Badboy Masuk Desa

Badboy Masuk Desa
Keributan


__ADS_3

"Pak, nggak bisa gini dong. Harusnya kalau desa itu dibangun sesuatu, maka daerah kami juga dong. Kita ini masih satu pedukuhan lho masa iya cuma desa sebelah yang dibangun tower jaringan seperti ini. Mana ada bantuan komputer juga lagi" seru seorang ketua RT di desa sebelah.


Pembangunan tower jaringan internet dan bantuan komputer dari Kakek Angga itu informasinya menyebar luas ke desa sebelah. Tentunya mereka yang satu kelurahan bahkan pedukuhan dengan desa tersebut langsung iri. Kini mereka tengah protes pada pemerintah desa setempat agar diberikan fasilitas yang sama. Tentunya protes warga itu terdengar sampai di telinga anak buah Kakek Angga.


Anak buah Kakek Angga ditemani oleh Pak Hakim langsung menuju ke balai desa setempat agar bisa ikut membantu menyelesaikan masalah ini. Apalagi informasi yang disampaikan mungkin simpang siur sehingga warga yang protes itu hanya menerima pemberitaan sekilas saja.


Saat sampai di balai desa setempat, terlihat sudah banyak warga dari berbagai desa sekitar melakukan aksi protesnya. Bahkan disana pihak pemerintah desa terlihat sangat kuwalahan menghadapi protesan dari warga.


"Kita ini juga warga bapak lho. Tolong pikirkan kesejahteraan kami juga. Kalau memang desa sebelah dapat tower dan komputer, harusnya kita bisa dapat mentahannya" protes salah satu warga.


"Benar" seru semuanya menyetujui.


Anak buah Kakek Angga langsung menyusup ke area perwakilan dari pemerintah desa. Ia sedikit memberi kode pada perwakilan pemerintah desa itu untuk mendekat kearahnya.


"Sebentar semuanya. Ini ada perwakilan dari orang yang menyumbang komputer dan pembangunan tower itu" seru perwakilan desa itu kemudian menyerahkan sebuah microfon kepada anak buah Kakek Angga.


Melihat kehadiran dua orang berbadan besar dan muka menyeramkan tentu membuat semua orang disana langsung terdiam. Bahkan mereka seakan tak berkutik melihat tatapan tajam nan datar dari kedua anak buah kakek Angga itu.


"Saya disini ingin menjelaskan tentang apa yang kalian protes pada pemerintah desa disini" ucap Diko, salah satu anak buah kakek Angga itu.


"Saya mewakili atasan saya yang memberikan bantuan itu kepada desa tempat Pak Hakim berada. Bantuan berupa pembangunan tower jaringan internet dan komputer itu murni dari atasan saya bukan dari pemerintah mana pun. Beliau memberikannya karena merasa berhutang budi pada desa karena semua warganya mau menampung cucunya yang tersesat disana. Untuk komputer, akan diletakkan di balai pemerintah setempat agar desa lain juga bisa menikmati. Namun untuk tower jaringan itu memang hanya akan bisa menjangkau satu desa itu saja" lanjutnya.

__ADS_1


Semuanya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Diko. Pasalnya berita yang beredar itu adalah pembangunan tower dan komputer itu merupakan bantuan pemerintah pusat bukan perseorangan seperti ini. Bahkan untuk komputer juga dipungut biaya kalau mau menggunakannya apabila bukan warga desa setempat. Sehingga membuat mereka langsung mengajukan ptotes.


Perwakilan pemerintah desa menghela nafasnya lega karena tak terjadi keributan yang lebih besar lagi hanya karena masalah ini. Ia yakin ada yang menginformasikan berita yang membuat salah paham semua warga. Oleh sebab itu harus perwakilan pemberi bantuan yang menjelaskannya.


"Jadi kalau warga atau remaja sekolah desa lainnya ingin menggunakan komputer disini karena membuat tugas sekolah diijinkan? Nggak dipungut biaya?" tanya salah satu warga.


"Kami tak pernah memungut biaya sepeser pun untuk penggunaan komputer. Asalkan dijaga dengan baik, jangan komputernya dibanting atau dipukul lha kalau itu ya harus ganti rugi" ucap Diko sambil terkekeh pelan.


Semua orang yang ada disana malah tertawa mendengar guyonan receh dari Diko itu. Mereka tak menyangka orang yang wajahnya kelihatan seram malah ternyata bisa bercanda juga. Setidaknya anak-anak sekolah desa lain bisa memanfaatkan fasilitas yang ada walaupun harus pergi lumayan jauh. Namun itu tak menjadi halangan karena semuanya gratis.


"Bantuan ini bukan dari pemerintah pusat seperti yang dikabarkan?" tanya salah seorang ibu-ibu.


"Bukan, ini merupakan hasil uang pribadi atasan saya. Beliau memang berniat membalas kebaikan warga desa karena membantu cucunya. Ini juga ide cucunya karena selama disini kesusahan cari sinyal internet" jawab Diko.


Semua orang menggelengkan kepalanya karena sudah cukup jelas dengan penjelasan yang dilontarkan oleh Diko. Ternyata mereka hanya salah paham karena ulah orang yang tak bertanggungjawab. Setelah semua warga membubarkan diri akhirnya Diko dan rekannya langsung kembali pulang bersama dengan Pak Hakim.


Sepertinya mereka yang protes itu hanya perlu penjelasan saja, bahkan tak brutal sama sekali dalam menyampaikan aspirasinya. Hanya saja pemerintah desa yang baru melihat dan menghadapi kondisi seperti ini merasa takut kalau apa yang dilakukannya nanti malah memancing keributan.


"Pasti ada yang nyebar informasi-informasi nggak benar di desa sebelah sampai terjadi seperti ini" ucap Pak Hakim sambil menghela nafasnya kasar.


"Mungkin hanya orang iri saja pak karena desa ini jauh lebih maju" ucap Diko menenangkan.

__ADS_1


Pak Hakim menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang terjadi. Lagi pula di desa memang lah sangat cepat jika informasi tak benar seperti ini menyebarnya. Namun ia hanya berharap kalau yang menyebar informasi fitnah itu nanti mendapatkan karmanya sendiri.


***


"Ratu..." seru seorang siswa laki-laki dengan senyuman ramahnya.


Siswa laki-laki itu merupakan ketua OSIS yang sedari dulu mengejar cinta Ratu. Hanya saja Ratu yang memang tak berniat untuk pacaran, dengan tegas menolaknya. Bahkan ia langsung meminta laki-laki itu agar fokus pada sekolahnya. Di bermana Aland Budi Hutama.


Seorang laki-laki dari keluarga sederhana dengan kepintaran dan ketampanannya. Hal itu membuat banyak siswa di sekolahnya begitu mengidolakannya apalagi keramahannya yang membuat semua orang senang didekatnya. Namun walaupun banyak yang mengidolakan, hanya Ratu yang menjadi pengisi hatinya seorang.


"Ada apa apa, Aland?" tanya Ratu dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Ratu mencoba untuk tak berpandangan terlalu lama dengan lawan jenisnya. Aland pun memaklumi itu karena ia sudah tahu siapa Ratu.


"Kita pulang bareng yuk. Sekalian aku mau ke balai desa itu lho, ngurus surat kematian bapak" ucap Aland.


Saat ini mereka tengah berada di lorong sekolah untuk pulang ke rumah. Masih banyak siswa yang berlalu lalang disana karena memang jam bel berbunyi baru sekitar 5 menit yang lalu. Kebanyakan mereka masih nongkrong bersama teman-temannya di halaman sekolah bahkan ada yang ikut ekstrakurikuler.


"Emmm... Maaf Aland, tapi nggak boleh lho kita jalan berduaan seperti ini. Ratu pulang duluan aja ya" ucap Ratu langsung terburu-buru berlari.


Bahkan berulangkali Ratu menengok kearah belakang untuk melihat apakah Aland mengejarnya. Melihat Aland hanya tersenyum melihat tingkahnya membuat ia sedikit lega. Ratu langsung mengambil sepedanya kemudian mengayuhnya pergi dari sekolah.

__ADS_1


"Tak apa, untuk sekarang memang tak boleh. Tapi beberapa tahun ke depan tentunya halal bagi kita" gumam Aland yang kemudian berjalan keluar area sekolah.


__ADS_2