
pagi yang indah dan akan terasa lebih indah bagi pasangan pengantin baru yang telah menyempurnakan pernikahannya.
mereka masih berguling mesra diatas peraduan, ketika pintu hotel diketuk.
Galang membuka pintu lalu tampak seorang wanita pegawai hotel tersebut membawa sarapan untuk keduanya.
" mas, aku mau yang pedes dong" pinta Dena saat melihat menu sarapannya hanya lah semangkuk bubur ayam dengan sambal cabe merah nya saja sedangkan sambal favorit Dena itukan cabai rawit,, ya nggak terasa makan sambel ya Den,,
" ini kan udah plus Sambal nya sayang, emang nya mau sambal yang kayak apa hmm? " tanya Galang seraya memeluk istri cantik nya itu dari samping.
Dena menoleh, betapa kebahagiaan tengah mereka rengkuh berdua,,
" ibu, bapak, trimakasih untuk do'a- doa kalain yang tak pernah putus untuk anakmu ini" bathin Dena dengan mata yang mulai berkaca- kaca, Galang yang melihat perubahan raut wajah sang istri pun lalu membawa tubuh Dena kedalam pelukan nya.
" sekarang kita makan yang tersedia dulu, setelah ini kita keluar, kepantai mau? kita cari makanan kesukaan mu di sana, oke, udah jangan nangis dong,, mas nggak mau kamu sakit Dena" ucap Galang mengelus puncak kepala Dena.
" aku terharu mas, kenapa kamu begitu menyayangiku, bukan hanya hari ini, tapi jauh sebelum aku menerima kehadiran dirimu dalam hidupku, begitu pun dengan kedua orang tua mu yang tak pernah memandang rendah terhadap kedua orang tua ku dan juga terhadap ku, padahal kita sangatlah jauh berbeda bagaikan bumi pada langitnya tak akan sampai bagi bumi untuk mencapai setitik awan mu, apa aku se istimewa itu mas, dan apakah ini awal yang tak akan pernah ada akhirnya untuk cinta dan kasih sayang mu terhadap ku? " tanya Dena mendongakkan kepalanya, yang kemudian mendapatkan kecupan manis dari Galang.
" semua manusia sama dihadapan Allah Dena, begitu pun mama dan juga papa, hanya terkadang rezeki yang diberikan sedikit berlebih ,hingga orang memandang berbeda,padahal yang membedakan hanyalah iman dan taqwa nya, bukan harta ataupun jabatannya, dan yang harus kamu yakini bahwa kasih sayang ku untuk mu dan juga ayah ibumu tak akan pernah berakhir" ucap Galang kembali memeluk istrinya tersebut.
" udah ah, kalau nangis terus kapan sarapan nya, keburu dingin bubur nya" ucap Galang lalu mengambil mangkuk buburnya.
Dena hanya memandangi Galang tanpa menyentuh makanan miliknya, Galang yang merasa diperhatikan itupun menghentikan makannya lalu kembali menoleh.
" kenapa nggak dimakan, nggak enak, atau mau makanan yang lain, biar mas pesankan" ucap Galang meraih ponsel di samping nya, namun Dema mencegahnya.
" nggak perlu mas, aku mau makan diluar aja" ucap Dena lalu menyandarkan kepalanya di bahu Galang, memeluk sang suami dan merasakan harum serta hangat tubuhnya.
" ya udah, setelah mas selesai sarapan kita langsung keluar, kamu nggak ganti pakaian? " tanya Galang seraya menikmati sarapannya.
" nggak usah deh mas, aku tinggal pakai blazer rajut ku aja" ucap Dena masih pada posisinya.
setelah menyelesaikan sarapannya, Galang benar-benar membawa Dena kepantai,mengenakan dress sage panjang selutut dengan blazer rajut hitam sebagai outfit nya Dena berjalan santai di tepi pantai dengan Galang yang menggandeng satu tangannya.
" kita duduk sebentar disana yuk? " ajak Galang yang menunjuk pada sebuah gazebo pantai yang kosong.
Galang segera mengajak Dena untuk berlari kecil menuju tempat tersebut.
" mas capek" ucap Dena sebelum duduk didalam gazebo pantai bernuansa putih tersebut.
Galang merentang kan kedua tangan nya, namun Dena menepis nya ia malah menyandarkan kepalanya diatas paha sang suami.
" ngantuk? " tanya Galang mencium singkat indra penciuman Dena.
" nggak mas, cuma lelah aja, tapi perutku laper, pesankan makanan plus kelapa muda dong" pinta Dena lalu merubah posisi rebahannya menghadap perut sang suami.
" sayang,mas nggak janji kamu bakal aman dengan posisi seperti ini ya" ucap Galang yang kini mulai merasakan ada sesuatu yang mulai bergejolak di bawah sana.
__ADS_1
" tapi aku nyaman seperti ini mas, please jangan ganggu dulu ya" ucap Dena yang kini malah semakin mengeratkan pelukan pada pinggang sang suami.
" tapi kenyamanan mu menyiksa ku sayang, arrghh" bathin Galang semakin tersiksa akibat rasa nyaman yang di rasakan sang istri.
setelah beberapa menit dalam posisi nyaman versi Dena yang tentu saja adalah penyiksaan untuk Galang , Dena melerai pelukannya saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
" sayang, makanan nya udah datang, bangun dulu " bisik Galang pada wajah Dena.
Dena pun segera duduk lalu Galang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan untuk di satukannya kebelakang.
" mas kamu gerah ya, kok keringat nya bercucuran gitu sih " ucap Dena menyeka keringat yang mengalir disekitar pelipis sang suami.
" iya, kamu yang membuat ku ngap- ngap kayak ikan air tawar" bathin Galang yang menggeleng kan kepalanya lalu menggenggam tangan Dena yang masih menyeka keringat di leher nya.
" iya panas, tapi karena ada kamu disini, walaupun keringat bercucuran tapi hawanya akan tetap sejuk" ucap Galang pelan, karena pesanan mereka sudah datang, dan kini tengah di tata di samping mereka.
dua porsi es kelapa muda, dan dua porsi bakso jumbo kini telah tersaji dihadapan keduanya.
Dena mengambil dua sendok penuh sambal cabe rawit yang ada di depannya, ia akan menambahkan kembali satu sendok cabe ke dalam mangkuknya, namun Galang yang memang tengah memperhatikan nya itupun segera mengambil nya.
" dua sendok aja udah lebih dari cukup sayang, jangan berlebihan, Allah tidak menyukai orang yang berlebihan" ucap Galang lalu memasukkan kembali sambal berwarna hijau itu kedalam mangkuk kecil bermotif daun.
" nggeh pak ustadz " ucap Dena sebelum menyantap makanannya.
" pelan- pelan saja, nanti tersedak " ucap Galang lagi, namun ia belum juga menyentuh makanannya.
" kamu nggak laper mas, atau kamu nggak suka sama makanan yang aku pilih? " tanya Dena.
" nanti, mas akan makan setelah kamu selesai makan" jawab Galang tersenyum pada Dena.
" kenapa, kamu malu makan bareng aku, iya? " ucap Dena yang kini malah meletakkan sendoknya sembarang.
" kenapa sekarang berubah jadi sensitif ya? " bathin Galang lalu mengambil sendok yang diletakkan Dena sembarang, ia pun mengambil makanan dari dalam mangkuk sang istri, lalu memakannya.
" bahkan mas tidak sungkan makan semangkuk dan satu sendok dengan mu, dimana letak malu nya hmm? " ucap Galang yang kembali menyendok makanan kedalam mulutnya, namun setelah beberapa suap menikmati makakanan sang istri, wajah, bibir juga hidungnya mulai memerah dan juga Dena melihat jika keringat mulai kembali menguar di wajahnya, Galang menghentikan makannya.
" mas, kamu nggak tahan pedas ya, kenapa maksain sih" ucap Dena yang segera menuang air mineral kedalam gelas lalu memberikan nya kepada Galang.
" mas nggak mau kamu salah paham Dena, maaf" ucap Galang yang bibirnya mulai megap- megap,, weh bahasa apa itu lang,, kepedasan ya akhi,,,
" aku yang seharusnya minta maaf, karena sikap kekanak-kanakan ku kamu jadi seperti ini" ucap Dena pelan, mungkin ia akan mendapatkan tamu. bulanan nya sebentar lagi, makanya mood nya selalu berubah- ubah seperti ini.
" udah, mas baik- baik saja sayang, jangan merusak suasana honeymoon kita ya" ucap Galang mendekap bahu Dena erat.
setelah menghabiskan makanan dan minuman nya Galang pun mengajak Dena untuk kembali berjalan menyusuri pantai sebelum pulang ke hotel tempat mereka menginap.
dan disinilah mereka berada saat ini, duduk ditepi pantai beralaskan pasir putih dengan kepala Dena yang menyandar pada bahu kekar Galang.
__ADS_1
" mas" ucap Dena mendongakkan kepalanya.
" hmm, apa? " ucap Galang membelai rambut sang istri.
" kapan masuk kantor, apa masih lama? " tanya Dena seraya menuliskan namanya dan juga nama Galang diatas pasir putih menggunakan lidi daun kelapa yang berjajar di sepanjang bibir pantai.
" mas bisa bekerja dari rumah saja Dena, jika ada meeting baru mas akan kekantor, kenapa bertanya seperti itu, kamu takut kalau mas nggak disamping kamu iya? " ucap Galang.
" iya, aku kan belum terbiasa dirumah kamu mas, masih canggung " ucap Dena pelan.
kedua nya berbincang-bincang hingga hari menjelang sore, mereka berniat menikmati sunset di sini, hingga menjelang mendekati waktu sholat magrib keduanya baru beranjak dari tempatnya.
Galang meraih satu tangan Dena, membantu nya berdiri lalu menepuk bagian belakang nya pelan untuk menyingkir kan pasir pantai yang menempel pada dress sang istri.
" cepetan mas, keburu abis magrib nya" ucap Dena mempercepat langkahnya.
tak lama keduanya sudah tiba pada sebuah Musholla yang berada tak jauh dari pantai.
setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka, keduanya pun segera menuju hotel tempat mereka menginap, namun sebelumnya mereka berbelanja terlebih dulu.
Dena tampak mengeratkan jari jemari tangan nya, saat kini keduanya telah sampai di dalam kamar hotel.
" dingin? " bisik Galang memeluk Dena erat, Dena menganggukan kepalanya lalu semakin mengeratkan pelukan nya pada sang suami.
" butuh kehangatan, mas bisa menghangatkan mu" ucap Galang sensual pada telinga Dena.
Dena berbalik, lalu memandang wajah Galang yang memandangnya dengan penuh pengharapan.
"kita ini pengantin baru sayang, tak ada yang salah dengan seluruh aktivitas honeymoon kita, karena tujuannya adalah mulia, yaitu membahagiakan kedua orang tua kita, membawa kabar bahagia untuk mereka, melanjutkan zuriat ,mas menginginkan mu sayang" ucap Galang yang langsung memeluk kembali tubuh sang istri lalu merebahkannya diatas peraduan mereka.
" mas yakin ini tidak akan sesakit seperti waktu pertama kali kita melakukannya" ucap Galang yang mulai melepas satu persatu kancing kemejanya.
dan malam itu mereka kembali melakukan hal yang sama seperti malam sebelum nya,, merengkuh manisnya madu asmara, hingga malam semakin larut keduanya masih setia berbagi keringat menikmati setiap rasa yang kini bernilai ibadah untuk mereka.
" mas, udah ya, aku ngantuk " pinta Dena yang kini terbaring dengan sebagian tubuhnya yang tertutup selimut dengan Galang yang memeluk nya.
" tidur lah, besok hari terakhir kita di sini, tempat mana lagi yang ingin kamu kunjungi? " tanya Galang menghadap kepada Dena yang ternyata sudah memejamkam matanya ,sementara satu tangannya ia letakkan diatas dada Galang yang belum mengenakan apapun disebaliknya.
" maafkan mas sayang, ini pengalaman pertama bagiku, maaf jika membuatmu lelah" ucap Galang mencium kening Dena sebelum akhirnya ia pun ikut memejamkan matanya.
full honeymoon versi ya,,
thanks for like and Reading
jazakumullah khoiron,,
see u,,,,
__ADS_1