Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Insiden


__ADS_3

Kejadian tadi pagi tentang beberapa warga yang ingin meminjam mobil untuk dinaikinya berkeliling desa sudah menjadi pembicaraan satu desa. Terlebih Lio yang terkesan tak ramah pada mereka karena tak mau meminjami mobilnya. Adanya kesalahpahaman dalam menerima informasi membuat orang-orang yang tahu apa-apa itu langsung berpikir negatif tentang Lio.


"Wah... Ternyata kalau Lio sudah bertemu dengan keluarganya dari kota jadi sombong gitu ya. Mending dulu nggak usah kita tolongin aja tuh" ucap salah satu ibu-ibu.


"Benar, mending kita usir aja tuh dari desa" ucap Mpok Yati memanas-manasi.


Hampir semua ibu-ibu kecewa karena tak diijinkan menaiki mobil milik keluarga Lio. Tadi pagi saat dijawab dengan ucapan ketus dari Lio, ibu-ibu langsung membubarkan diri bahkan tak pamit sama sekali. Namun mereka malah membawa beberapa cemilan yang ada di ruang tamu dengan seenaknya.


Ratu yang baru pulang sekolah itu tak sengaja mendengar ucapan dari ibu-ibu yang sedang bergosip ria itu. Ratu hanya geleng-geleng kepala melihat mereka yang terlalu berlebihan menyikapi sesuatu. Tadi pagi memang dirinya juga mengetahui tentang warga yang begitu ingin tahu tentang kedatangan kerabat Lio dari kota, namun ia tak mau mendekat.


Ratu segera mengayuh sepedanya kembali dengan santai sampai ia tiba didepan rumah kontrakan Lio yang terlihat masih ramai dengan orang-orang berbadan besar. Ratu yang ingin mengkonfirmasi tentang ucapan ibu-ibu itu langsung megurungkan niatnya. Pasti Lio juga mempunyai alasan sendiri mengenai tak diijinkannya ibu-ibu itu meminjam mobil keluarganya.


"Ratu..." panggil Lio dengan berseru.


Saat Ratu hendak meninggalkan area depan rumah kontrakan Lio, ada seseorang yang memanggilnya ternyata Lio yang kini tengah berdiri didepan pintu. Ratu menghentikan kayuhan sepedanya kemudian mengalihkan pandangannya. Lio tersenyum tipis kemudian memberi kode kepadanya untuk mendekat. Ratu mengayuhkan sepedanya mendekat kearah halaman rumah kontrakan.


"Ada apa?" tanya Ratu dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Ini ada sedikit oleh-oleh dari kota" ucap Lio dengan mendekat kearah Ratu sambil membawa sebuah kantong plastik.


Lio meletakkan kantong plastik berisi oleh-oleh itu ke dalam keranjang yang ada di sepeda gadis itu. Ratu yang melihatnya hanya memandang santai kearahnya kemudian mengucapkan terimakasih kepada Lio. Ratu segera saja pergi dari sana terlebih ada banyak tetangga sekitar yang ternyata juga melihat saat Lio memberikan oleh-oleh.

__ADS_1


"Wah... Cuma Ratu aja nih yang dapat oleh-olehnya" ucap Mpok Yati dengan julid.


Lio tak mempedulikan ucapan beberapa warga yang sudah membuatnya kesal sejak pagi tadi. Lio malah mengeloyor masuk dalam rumah kontrakannya setelah melihat Ratu telah pergi dari sana. Beruntung Ratu tak mendengar ucapan dari ibu-ibu julid itu sehingga Lio juga tak malu karena hanya memberikan oleh-oleh pada gadis itu saja.


***


"Oh... Jadi itu yang namanya Ratu?" tanya Kakek Angga yang muncul tiba-tiba dari belakang cucunya.


Lio sampai berjengit kaget karena terkejut akan kehadiran sang kakek yang berada dibelakangnya. Ia sampai harus mengelus dadanya untuk menetralkan rasa terkejutnya. Setelah merasa bahwa jantungnya berdetak dengan normal, Lio membalikkan badannya menghadap sang kakek dengan senyum tengilnya.


"Iya dong, gimana cantikkan? Udah sholehah dan cantik, kurang apalagi dia buat jadi istri seorang Lio" ucap Lio dengan sombongnya.


Lio begitu bangga memamerkan Ratu di hadapan sang kakek karena memang ia sudah yakin atas perasaannya ini. Namun ia tak bisa dengan begitu mudahnya membuat Ratu menjadi pacarnya karena pasti gadis itu dan ayahnya takkan pernah menyetujuinya. Mereka pasti menginginkan untuk langsung menikah tanpa adanya proses pacaran terlebih dahulu.


Lio menganggukkan kepalanya kemudian menatap kakeknya itu dengan serius. Bahkan pandangan matanya terus saja menatap kakeknya dengan pandangan menuntut jawaban.


"Dia kurang beruntung dapatin kamu yang playboy cap kadal ini" ucap Kakek Angga yang langsung pergi berlalu dari hadapan Lio.


Lio menganga tak percaya mendengar ucapan dari kakeknya itu. Bisa-bisanya kakeknya itu tak memujinya namun malah menjatuhkan harga dirinya. Harusnya kakeknya itu mendukungnya agar bisa bersama dengan Ratu bukan malah sepertinya kasihan dengan gadis itu jika harus bersanding dengannya.


"Kakek, harusnya kakek merestui hubungan kami dong" seru Lio yang ikut masuk dalam kamarnya.

__ADS_1


"Lamarkan aku untuknya, kek" lanjutnya dengan tatapan memohon.


Kakek Angga begitu terkejut mendengar permintaan cucunya itu. Apalagi sampai memintanya untuk melamarkan seorang perempuan. Kakek Angga menatap tajam kearah cucunya yang kini melihatnya dengan pandangan memohon. Bukan materi yang Kakek Angga pikirkan untuk kesiapan Lio menikah, namun sikap Lio yang belum dewasa dan asal mengambil keputusan ini lah yang membuatnya harus mendidik cucunya lebih keras lagi.


"Kakek takkan pernah mau melamarkan kamu dengan gadis itu. Selesaikan dulu semua urusanmu di kota dan berubah lah untuk jadi lebih baik agar kau pantas bersanding dengannya. Ingat, dia bukan gadis kota yang selama ini kau kencani" ucap Kakek Angga dengan tegas.


Bahkan kini Kakek Angga langsung pergi meninggalkan Lio di kamar. Awalnya ia ke kamar karena ingin istirahat namun mendengar ucapan dari cucunya itu membuatnya tak berselera untuk melakukan hal itu. Lio terdiam mendengar ucapan kakeknya kemudian duduk diatas kasurnya.


"Benar apa yang diucapkan oleh kakek, aku harus memperdalam ilmu agamaku dulu dan menyelesaikan semua masalahku di kota baru lah bisa mendekati Ratu. Aku juga harus menyelesaikan sekolahku dulu. Huft... Tunggu aku kembali kesini lagi, Ratu" gumam Lio dengan penuh keyakinan.


***


"Aneh-aneh aja tuh anak, dipikir nikah itu gampang apa. Sekolah aja masih sering bolos gitu masa mau ngedidik anak orang" gumam Kakek Angga geram.


Kini Kakek Angga memilih pergi keluar rumah kontrakan untuk menenangkan dirinya. Tanpa didampingi oleh anak buahnya, Kakek Angga berjalan di sekitar jalanan desa hingga langkah kakinya sampai di area persawahan yang tanaman padinya sedang berwarna hijau semua. Pemandangan sejuk ini seketika membuat hatinya merasa nyaman.


"Ternyata di desa enak. Suasananya sejuk, kalau di kota tiap keluar rumah yang dilihat mobil dan motor" ucapnya sambil terkekeh pelan.


"Enak disini untuk menghabiskan masa tua" lanjutnya dengan memejamkan matanya.


Tanpa Kakek Angga ketahui ada seseorang yang mendekat kearahnya kemudian berdiri disampingnya. Ia juga mengikuti Kakek Angga yang memejamkan matanya. Keduanya sama-sama terdiam sambil menatap lurus ke depan setelah bersamaan membuka mata.

__ADS_1


"Lho... Kamu kan...?" ucap Kakek Angga dengan sedikit terkejut akan kehadiran seseorang.


Kakek Angga yang merasakan ada seseorang disampingnya langsung menolehkan kepalanya. Ia begitu terkejut saat melihat seseorang yang tadi dilihatnya didepan rumah kontrakannya berada disampingnya. Dia adalah Ratu.


__ADS_2