Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Kebiasaan


__ADS_3

Saat menunggu datangnya adzan sholat isya', pendengaran Lio mendengar suara yang tak asing di pendengarannya. Suara yang begitu lembut dan menyejukkan hati itu mengalun indah di telinga Lio. Lio mencoba mengedarkan pandangannya kearah seluruh isi masjid dan tatapannya terpaku pada seorang gadis yang sejak kemarin telah mengisi pikirannya sejak kemarin.


"MasyaAllah..." kagum Lio dengan pandangan takjub.


Ternyata suara itu berasal dari sosok gadis yang tadi membantunya sekaligus membuatnya kesal. Lio yang tak mengerti bahkan paham dengan membaca Al-Qur'an begitu tersentuh dengan lantunan lembut itu.


Tadi saat ia duduk di pojokan setelah melaksanakan sholat maghrib, dia sempat ditemani oleh seorang imam yang memimpin jamaah sholat malam ini. Beliau memberikan sedikit ilmu kepada Lio dengan berbincang santai.


"Nak, jika kau kagum pada sesuatu bisa kau ucapkan masyaAllah daripada mengucapkan luar biasa" ucap imam itu.


Makanya saat ia kagum dengan bacaan Al-Qur'an langsung saja mengucapkan seperti apa yang diajarkan. Baru kali ini Lio mau mendengarkan nasihat dari orang yang tak dikenalnya. Padahal dengan kakeknya yang notabene adalah orang terdekatnya saja Lio masih bengal dan enggan menurutinya.


Walaupun di desa ini terkesan banyak aturan dan mengedepankan agama namun entah mengapa Lio merasa begitu nyaman. Bahkan baru satu hari tinggal disini sudah banyak sekali orang yang membantunya. Padahal jika di kota kalau ada tetangga baru, jarang sekali mereka akan bertegur sapa.


"Ternyata aku sudah jauh sekali dari Tuhan" gumam Lio pelan.


Entah mengapa mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an ini jiwanya berasa tertohok. Padahal waktunya sangatlah longgar namun untuk belajar membaca Al-Qur'an saja dirinya seperti enggan. Dia malah lebih memilih mendengar musik di club dan meminum minuman keras.


Rasanya Lio ingin menangis saat ini karena kecintaannya pada duniawi membutakan mata dan hatinya. Mungkin Tuhan menegur dirinya lewat tersesatnya dia di desa ini agar lebih mempelajari ilmu agamanya.


Tak berapa lama suara lantunan ayat suci itu digantikan dengan adzan pertanda sholat isya' tiba. Dengan wajah yang sudah sembab karena menahan tangisnya, Lio segera keluar area masjid untuk mengambil air wudhu kembali sekalian cuci muka.


***


Setelah sholat isya' berakhir, Lio memilih untuk pergi dari masjid. Ia akan mencari makan di sekitar desa ini karena perutnya sudah sangat sakit. Beruntung ada juga bapak-bapak yang langsung pulang sehingga ia tak jadi pusat perhatian karena meninggalkan masjid terlebih dahulu.


"Pak, nasi gorengnya satu ya sama es teh. Makan sini aja" pesan Lio kepada penjualnya.

__ADS_1


Penjual nasi goreng itu langsung saja membuatkan pesanan dari Lio, pelanggan pertamanya. Dia juga baru saja kembali dari masjid sehingga masih menunggu pembeli yang sudah selesai sholat. Tak berapa lama, beberapa pembeli mulai berkerumun untuk mencari makanan di area itu.


"Ini nak" ucap penjual itu.


Lio pun menganggukkan kepalanya setelah mengucapkan terimakasih. Ia segera menyantap makanan yang ada didepannya dengan lahap. Rasa perutnya terasa hangat karena makanan yang masuk. Lio sedikit merasa lega sudah tak merasakan perih lagi.


Makanan selesai ia santap, Lio duduk disana sebentar agar perutnya terasa lebih enakan terlebih dahulu. Memandang pemandangan langit malam yang begitu cerah, lagi-lagi ia merasa kesepian. Entah dimanapun baik di kota atau di desa ini, ternyata ia memang ditakdirkan untuk sendiri.


"Jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet setan pakai baju merah lho" celetuk seseorang dari samping Lio.


Lio yang memang melamun sambil memandang langit malam pun langsung terkesiap dan sadar dengan apa yang dilakukannya. Lio mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang menegurnya, ternyata dia adalah Ratu. Sesaat tatapan mereka bertemu namun buru-buru Ratu memalingkan wajahnya.


"Astaghfirullahaladzim" gumam Ratu yang merasa berdosa karena telah bertatapan mata dengan yang bukan mahramnya.


Sedangkan Lio hanya bisa tersenyum kikuk saat keduanya kini malah menjadi pusat perhatian orang disana. Mungkin mereka heran saat melihat Ratu mau berbincang dengan orang baru padahal gadis itu dikenal sebagai orang yang pemalu. Beruntung keduanya terpaut jarak lumayan jauh sehingga tak menimbulkan pemikiran yang berlebihan.


Mendengar ucapan Lio seketika saja membuat Ratu melihat penampilannya yang memang menggunakan gamis berwarna merah maroon denga hijab abu menutupi dadanya. Sedangkan orang-orang yang ada disana juga tertawa mendengar ucapan Lio yang tepat sasaran.


Ratu meringis malu karena niatnya bercanda malah berbalik kena batunya. Dengan rasa malu yang besar, Ratu segera saja mengambil pesanannya yang sudah jadi kemudian pergi dari sana. Ia sungguh merasa tak punya muka jika bertemu dengan laki-laki itu sepertinya.


"Lucunya..." gumam Lio yang melihat bagaimana Ratu berjalan tergesa-gesa.


***


Lio mencoba untuk kembali mencari sinyal operatornya. Dengan sedikit memanjat pagar yang ada didepan rumahnya, ia berharap jika ponselnya mendapatkan jaringan walaupun hanya sebentar saja. Benar saja tak berapa lama ia berdiri diatas pagar ternyata ada sedikit sinyal di ponselnya.


Walaupun dia harus dilihat oleh beberapa warga yang lewat namun ia tak peduli. Yang terpenting sekarang dia bisa menghubungi salah satu temannya. Ia segera menekan nomor Yuda dengan posisi tangan yang masih sama.

__ADS_1


"Halo bos..." seru Yuda dari seberang sana dengan kerasnya.


"Oiii... Gue tersesat di desa. Nggak bisa pulang sampai satu bulan ke depan, disini susah sinyal" seru Lio dengan berteriak.


Ponsel Lio pun juga mengaktifkan mode loudspeaker karena jika posisinya berubah sedikit saja pasti sinyal jaringannya akan hilang. Sehingga ada beberapa orang yang mencuri dengar perbincangan mereka. Bahkan Lio berbicara dengan cepat karena takut sinyalnya tiba-tiba hilang.


"Di desa mana bos? Biar kita jemput" tanya Yuda.


"Di desa Rawa...."


Tut... Tut... Tut...


Panggilan terputus sebelum Lio menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba sinyal hilang. Lio yang melihat itu pun langsung mencoba mencari lagi sinyal disana namun naas tetap tak mendapatkannya.


"Sialan..." umpat Lio kesal.


"Astaghfirullahaladzim mas" timpal seorang bapak-bapak yang baru saja lewat.


Lio terkejut kemudian mengucapkan kalimat istighfar yang membuat bapak-bapak itu segera pergi. Sepertinya Lio harus berhati-hati dalam berucap saat berada di lingkungan desa ini. Bisa saja tiba-tiba ada orang yang akan menyambar umpatannya seperti tadi.


Bukan masalah ucapannya, namun ia akan malu dan di cap tak beretika disini. Bagaimanapun juga ia harus mengutamakan pencitraan dulu agar kelak ketika pulang ke kota tak ada yang menggunjingnya disini. Akhirnya Lio memilih untuk masuk saja ke dalam kontrakannya daripada pusing sendiri didepan rumah.


Saat Lio akan memasuki rumahnya tiba-tiba saja ada suara bentakan yang terdengar dalam telinganya. Lio pun mengedarkan pandangannya kearah semua rumah warga yang sudah tertutup rapat. Namun telinga Lio masihlah mendengar suara bentakan keras itu yang berarti suara itu tak jauh dari rumah kontrakannya.


Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, Lio menajamkan pendengarannya kemudian berjalan menuju kearah suara itu. Ternyata suara itu terdengar begitu keras di sebuah rumah yang hanya terpaut dua tempat saja. Rumah itu milik Ratu dan ayahnya.


Brakkk....

__ADS_1


Ratu...


__ADS_2