
Ceklek...
"Segera tobat lah wahai manusia jika dirimu berkhianat" bisik Nathan saat seseorang itu membuka pintunya.
Nathan tersenyum menyeringai seakan sudah menemukan sesuatu yang akan membuat pelaku didepannya ini sengsara. Sedangkan seseorang itu terlihat begitu gugup kemudian pergi berlalu meninggalkan Nathan yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Nathan geleng-geleng kepala melihat orang itu, ternyata selama ini Lio memelihara ular di gengnya.
***
Hatchiiii...
"Kok kaya ada yang ngomongin gue ya? Apa anak-anak?" gumam Lio setelah bersin.
Kini ia sedang mencuci sepeda motornya di halaman depan rumah kontrakannya yang kemudian bersin-bersin. Ia berpikir bahwa kini sedang ada yang membicarakan tentangnya. Bahkan ia merasa telah terjadi masalah besar di dalam geng motornya. Ia ingin sekali segera kembali ke kota agar masalah ini tak berlarut-larut.
Namun apalah daya jika dia memang harus menunggu selama kurang lebih setengah bulan. Ya... Lio sudah berada di desa ini kurang lebih 14 hari. Begitu banyak hal yang telah dilaluinya selama berada di desa ini terutama bagaimana belajar lebih dewasa dan simpati kepada orang yang berada dibawah kita.
Ilmu agama yang dipelajarinya dari beberapa ceramah ketika ikut sholat berjamaah di masjid juga mengubah hidupnya. Bahkan kini ia menjadi ingin segera bertemu dengan kakeknya kemudian meminta maaf kepadanya. Beliau yang bersikap keras hati ternyata adalah sosok pengganti orangtuanya yang sama sekali tak mempedulikannya. Harusnya ia bisa menghormatinya bukan malah membuat hidupnya penuh kekesalan tentang ulahnya.
"Rajin amat, Nak Lio. Pagi-pagi gini udah cuci motor" sapa Ustadzah Siti yang akan berangkat ke pasar.
Hari memang masih sangat pagi untuk seseorang yang ingin mencuci sepeda motornya. Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, setelah sholat shubuh berjamaah di masjid tadi maka Lio yang tak bisa tidur lagi memutuskan untuk mencuci sepeda motornya. Bahkan Adin yang ingin membantunya tak ia ijinkan karena lebih baik menemani ibunya di dapur saja.
__ADS_1
"Iya dong, ustadzah. Biar jadi menantu idaman kalau pagi gini udah rajin" seloroh Lio membuat Ustadzah Siti tertawa.
"Jadi menantu idamannya Pak Hakim ya, nak Lio" goda Ustadzah Siti.
Lio tak menjawab godaan yang diucapkan oleh Ustadzah Siti itu pasalnya kini ia tengah salah tingkah. Bahkan tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena di desa ini hampir semua warganya tahu tentang Lio yang suka menggoda Pak Hakim dengan kata-kata menantu dan mertua.
Lio sendiri sampai malu dibuatnya karena ketahuan akan mendekati Ratu lewat pendekatan pada ayahnya dulu. Walaupun Pak Hakim dengan terang-terangan tak menyukai Lio, namun beliau malah juga sering meminta bantuan pemuda itu. Hal ini tentu membuat warga disana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
"Do'anya saja ustadzah. Semoga jika kelak memang jodohnya akan dipertemukan kembali di waktu yang tepat" ucap Lio dengan bijak.
Ustadzah Siti begitu takjub akan perubahan Lio. Bahkan saat awal bertemu saja Ustadzah Siti sudah bisa menilai bahwa Lio itu sangat jauh dari kata paham ilmu agama dan urakan. Namun sekarang, bicaranya jauh lebih santun dan ibadahnya sudah terlihat tak kaku walaupun sikap tengilnya itu masih ada.
"Amin... Ustadzah pamit dulu untuk ke pasar ya, Nak Lio. Keburu siang" pamit Ustadzah Siti.
"Sini biar abang bantu masukin" ucap Lio yang duduk disebelah Adin.
"Abang mau bantuin masukin donat ke plastik atau ke mulut abang sendiri?" tanya Adin dengan sedikit meledek.
"Ya dua-duanya dong. Kan sambil menyelam minum air. Sambil bungkusin, masukin dalam perut juga dong" ucap Lio bercanda.
Adin dan ibunya tertawa mendengar candaan Lio. Lio juga pasti berpikir ulang kalau mau makan donat yang akan dijual itu. Itu pun kadang Lio mengambil satu buah kemudian membayarnya kepada Ibu Adin. Ibu Adin selalu menolak jika dibayar oleh Lio saat donatnya diambil, namun pemuda itu punya banyak cara agar beliau menerimanya.
__ADS_1
"Bu, besok minggu Lio pesan 50 donat ya. Buat dijadikan cemilan warga yang kerja bakti" ucap Lio.
Ibu Adin menganggukkan kepalanya dengan antusias. Ia selalu bersemangat jika ada yang memesan donat buatannya apalagi dengan cara ini ia bisa sekalian mempromosikan jualannya. Selama ini Lio juga membantunya dengan mencari beberapa toko jajanan pasar yang melayani penitipan makanan untuk dijual. Dengan ini Ibu Adin tak perlu jauh-jauh jika harus berjualan.
***
Lio memilih untuk pergi ke sawah yang ada di belakang desa setelah merasa tak ada pekerjaan apapun. Ia ingin mencari sinyal internet di tengah sawah yang mungkin saja beruntung bisa mendapatkannya. Sesampainya di sawah, ia duduk di sebuah gubuk bambu.
Suasana di sana begitu sepi bahkan Lio merasa tenang karena sendirian di tengah-tengah sawah itu. Ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Tak berapa lama, Lio berdiri kemudian memegang ponselnya kemudian ia arahkan keatas.
Beruntung karena disana ternyata ada jaringan internet walaupun hanya dua garis. Ia segera saja menghubungi sang kakek untuk segera menjemputnya.
Tut... Tut... Tut...
"Pak Tua..." seru Lio setelah mendengar suara kakeknya di seberang sana.
Mereka berbincang sebentar untuk meluapkan rindu yang ada. Walaupun gaya Lio tengil bahkan terkesan berani pada kakeknya namun sebenarnya itu adalah cara mengungkapkan rasa sayangnya. Ia begitu bahagia karena sang kakek dan anak buahnya esok hari akan kesini menjemputnya. Ah... Pasti sebentar lagi desa ini akan geger karena kedatangan banyak mobil mewah.
Lio juga sudah memperingatkan kakeknya untuk membawa cadangan bensin agar tak kesusahan untuk mencari disini. Di desa ini penjual bensin sangat lah jarang membuat Lio harus irit.
"Ah... Akhirnya besok ketemu kakek. Apa berarti waktu ku disini tinggal esok hari?" gumam Lio sambil mengedarkan pandangannya kearah area persawahan.
__ADS_1
Lio bingung, di satu sisi ia masih ingin berada disini namun ia juga berharap kalau bisa segera kembali ke dunianya. Walaupun begitu ia akan menerapkan ilmu yang telah didapatnya disini untuk ia lakukan di kota.
Bahkan Lio berencana meminta kakeknya menginap disini beberapa hari agar ia bisa pamer sudah mahir dalam membaca Al-Qur'an. Pasti kakeknya akan shock melihat cucu nakalnya ikut sholat berjamaah hingga membaca ayat suci Al-Qur'an. Lio sungguh tak sabar menunggu hari esok tiba.