
pesan yang dikirim kan Galang untuk Dena, ternyata belum di baca oleh Dena, dia tengah sibuk menyiapkan peralatan kuliahnya,belum lagi Dena kini tak boleh meninggalkan sarapannya, ya sejak kejadian dia pingsan di kampus waktu itu sang ibu tak pernah membiarkan Dena berangkat ke kampus sebelum menghabiskan sarapan dan segelas susu rendah lemak nya.
Dena bersiap untuk menaiki scooter maticnya,namun dia tiba- tiba turun lagi dan bergegas masuk kedalam kamar nya.
" handphone Dena ketinggalan bu" jawabnya saat sang ibu menatapnya dari arah dapur.
Dena segera menyambar handphone nya tanpa melihat apakah ada pesan atau panggilan masuk untuk dirinya, segera saja ia masukkan benda pintar tersebut kedalam saku rok panjangnya.
Dena sedang mengendarai roda duanya, tak berapa lama dia sampai di kampusnya, pandangan nya berpendar pada lahan parkir, tentu yang ia cari lexus hitam milik Galang yang tak nampak terparkir disana.
Dena melihat waktu pada jam tangannya,
" ini udah siang, tumben pak Galang kok belum datang ya, apa dia kesiangan, bukannya pagi ini dia ada kelas , atau mungkin pak Galang di antar oleh sopirnya" pikir Dena, ia belum berniat untuk menghubungi Galang, sehingga ia pun melenggang masuk kedalam kelasnya.
Dena memasuki kelas nya, suasana sudah ramai karena seluruh mahasiswa sudah duduk pada kursinya Masing-masing, hanya saja dosen ku kekasih ku itu tak jua nampak batang hidung mancung nya, Dena pun mulai ber firasat, namanya firasat pastilah buruk ya bestie...
saat Dena sedang dalam kegundahan nya, terdengar suara langkah mendekat memasuki kelas, tapi bukan Galang, melainkan seorang dosen senior.
" selamat pagi semuanya " sapa sang dosen.
" hari ini prof Galang tidak masuk, dikarenakan ayahnya sedang berada di rumah sakit, dan dia meminta saya untuk menggantikan nya" ucap Dosen senior yang juga seorang profesor itu, usianya mendekati masa purna bakti sepertinya, namun wibawahnya masih terpancar pada wajah dan kalimat yang di ucapannya, tegas dan menggetarkan jiwa, namun bukan hal itu yang membuat Dena terkejut, tetapi berita yang disampaikan oleh sang Profesor.
" papanya pak Galang masuk rumah sakit" gumam Dena, dia segera meraih ponsel dalam saku rok panjangnya, ia mengerjapkan matanya, saat mendapati sebuah pesan yang dikirim oleh Galang sekitar dua jam yang lalu, Dena segera membaca pesan dari Galang tersebut.
~maaf Pak, saya baru membaca pesan dari bapak,
gimana keadaan nya sekarang pak,
maaf sekali lagi~
__ADS_1
Dena meletakkan ponselnya pada tas punggung yang ada di depannya setelah pesan nya terkirim walaupun belum terbaca.
" kamu kok gelisah banget sih Den, ada apa? " tanya Dinda saat melihat Dena duduk sendirian di pojokkan kantin sambil menikmati semangkuk mi instan nya.
" oya, apakah wajahku nampak seperti orang yang gelisah din? " tanya Dena balik,mencoba menutupi kekhawatiran nya, karena pesan nya tak kunjung di balas oleh Galang, bahkan saat Dena coba menghubungi panggilannya pun selalu di alihkan oleh Galang, marah kah, atau keadaan papa nya yang memburuk, ah Dena lelah berasumsi yang bukan- bukan, ia coba berpikir positif saja, namun rupanya raut kegelisahan di wajahnya tak dapat ia sembunyikan hingga terbaca oleh Dinda yang kini duduk di depannnya.
" iya, nampak banget den, coba lo ngaca deh, wajah lo itu banyak kerutan di keningnya, nanti cepet tua lho, hiiii... amit- amit den, kuliah aja belum selesai masa iya, wajahnya udah selesai masanya , hiii" ucap Dinda bergidik ngeri yang di tanggapi dengan tawa rendah oleh Dena.
" hehehe, lo bisa aja din, nggak gue nggak lagi mikirin apa- apa kok cuma laper aja dan takut pingsan lagi nanti lo juga kan yang repot " ucap Dena dengan senyum tersungging ndi bibir nya.
" pasti lagi mikirin pak Galang kan, secara sang calon mertuanya sakit din"
Dena dan Dinda sangat terkejut dengan kalimat yang baru saja mereka dengar, keduanya pun menoleh kepada sumber suara di mana kalimat itu terlontar.
" Anita, maksud lo apa sih, calon mertuanya siapa? " tanya Dinda yang membenahi posisi duduknya untuk menghadap Anita kini.
" siapa lagi din, ya besti lo itu lah,iya kan Dena, duh kasian pasti pingin cepet- cepet pulang ya, trus lari deh kerumah sakit buat cari perhatian sama pak Galang, uppss,sory salah, papanya pak Galang kayaknya ya" ucap Anita sambil menutup mulutnya.
" maaf Din, gue cabut duluan ya, permisi nit" ucap Dena saat melewati Anita sahabat baiknya yang kini berbalik memusuhinya, namun saat akan melangkahkan kakinya, tiba- tiba kakinya tersandung kaki Anita yang sengaja di silang kan oleh Anita, hingga Dena pun tersungkur, Dena mengusap kening nya yang tergores terbentur ubin kantin yang pecah sebagian sisi nya.
Dinda nampak menghampiri Dena dan membantu nya untuk berdiri, ia memberikan selembar tisu untuk membersihkan luka Dena yang sedikit mengeluarkan darah, sementara Anita sudah berlalu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" bukankah dulu kalian bersahabat, lalu kenapa sekarang seperti musuh pada mangsanya, gue melihat kemarahan dan kekecewaan pada sorot mata nya Den, ada apa? " tanya Dinda yang membimbing Dena untuk kembali duduk di kursi nya tadi.
" long story din, maaf aku belum bisa menceritakan nya sama kamu, mungkin nanti saat semuanya sudah jelas, makasih ya, kamu masih mau perduli sama aku" ucap Dena seraya menepuk punggung tangan Dinda pelan.
" it, s oke Den, kapanpun lo butuh teman buat bercerita gue selalu siap mendengarkan nya" balas Dinda,lalu keduanya pun beranjak pergi untuk kembali memasuki kelas, karena waktu istirahat telah usai.
____________
__ADS_1
________
______
Dena sudah sampai si rumahnya, ia rebahkan tubuh lelahnya pada ranjang kecilnya, menatap langit- langit kamar, airmatanya mengalir mengingat perlakuan Anita yang kasar terhadapnya.
" apa aku salah pak, dimana letak salahku? " tanya Dena di sela-sela isakannya,ia buru- buru menyeka airmata nya, saat sebuah panggilan video masuk ke handphone nya.
" pak Galang" ucap Dena, senyum bahagia terbit dari bibir mungilnya.
" hallo pak, kenapa nggak baca pesan saya, pak Galang marah ya, maaf... " liriknya dengan wajah tertunduk.
sementara Galang tampak sedang duduk di sebuah taman dengan background pohon cemara di belakang nya, tampak tersenyum menanggapi kegalauan Dena yang terbaca dari nada bicaranya.
" saya sibuk Dena, maaf baru sempat buka handphone, dan begitu membaca pesan dari kamu beberapa jam yang lalu, saya pikir lebih baik langsung menghubungi kamu saja, kenapa suaramu seperti orang habis menangis,ada apa? " tanya Galang menatap Dena yang tak berani menunjukkan mata sembabnya.
dan memang benar walaupun Dena tak menunjukkan wajahnya, namun dari suara parau nya saja, Galang tau jika ia tengah menangis tadi sebelum menjawab panggilan dari Galang.
" papa, belum sadarkan diri Dena, sekarang masih di ruangan ICU, ada mama yang menemani" kalimat Galang barusan rupanya berhasil membuat Dena mendongakkan kepalanya, menatap Galang di sebrang sana.
Galang tampak memindahi wajah sang kekasih yang masih basah pada ujung kelopak matanya.
" kamu beneran habis nangis, ada masalah di kampus, saat saya tidak ada di sana? " tanya Galang yang kini mulai tak nyaman perasaan nya saat melihat wajah sembab Dena dan juga kening Dena yang tampak memar, ah, Dena lupa menutupi luka kecilnya tadi, sekarang apa?Galang langsung memutus panggilan videonya pada Dena.
Galang bergegas menemui sang mama, ia hanya menyapa lewat kaca transparan pada sang mama, lewat Bahasa tubuh yang dimengerti oleh sang mama, akhirnya Galang segera memacu kendaraan nya menuju rumah Dena.
" apakah ini ada hubungannya dengan Anisa, arrrggghhh"Galang mencengkeram kemudi nya kuat- kuat.
trimakasih, see u..
__ADS_1
~`~~