Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
menemui Dena.


__ADS_3

Setelah Angga pergi untuk memanggil Dimas, Galang langsung menuju ruangannya.ia duduk di kursi kerjanya.


tuk


tuk


tuk


terdengar pintu di ketuk.


" boleh saya masuk mas" suara Dimas meminta izin.


" masuk aja Dim"jawab Galang.


" duduk, dan jelaskan apa yang kamu obrolkan sama Dena di bawah tadi" Galang menatap Dimas tanpa senyuman di wajah nya.


" dari mana saya harus menjelaskan nya mas, saya bingung apa yang harus di jelaskan, karena saya merasa tidak melakukan hal yang melanggar norma- norma di kafe mas Galang ini.


Galang hanya diam tak menanggapi keluhan karyawan kepercayaan nya ini.


" yang bermasalah itu kan mas Galang ya, lah kok saya yang harus menyelesaikannya sih, orang. kalau lagi jatuh cinta memang suka aneh" bathin Dimas yang merasa bingung harus dari mana menjelaskan nya.


"kenapa kamu selalu mendahului saya"


ucapan Galang benar- benar membuat Dimas melongo.


" yang mana mas, kok selalu? berarti saya sering melakukan hal itu?


"kamu tau kan kalau saya turun itu buat nemuin Dena, eh kamu malah duluan ngobrol sama dia, terus tadi waktu dia tersedak, ngapain kamu langsung cari perhatian dengan memberikan minum untuk dia, itu apa maksudnya? kamu suka sama Dena, mau jadi pagar makan tanaman kamu hem?


Dimas mengerti kini apa yang sedang dirasakan oleh bos mudanya nya ini.


" owalah, jadi mas Galang ini ceritane cemburu to, walah mas- mas saya ini siapa kalau dibandingkan sama mas Galang, se ujung kuku pun nggak ada mas" ucap Dimas.


" ojo di banding- banding ke" ucap Galang lagi.


Dimas tertawa kecil mendengar ucapan Galang barusan.


" saya hanya memberikan pandangan mas bahwa rasa cemburu mas Galang itu jatuh kepada orang yang salah,lagian emang nya mas Galang berani apa nemuin mbak Dena secara terang- terangan, kan dia sama temannya mas,dan lagi ya,gimana kalau pas mbak Nisa datang ternyata mas Galang nya lagi ngobrol sama mbak Dena bisa kacau rencana mas Galang nanti,


yo wes saya turun lagi ya mas, kasian yang lain keteteran melayani pengunjung"Dimas Akan melangkah pergi namun Galang memanggil nya kembali.


" Dim, jangan bilang ke yang lainnya tentang obrolan kita ini"


pinta Galang yang nampak tersenyum malu.


" nggeh, mas Galang tenang aja saya paham kok, dan mengenai minuman yang saya suguh kan ke mbak Dena tadi, itu hanya reflek mas, manusiawi aja, nggak ada niat buat cari perhatian nya mbak Dena kok"


" kamu marah sama saya Dim? "


" nggak mas cuma kesal aja, selalu jadi sasaran" ucap Dimas tanpa menoleh dan berlari menuju ke lantai satu, dia tak ingin mendengar ocehan Galang yang ngalor ngidul itu.


" arrrghh,, Galang menghempaskan tubuhnya pada kursi kerjanya.


" kenapa bisa nggak terkontrol gini sih, kan malu,kelihatan bucin banget tau nggak lang" gerutu Galang pada dirinya sendiri.


baru saja Galang ingin memejamkan matanya, namun ia teringat akan Dena.


Galang langsung meraih handphone nya.


satu pesan belum dibaca, satu panggilan tak terjawab, Galang tersenyum,ia berharap itu ada lah pesan dan panggilan dari Dena, namun senyum nya memudar saat membaca nama yang tertera, " Anisa"Galang tak berniat untuk membaca isi pesan dari Anisa itu.


ia mengetik kan sebuah pesan yang panjang untuk Dena, namun ternyata hanya Cek list.


" arrggghh, Dena selalu begini, aku perlu bicara sama kamu Dena!! kesal nya lalu ia hempaskan handphone nya sembarang.

__ADS_1


" apa aku ke rumahnya saja ya, dia nggak mungkin menghindar kan kalau aku sudah ada di depannya.


Galang meraih handphone nya lalu bergegas turun ke lantai satu.


"Dimas" panggilnya.


Dimas yang merasa namanya di panggil pun menoleh dan segera menghampiri Galang.


" ada apa lagi mas, hutang saya belum lunas yah? "Dimas tersenyum saat menghampiri bos mudanya itu.


" kamu ini apa sih, saya mau keluar mungkin nanti langsung pulang ke rumah,jadi saya nggak kesini lagi, saya titip kafe ya" pinta Galang pada Dimas.


" selalu mas, monggo di selesai kan masalah nya dengan mbak Dena, biar saya nggak jadi sasaran mas Galang terus" ucap Dimas pelan yang tak terdengar jelas di telinga Galang.


" ngomong apa kamu Dim, kayak lebah yang pindah rumah aja, berdengung di telinga saya " ucap Galang dan Dimas menggelengkan kepalanya.


" dasar bucin" ucap nya seraya berlalu setelah dilihatnya Galang pergi dengan mobil mewah nya.


" mas Galang mau ke mana Dim, kelihatannya kok panik gitu, ada apa to? "tanya Angga.


" orang bucin jangan di ganggu ngga, mode garang, senggol Kemplang" jawab Dimas.


" wuih ngeri temen Dim, tapi Kemplang kan enak Dim, Kemplang ikan air tawar apa air laut nih, di cocol sambel tambah manteb tuh" ucap Angga.


" bukan air tawar atau air laut ngga, tapi air mata" jawab Dimas menunjuk matanya yang basah terkena jemari nya tadi, yang reflek menoleh saat Galang memanggil nya.


"eh Dim,itu tadi calon istrinya mas Galang ya? " tanya Angga.


Dimas melihat sekeliling, lalu meletakkan jari telunjuk pada bibir nya.


" ojo seru- seru, nanti yang lain dengar,mas Galang bisa marah" ucap Dimas pada Angga.


"ho oh, ho oh, sorry" ucap Angga lagi.


" lah iya, mas Galang cinta nya sama cewek jutek yang makan di sini tadi kan" ucap Angga.


" hmm, mboh lah ngga, masalah orang ganteng plus sugeh ternyata tidak sesederhana sama kehidupan kita, lebih rumit dan membingungkan"


Dimas berlalu karena ada pengunjung yang memanggil nya.


___ ____ ___


___ ____ ___


lexus ls 500 milik Galang berhenti di depan gang rumah Dena, Galang keluar dari mobil nya.


langkah panjang nya membuat ia cepat sampai di depan rumah Dena kini, pintu nya terbuka Galang mengetuk lalu mengucapkan salam.


"Assalammualaikum" ucap Galang.


" wa alaikumussallam" ibu Dena nampak keluar dari dalam rumahnya.


" pak Galang, mari masuk pak" ucap ibu Dena ramah.


Galang masuk lalu duduk.


" aa, Dena nya ada bu? " tanya Galang.


" Dena nya keluar sama temannya pak, mungkin sebentar lagi dia pulang"


"apa sudah dari tadi bu Dena keluar nya? " tanya Galang lagi.


" iya, dari siang tadi Dena perginya,saya tinggal ke belakang dulu pak"ibu Dena kemudian berlalu untuk membuat minuman hangat.


" itu artinya Dena nggak pulang ke rumah waktu keluar dari kafe tadi, kemana dia? saat Galang sedang bertanya- tanya itu lah terdengar langkah kaki mendekat.

__ADS_1


"bu, bapak udah pulang ya, kok pintu depan terbuka gini" ucap Dena yang langsung masuk ke dalam rumahnya.


" wa alaikumussallam"


" eh, Dena sedikit berjengit karena mendapati Galang yang kini menatap nya sambil tangannya menimang- nimang smartphone .


" masuk rumah itu ucap kan salam" ucap Galang.


"hehehe, udah dari tadi pak, kok nggak bilang kalau mau ke rumah saya? " tanya Dena cengar- cengir.


Galang tak menjawab dia mengayun- ayunkan smartphone di tangannya.


" aa,, handphone saya mati pak, maaf ya"ucap Dena pelan.


" mati atau sengaja di mati kan? "pertanyaan Galang lebih tepatnya ada lah sebuah tuduhan bagi Dena.


" sengaja di mati kan? buat apa? " mimik wajah Dena berubah menjadi kesal.


Galang tersenyum, karena dia tidak menemukan amarah pada kata- kata yang Dena ucap kan barusan.


" kenapa senyum- senyum, oh iya saya Lupa, kan tadi abis di datengin sama calon nyonya Wijaya di kafe"


" namanya Anisa, bukan nyonya Wijaya " jawab Galang datar.


" kan saya bilang nya calon" ucap Dena.


" calon saya bukan dia" ucap Galang menimpali.


"oh, ada calon yang lain rupanya ya" Dena memalingkan wajahnya untuk menutupi kekesalannya.


"kamu cemburu? " tanya Galang.


" menurut bapak? "Dena balik ber tanya.


" iya, kamu cemburu, maaf saya sudah membuat kamu kesal tadi"


" bahkan sampai sekarang kesal nya masih ada pak, seharusnya bapak bilang kalau hari ini mau ngedate sama dia, jadi saya nggak perlu datang ke kafe bapak, hanya untuk melihat wajah cantiknya itu" Dena merengut kali ini.


"kamu lebih segalanya Dena" ucap Galang coba meredam kekesalan Dena.


" he eh, bapak bohong pun saya akan percaya kok"


"saya pantang berbohong Dena" ucap Galang pelan, ia tak ingin ibu Dena memdengar perdebatannya bersama Dena.


"bapak jatuh cinta ya sama,,


" iya, sama kamu"belum selesai Dena berkata namun Galang memotong kata- katanya.


" Gombal, gembel, gamblung" Dena menimpuk Galang dengan tas selempang nya.


Galang tersenyum, Dena nya selalu begini, marah nya nggak akan lama.


"udah selesai kesal nya sama saya? "Galang memandangi wajah Dena dengan intens.


" saya bukan tipe orang yang hobby berlama- lama memendam rasa kecewa pak, bikin tambah kessl!! jawab Dena.


" saya tau" ucap Galang.


Dena menatap Galang yang sedang menatap nya.


" Hoaks".. Dena bergegas masuk ke kamar meninggalkan Galang yang kini malah senyum- senyum sendiri.


hmmm, ya ya ya... bucin tingkat akut ya seperti ini.


__ADS_1


__ADS_2