
pagi yang cerah dua insan berbeda kasta dan berbeda tempat tinggal tampak mengerjapkan matanya coba menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang masuk dari celah- celah jendela di kamar mereka masing - masing.
tring
tring,
tring, kedua ponsel mereka berdering,
Dena bergegas menyambar benda pintarnya itu, lalu ia tekan tombol berwarna hijau.
" selamat pagi dokter" sapa Dena di ujung telponnya.
" pagi Dena, ceria sekali pagi ini, syukur lah saya ikut bahagia mendengar suara mu" ucap dokter Angga dengan senyum manisnya di sana.
" Alhamdulillah dok, sepertinya saya memang harus mulai menerapkan ucapan dokter kemarin, trimakasih dok" ucap Dena lagi.
" trimakasih, untuk apa Dena? tanya sang dokter heran.
" untuk semuanya" jawab Dena dengan senyum tersipu di balik handphone nya.
" hari ini free? " tanya sang dokter lagi.
" free dok, kenapa? " tanya Dena balik.
" cari suasana baru yuk, kebetulan saya nggak ada jadwal praktik hari ini dirumah sakit, ke pantai mau nggak? " tanya sang dokter, berharap Dena meng iya kannya.
" ke pantai ya dok? tanya Dena lagi.
" hemm" jawab Angga singkat.
"boleh deh, saya siap- siap dulu ya" ucap Dena sumringah, apakah Dena sudah mulai bisa melupakan Galang dan siap membuka hatinya untuk orang yang baru? dokter Angga mungkin? hmm, kita ikuti saja lah... cuss,,,
Dena memang sedang berusaha mencoba mengalihkan pikirannya yang masih tentang Galang, mungkin memang benar cinta pertama pada orang yang salah tak mudah untuk di lupakan, rasa sayang dan cinta seperti terpahat nyata di dalam jiwa, tak mudah untuk menghapus nya, tapi tunggu,,, pada orang yang salah? maksudnya Galang Den,hmm oh ayolah kalian nggak salah Dena, tapi permainan hidup memang harus begitu jalannya, kita bisa apa? yo wis, jalani saja.
Dena kini tengah duduk di samping dokter Angga yang duduk di balik kemudi nya, Hyundai santa fe nya melaju kencang di jalanan yang cukup lengang hari ini, karena hari ini bukanlah weekend atau hari libur cuti nasional, tapi hari kerja, tapi dua orang berbeda tujuan tetapi satu arah inikan memang lagi free tadi katanya, oke, mari kita nikmati...
" kamu suka ke pantai Dena, pernah kesana, sama siapa? tanya sang dokter beruntun.
Dena mengerutkan dahinya, ia merubah posisi duduknya untuk menyamping agar lebih jelas lagi memandang wajah dokter tampan di sebelahnya ini.
" kenapa memandangi saya seperti itu, ada yang aneh kah? " tanya sang dokter sekilas menoleh kepada Dena.
" pertanyaan dokter, borongan, sekali berdayung dua tiga pulau terlampau " jawab Dena.
sang dokter terkekeh, membuat guratan di pipi nya yang bersih tanpa di tumbuhi jambang itu semakin menambah kesan cool di wajahnya.
__ADS_1
" maaf, saya memang nggak terbiasa berbasa-basi Dena, kesannya kaku banget ya" ucap sang dokter, yang lalu mengusap- usap tengkuknya,, hehehe gugup ya dok,,,
" saya memang menyukai suasana pantai dok, pernah kesana bareng temen" jawab Dena namun Angga melihat ada gurat kesedihan saat Dena mengatakan bahwa dia pernah kesana bersama temennya.
" kenapa sedih lagi, teringat seseorang? " tanya Angga tanpa menoleh ke pada Dena.
Dena menganggukan kepalanya.
" siapa, apa pria yang bersama seorang wanita di pusat perbelanjaan kemarin? " tanya Angga lebih detail.
" bukan dok, tapi saya teringat kepada sahabat baik saya, yang sekarang berubah menjadi memusuhi saya"ucap Dena dengan suara tertahan.
Angga mengangguk-anggukan kepalanya pelan, beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di pantai yang di tuju, suasana tak terlalu ramai hingga mereka bisa bebas memilih tempat untuk bersantai.
Dena tampak menikmati suasana pantai dengan angin semilir, nyiur melambai menambah suasana kian nyaman bagi Dena.
"Dena" ucap Angga pelan, Dena menoleh ia bertanya dengan bahasa matanya.
" cerita mu belum selesai tadi tentang sahabat mu itu, saya tertarik untuk mendengarnya" imbuh sang dokter dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Dena tersenyum, ia pun menaikkan kedua kakinya lalu ia selonjoran pada bale- bale bambu yang ada di tepian pantai itu.
" namanya Anita dok, kami mengambil jurusan yang sama, persahabatan kami sudah terjalin semenjak kami berseragam putih Abu-Abu,..
panjang lebar Dena menceritakan kisah persahabatannya dengan Anita, namun tiba pada bagian dimana mereka sama- sama mengenal dosen tampan bernama Galang aditama Wijaya, Dena tampak menjedah ceritanya.
Dena menunduk tanpa suara.
" tapi dosen itu memilih kamu sebagai kekasihnya, lalu sahabat mu itu mengetahui hubungan mu dan dosen kalian itu, lalu akhirnya kalian berseteru? " tanya Angga lalu menepuk bahu Dena pelan.
" dokter benar dan sejak saat itu kami seperti orang asing yang tak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya " ucap Dena menahan sesak di dada.
" tapi sekarang apa dok, pria itu mengkhianati saya, dengan melanjutkan perjodohan dari kedua orang tuanya, setelah persahabatan yang saya korbankan dengan secara sadar telah memilih dia, tapi apa balasnya untuk saya, apa ini karma untuk saya dok" Dena tak sanggup lagi menahan air mata nya untuk tak jatuh...
ia menangis, Angga mendekatkan posisi duduknya kini berada di samping Dena, Dena dapat mencium aroma cytrus mint yang menguar dari parfume yang di gunakan oleh sang dokter.
" itu bukan karma Dena, tapi sebuah warning dari Tuhan untuk kamu, agar kedepannya kamu bisa lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan, jika keputusan mu itu lebih banyak mendatangkan kemudharatan untuk dirimu dan juga orang di sekitarmu, maka tinggalkan, begitupun sebaliknya" ucap sang dokter coba menenangkan Dena.
" apa saya sudah salah dalam mengambil keputusan dok, lalu saya harus apa? " tanya Dena bingung kini.
" kamu masih mencintai dan mengharapkan nya bisa kembali kepadamu? " tanya Angga menatap intens wajah Dena.
Dena hanya diam, dia sendiri bingung dengan perasaan nya, ada kala nya ia merasa bahwa Galang bukanlah takdirnya, namun saat dia mengingat- ingat kembali isi pesan yang dikirimkan Galang untuk nya, kenapa dia juga masih berharap bahwa keyakinan Galang itu adalah nyata yang akan menjemput mereka.
Angga bisa membaca bahasa tubuh Dena.
__ADS_1
" saya tau kamu masih sangat mencintai nya Dena, tapi hanya sekedar mencintai saja tidak akan cukup Dena , ada perjuangan dan doa di sebaliknya, dan perjuangan tidak bisa jika hanya dilakukan oleh sebelah pihak saja,sementara disini kamu berjuang agar bisa hidup bersama nya, tapi ternyata dia disana sudah membulatkan tekadnya untuk hidup bersama wanita yang lainnya,
ingat Dena, "cinta boleh, bodoh jangan"
" apakah yang saya lakukan ini adalah sebuah kebodohan dok? " Dena mendongakkan kepalanya, menatap sang dokter.
" apa yang dikatakan nya setelah kamu melihat nya bersama wanita lain kemarin " tanya Angga.
" dia masih percaya bahwa takdir hidupnya adalah bersama saya dok, dan dia berharap agar saya pun memiliki keyakinan yang sama seperti dirinya"jawab Dena dengan tatapan sendunya.
" kamu bersedia menunggu nya, sedangkan kemungkinan nya saja tak dapat di persentasikan kepadamu "tanya sang dokter.
" saya nggak tau dokter" jawab Dena pelan.
" tapi saya tau Dena kamu masih mencintai pria itu" ucap Angga mengedarkan pandangan matanya kelautan luas.
keduanya lalu larut dalam pikiran mereka masing-masing.
___________
________
_____
sementara itu Galang tengah berdiri di rooftop rumahnya saat menerima sebuah panggilan dari nomor yang tak di kenalinya.
" siapa anda, dan ada kepentingan apa menghubungi saya" tanya Galang pada penelepon di seberang sana.
" kamu tidak perlu tau siapa aku, tapi aku tau siapa kamu" jawab pria itu di ujung telepon nya.
" tidak perlu berbasa basi, katakan saja apa kepentingan mu terhadap saya" Galang mulai kesal dengan pria tersebut.
" kabar yang sangat menggembirakan untuk anda pastinya tuan Galang, tapi aku tidak ingin mengatakan nya disini, apa kita bisa bertemu? " tanya pria tersebut.
" aku tidak memiliki banyak waktu, apalagi untuk hal yang belum ku ketahui manfaatnya apa untuk diriku" ucap Galang datar.
" ini berhubungan dengan Anisa calon istrimu itu,kamu akan sangat menyesal jika melewatkan pertemuan dengan ku kali ini"ucap pria di seberang sana.
setelah menyepakati tempat pertemuan keduanya, Galang segera mengakhiri panggilannya, ia bersiap dengan setelan casual nya, celana cargo berwarna hitam di padukan dengan kaos polo polos berwarna senada, tak lupa sebuah jaket denim ia sampirkan di bahu kanannya, kaca mata hitamnya pun ikut turut serta bertengger kokoh dihidung mancungnya.
hmm, ada kabar apa ya dari si penelepon misterius...
semoga kabar bahagia ya pak dos...
maaf baru update
__ADS_1
trimakasih, BarokAllah
see u......