angga menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum puas setelah mendengarkan penjelasan dari Nathan. Walaupun sebenarnya ia belum tahu mengenai siapa dalang dari semua ini. Namun ia yakin kalau kedua cucunya ini sudah menangkap bahkan memberi pelajaran kepadanya.
"Kakek nggak penasaran dengan siapa dalang utamanya?" tanya seseorang yang baru saja datang.
Seseorang itu adalah Lio yang langsung menyelonong masuk dalam kamar ruangan Kakek Angga tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam terlebih dahulu. Ia tadi sempat mendengar sekilas tentang pembicaraan antara Kakek Angga dan Nathan membuatnya langsung saja bertanya. Sedangkan Kakek Angga dan Nathan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah nyeleneh Lio itu.
"Kalau mau masuk itu jangan asal nyelonong gitu. Kalau tadi kakek lagi ganti baju gimana" kesal Kakek Angga menatap malas pada cucunya itu.
"Lah ya nggak papa, emangnya kenapa? Kan nggak mungkin juga aku mau ngelihat punya kakek yang sudah mengkerut itu" ucap Lio dengan tengilnya.
Kakek Angga menatap kesal cucunya yang kini malah menggoda dirinya. Sedangkan Nathan yang mendengarnya hanya terkekeh geli. Bisa-bisanya Lio malah membahas hal seperti itu didepan Agung dan Adin yang tak paham. Beruntung mereka sedang sibuk dengan mainannya sedangkan Ibu Adin sedari tadi belum kembali dari masjid.
"Dasar cucu sialan..." ketus Kakek Angga.
Lio hanya bisa tertawa melihat wajah memberengut dari kakeknya itu. Lio segera duduk di kursi sebelah Nathan kemudian memejamkan matanya sebentar. Matanya sudah memberat sejak tadi di restorant namun ia berusaha tahan agar bisa menyelesaikan pekerjaan disana. Beruntung juga ada Nathan yang masih segar bugar sehingga ketelitian saat ia memeriksa laporan juga melalui seleksi dari laki-laki itu.
__ADS_1
"Kek, kayanya kita perlu cari orang kepercayaan baru untuk di restorant. Tadi si Broto udah ku pecat tuh karena menggelapkan duit, mana semua bahan masakan nggak ada lagi. Bisa bangkrut itu restorant kalau kakek pelihara manusia berbisa seperti itu disana" ucap Lio dengan masih memejamkan matanya.
Kakek Angga yang tadinya sedang fokus dengan ponselnya pun langsung menatap Lio dengan pandangan bertanya. Kakek Agung masih sedikit tak percaya kalau Broto dipecat karena menggelapkan uang. Selama ini kinerja laki-laki itu begitu baik bahkan sopan kepadanya.
"Masa iya di laporan keuangan ada pembelian AC dan kompor puluhan juta tapi nggak ada wujudnya. Bahkan kompor rusak saja baru tadi Nathan beli" lanjutnya bercerita dengan menggebu-gebu.
Kakek Angga hanya bisa menghela nafasnya kasar karena ternyata orang yang ia percaya selama ini malah mengkhianatinya. Ia lebih percaya pada cucunya itu dibandingkan Pak Broto. Tadi Pak Broto dan beberapa karyawannya sempat menghubunginya namun tak ia angkat karena paham kalau sekarang cucunya pasti sedang melakukan sesuatu.
Kakek Angga tak ingin mengganggu cucunya yang sedang bekerja. Walaupun begitu, sedari tadi ia cemas dengan kedua cucunya yang tak ada kabar. Sedangkan anak buahnya yang ada di restorant itu memberi informasi kalau usahanya tengah tutup sementara untuk satu jam kedepan. Ada sedikit khawatit, namun ia yakin kalau cucunya akan melakukan yang terbaik.
"Oh ya kek... Pak Broto itu juga berhenti berlangganan di penjual sayur temannya kakek itu lho. Yang satu geng sama kita" ucap Nathan.
"Alasannya?" tanya Kakek Angga.
Kakek Angga hanya bisa mengelus dadanya sabar karena mendengar fakta ini. Namun yang tak ia percaya adalah temannya itu kemarin saat reuni masih menyambutnya dan berbincang dengan baik saat bersamanya. Dia juga tak pernah membahas tentang restorantnya yang tidak lagi memakai jasa penyuplai sayurannya.
Lio terus berbincang mengenai semua keburukan Broto dan beberapa bukti yang sudah ia dapatkan dari CCTV juga penyadap suara. Besok setelah jam makan siang, Lio dan Nathan akan kembali ke restorant untuk melihat daftar karyawan yang sudah mengajukan pengunduran diri.
***
__ADS_1
"MasyaAllah... Satu minggu lagi sudah mulai ospek dan kuliah. Semoga panitianya nggak menyebalkan" gumam Ratu sambil menyiapkan beberapa barang yang harus dibawa.
Sedari kemarin Ratu sudah mulai mencari barang apa saja yang wajib dibawa karena semua pengumumannya berasal dari website kampus. Uli yang notabene teman satu kostnya itu juga membantunya untuk mencari barang-barang yang diperlukan itu. Ia langsung menunjukkan sebuah toko yang menyediakan semua yang dibutuhkan.
"Masih ada yang kurang nggak?" tanya Uli dengan melongokkan kepalanya masuk dalam kamar kost Ratu yang terbuka.
"Astaghfirullah... Ngagetin aja sih, mbak. Udah selesai semua kok dan lengkap. Udah aku cek berulangkali" ucap Ratu sambil mengelus dadanya.
Uli hanya cengengesan kemudian duduk didepan pintu. Gadis manis berkulit cokelat itu duduk sambil melihat kearah Ratu yang sedang sibuk sendiri. Tentunya Uli senang karena ada Ratu yang sefrekuensinya dengannya seperti ini.
"Katanya kamu kuliah disini karena bantuan seseorang?" tanya Uli dan dijawab anggukan kepala oleh Ratu.
"Sebaik apa sih dia? Kok bisa masukin kamu ke kampus yang terkenal dan mahal. Biasanya kan kalau bantuin ya mungkin sekedar cari kampus yang biasa-biasa aja" tanyanya penasaran.
Ratu menatap Uli sambil tersenyum santai. Sudah banyak teman kostnya disini yang tak percaya jika Ratu masuk kampus itu atas bantuan seseorang dan beasiswa. Mengenai beasiswa, Ratu baru bisa mengajukannya nanti saat sudah memasuki semester 3.
Untuk saat ini, semua biaya kuliah gadis itu ditanggung oleh Kakek Angga atas kesepakatannya dengan Pak Hakim. Sebagai gantinya, setiap bulan Pak Hakim akan mengirimkan beberapa karung beras. Beras-beras itu nantinya diminta dijual di kota kemudian hasilnya untuk mencicil uang kuliah Ratu kepada Kakek Angga.
"Sangat baik. Dia sudah ku anggap sebagai kakekku dan saudara sendiri. Dia nggak pernah marah bahkan sangat santai. Dia orang kaya, tapi nggak sombong dan mau untuk membantu oranglain. Tapi sayangnya... Cucunya itu ngeselinnya bikin orang ingin menonjok wajahnya" ucap Ratu sambil terkekeh geli saat mengingat Lio.
__ADS_1
Uli yang mendengar cerita dari Ratu itu pikirannya langsung melayang kemana-mana. Bahkan kini ia menatap aneh kearah Ratu yang tengah senyum-senyum sendiri. Satu hal yang ia pahami kalau seseorang yang membantu Ratu itu adalah seorang kakek-kakek. Pikirannya langsung berbeda, Ratu tersenyum seperti itu karena kakek itu atau cucunya?.
"Ratu, kamu bukan simpanan kakek-kakek kan?" seru Uli sambil menutup mulutnya dengan tangan.