
Galang melangkah semakin cepat untuk menemui sang papa yang nampak berbincang santai dengan dua orang pria di sampingnya.
rasa penasaran dalam hatinya sungguh sudah menggunung tak akan mencair di terpa dengan senandung,, asyeekk,, goyang Di, Ardi, dangdutan kita...
semakin dekat maka semakin jelas bagi Galang.
" kenapa kok ada papanya Anisa juga" bathin Galang saat melihat ada sosok Broto yang masih mengenakan setelan underwear sopan nya.
" tunggu Di" tiba- tiba Galang menarik kerah kemeja Ardi dari belakang.
" opo meneh mas, ayo masuk, bapak udah nunggu lama lho, kasian ih" ucap Ardi kesal.
" jelasin dulu, apa sebenarnya yang terjadi, baru saya akan masuk ke dalam, a, Dena nya mana, kok nggak nampak? "ucap Galang lalu menarik tangan Ardi untuk di ajaknya duduk di kursi yang ada di teras samping rumah Dena itu.
" denger ya mas, kalau saya harus menjelaskan seluruh kejadiannya, maka sampai besok kita nggak akan pulang, disini aja! itukan yang mas Galang mau"ucap Ardi saat di paksa duduk oleh Galang.
puk!! Galang menimpuk bibir Ardi yang mengerucut tanda nya ia sudah sangat kesal pada tuan mudanya ini.
" sakit mas" keluh Ardi sambil memegangi bibirnya,
"main pukul, sejenak e dewe, udah, kalau nggak mau masuk, saya aja yang masuk, biar mbak Dena nya yang jemput mas Gaalng disini,
ouh, iya pasti mas Galang bahagia banget ya, kalau di datengin sama kekasih hatinya itu, tapi sayang mas, kenyataan tak seindah khayalan anda"setelah berucap seperti itu Ardi benar- benar berlalu meninggalkan Galang.
" lho, mana Galang nya Di, kata kamu udah di depan tadi, kok nggak masuk" tanya Wijaya.
"mas Galang, masuk mas, udah di tungguin bapak lho dari tadi" dengan suara lumayan kuat Ardi memanggil Galang, tujuannya tentu saja agar Dena mendengarnya, kan bisa saja si mbak Dena nya itu langsung keluar ketika nama mas Galang nya dibsebut.
dan dugaan Ardi ternyata tidak tergelincir kawan, Dena nampak keluar dari kamarnya, tapi pakaian nya rapih sekali, dengan tas selempang di bahu nya.
" Dena mau ke rumah Anita sebentar pak, ada tugas kampus yang harus di selesaikan " ucap Dena, berpamitan kepada sang ayah lalu mencium punggung tangan nya lalu mengangguk pelan pada tiga pria yang tak sebaya itu.
sang ayah tersenyum, Dena pun melangkah keluar, namun saat berbelok ke samping untuk mengambil scooter matic nya, Tiba-tiba saja, tangannya di cekal oleh orang yang tak terlihat wajahnya, Dena hampir saja berteriak minta tolong, jika saja Galang tidak buru- buru membekap mulut Dena dengan kedua telapak tangannya.
Dena berusaha melepaskan tangan kekar Galang yang masih membekap mulutnya.
__ADS_1
saat dirasa keadaanya sudah lebih tenang, Galang membuka bekapan tangannya, lalu ia balikkan tubuh Dena agar menghadap dirinya, Dena membelalakkan kedua bola matanya, kali ini dia sendiri yang menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat siapa yang ada di depannya saat ini.
"pak Galang" ucapnya lalu tanpa sadar dia menghambur dalam pelukan Galang.
" kemana aja sih, di telepon kok nggak di angkat, saya khawatir, takut terjadi sesuatu yang buruk sama bapak" ucap Dena dalam pelukkan Galang.
Galang mengelus punggung Dena pelan.
" maaf saya ketiduran di dalam mobil, handphone nya hanya mode getar, jadi nggak kedengeran jika ada panggilan masuk, termasuk panggilan dan chat yang kamu kirimkan" jawab Galang.
saat mendengar jawaban Galang yang mengaku ketiduran di dalam mobil, saat dirinya sudah menjadi sasaran fitnahnya Anisa, saat rasa takutnya tak bisa di luapkannya pada siapapun, dan dia si bujang tua itu seenak jidatnya bilang jika dirinya tertidur di dalam mobil, hellow... every body, tolong katakan pada bujang jelihim nya ini,
jika alasannya itu sungguh nggak mutu, hoax!!
Dena melepaskan pelukan tak sengaja nya yang sangat dinikmati oleh Galang itu.
" kenapa" tanya Galang saat tatapan Dena setajam sembilu.
bug, bug, bug, bertubi-tubi Dena memukul bahu Galang menggunakan helm nya.
" silahkan bapak hitung salah bapak satu persatu " ucap Dena, namun Dena nampak mengerutkan keningnya,
" tapi tunggu, pak Galang ngapain kerumah saya? " tanya Dena.
Galang kembali menarik tangan Dena agar kembali mendekat kepadanya.
" papa saya ada di dalam"ucap Galang pelan nyaris tak terdengar.
"ha,,, yang mana pak, ada tiga pria yang ikut pulang bersama bapak saya tadi, seorang pria berpakaian lengkap,yang usianya kira- kira masih di bawah pak Galang, dan dua orang lagi mungkin usianya sudah menginjak kepala lima , dan maaf"......
Dena nampak menjeda ucapannya lalu menyatukan jari jemari nya sebelum melanjutkan ucapannya.
"apa, mau ngomong apa, kok harus minta maaf segala" potong Galang yang mulai merasa ada yang tidak beres dengan apa yang akan dikatakan oleh Dena selanjutnya.
" ehmmm, mereka hanya mengenakan underwear sopan nya saja dan saya nggak tau kenapa " lanjut Dena seraya memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Galang semakin penasaran saja sibuatnya.
" papa saya yang pakai jas dan juga celana panjang itu Dena, dan kenapa tadi kamu bilang beliau hanya mengenakan underwear nya saja,maksudnya apa? " tanya Galang lagi.
"ehmmm, maaf sebelumnya pak" ucap Dena kembali meminta maaf dan menjeda kalimatnya.
" ck, kamu ini kaya lebaran idul fitri aja, dari tadi kok minta maaf terus sama saya, apa? ngomong langsung aja, jangan bikin saya menjadi semakin bertanya- tanya terus dong! "Galang mencebik kesal.
" sebenernya jas yang di pakai sama papanya pak Galang itu, itu, a,,,, " takut- takut Dena berusaha melanjutkan Kalimatnya.
" ck, ayolah Dena, nanti keburu sopir dan orang tua kita kesini dan memergoki kita disini, bisa di paksa langsung menikah kita!! Dena memicing kan matanya tak bersahabat dengan ucapan Galang tadi.
sementara Galang semyum- senyum sendiri mengeja kalimat terakhirnya tadi yang mendapat tatapan kilat dari Dena.
" ehmm, ya udah nggak apa- apa deh, Lama-lama disini, nikah sekarang juga saya siap kok" ucap Galang mengerlingkan sebelah matanya.
plakk!!
Kali ini Dena menimpuk Galang menggunakan sandal tepleknya, hehehe, untung bukan bakiak ya lang,kan bisa kempot itu lengan berotot nya, kalau di timpuk pakai terompah dari kayu.
" itu jas pak Galang" ucap Dena melanjutkan kalimat nya yang sengaja di jedahnya tadi.
"kamu..... " Galang menggeleng- ngelengkan kepalanya pelan, matanya intens memandangi wajah Dena yang sengaja ditutupi Dena dengan kedua telapak tangan nya.
" kan tadi udah minta maaf, maaf lagi deh" ucap Dena yang masih menutupi wajahnya dengan telapak tangannya itu.
" kamu jelasin besok di kampus, saya tunggu di ruangan saya, saat jam istirahat "
tanpa basa- basi apapun lagi, Galang berlalu meninggalkan Dena yang mulai membuka matanya, memandangi Galang yang berjalan cepat masuk ke dalam rumahanya.
" pak Galang marah ya? " lirih Dena.
marah tandanya sayang Dena,,
__ADS_1