
Galang hanya melihat sekilas pesan yang baru saja dikirimkan Anisa , lalu ia pun memejamkan matanya, tak lama ia pun terlelap.
Sementara itu di Kamar nya Anisa masih tampak mengetik pesan yang di tujukannya kepada Dena.
"maaf mengganggu istirahat mu adik,
kamu harus tau dik, besok keluarga kami akan bertandang ke rumah mas Galang,
kamu pasti tau apa yang akan kami bicarakan disana besok, maaf mendahului mu"
Anisa mengakhiri pesannya untuk Dena.
Galang bangun saat suara azan subuh berkumandang, setelah melaksanakan sholat subuh Galang langsung meraih handphone nya.
"Anisa, dia mengirimkan pesan lagi, padahal pesan yang sebelumnya saja tidak aku baca" gumam Galang, namun dia penasaran dengan isi pesan yang dikirimkan Anisa untuk nya.
Galang nampak memijit keningnya berulang kali setelah membaca isi pesan Anisa barusan.
" apa aku harus memberi tau Dena tentang hal ini, tapi aku belum tau apa yang akan mereka bahas hari ini,arrrrghh" Galang mengacak- acak rambutnya, siapa yang akan di ajaknya bicara,dia tidak ingin menambah beban pikiran Dena, biarlah dirinya saja yang berjuang Dena hanya perlu mendampinginya saja.
setelah selesai membersihkan tubuhnya Galang lalu mengenakan pakaian kerjanya, ia putuskan hari ini tetap ke kampus, biarlah Anisa dan kedua orang tuanya datang dan menunggu dirinya pulang, katakan saja bahwa dia tidak membaca isi pesan dari Anisa itu, biarlah dia dibilang kekanak- kanakkan,segala cara akan ia tempuh untuk menggagalkan perjodohan ini, jika di awal ia berniat memakai cara yang halus tanpa menyakiti siapa pun terutama ayah nya, maka saat ini perasaan Anisa tak lagi jadi pertimbangannya, toh Anisa sudah mengetahui tentang hubungannya bersama Dena, namun memang sampai saat ini Anisa tidak pernah menyinggung tentang hal itu, rupanya dia ingin jikalau Galang sendiri lah yang mengatakan nya nanti.
Galang sudah siap dengan tas kerja nya, ia akan turun untuk sarapan bersama papa dan mamanya.
" pagi ma, pa" ucapnya lalu duduk di sisi kanan sang mama.
sang papa nampak memindahi penampilan Galang pagi ini, Galang yang menyadari hal itu tak ayal juga mengikuti kemana arah pandang sang papa, di lihatnya dari ujung rambut sampai ujung kukunya, "ada yang salah kah? " bathin nya.
" rupanya Anisa membawa pengaruh positif untuk Galang ya ma"ucap sang papa seraya menoleh dan tersenyum kepada istrinya.
"ya harus dong pa, siapapun itu jangan sampai membawa pengaruh negatif untuk putra kita satu- satunya ini, iya kan lang? " sang mama menepuk pelan bahu Galang, dan Galang tersenyum lalu bibirnya berucap pelan
"Dena"
setelah itu ketiganya pergi dengan mengendarai kendaraan mereka masing-masing, kecuali sang mama yang di antar oleh Ardi supir pribadi mereka.
ketika di tengah perjalanan, Ardi sudah merasa ada yang tidak beres di sini, tumben- tumbenan nyonya besarnya minta di antar ke kafe nya Galang," pasti ada something ini" pikir Ardi dan benar saja, sang nyonya nampak berdehem kecil.
" ehm, Di"
" iya bu, ada apa? " tanya Ardi sopan.
"kamu pasti tau kan kenapa saya mengajak kamu ke kafe nya Galang"
" nggak tau bu" jawab Ardi masih bisa tenang.
" tadi malam habis dari mana sama mas Galang? sang nyonya besar langsung pada pokok permasalahan nya.
" waduh piye iki, kan mas Galang sudah wanti- wanti supaya aku menjaga rahasia nya ini, tapi nyonya besar inikan baik hati banget ya, beda sama tuan besar yang sekarepe dewe itu"bathin Ardi.
" saya tanya di, kok malah melamun, kurang jelas pertanyaannya, perlu di ulang" ucap sang nyonya
__ADS_1
.
Ardi masih diam seperti orang yang bingung, galau, gelisah ataukah takut? entahlah tapi wajahnya benar- benar tidak bisa berbohong kali ini.
" bilang sama saya, kamu bukan setahun dua tahun kan kerja di keluarga ini, dan kamu pasti sudah hafal karakter dari kami masing-masing, atau kamu sudah punya perjanjian tertulis sama tuan muda mu itu, iya? " sang nyonya mencecar Ardi dengan berbagai analisis nya yang memang benar adanya.
walaupun perjanjian nya tidak di atas materai sih, tapi seorang laki- laki itu kan yang di pegang ucapannya, dan saat ini status kelakiannya sedang dipertaruhkan.
" potong saja ******** mu itu di, kalau sampai kamu mengingkari janji kamu, jadi tulang lunak saja atau tulang rusuk sekalian, karena punggung mu sudah bengkok nggak bisa jadi tulang punggung" kalimat Galang kembali terngiang di telinga Ardi,bahkan terasa nyata yang membuat Ardi merinding disko kini, membayangkan ultimatum Galang itu sungguh sanggup membuat ngilu pusat kelakiannya.
"kamu sariawan atau sakit gigi sih di, puasa ngomong, tirakat buat cari jodoh" ucap sang nyonya lagi.
" nggak bu" jawab Ardi.
" terus apa, ayo katakan sama saya nggak usah takut, saya ini ada di pihak tuan muda mu itu"
ucapan sang nyonya berhasil merubah raut wajah Ardi yang sebelumnya gelisah menjadi lega kini, tak salah kan jika dirinya berkata jujur nantinya, dia masih tetap lelaki sejati kan kawan,
" saya nganterin mas Galang ke rumah pacarnya bu"
" pacarnya yang mana?
"yang namanya mbak Adreena bu"
" kamu ikut ke rumahnya juga?
" nggak bu, saya menunggu di mobil saja, sesuai perintah mas Galang"
"180 menit bu, a,, tiga jam bu, maaf" ucap Ardi mengingat upah yang di hitung nya per menit itu.
" ya sudah, tolong kamu jaga tuan muda mu itu ya ,saat dia sedang bersama kamu, sudah tau kan apa yang sedang di hadapinya saat ini? "tanya sang nyonya.
Ardi menganggukan kepalanya meng iyakan permintaan sang nyonya besar yang sangat di segani dan di kagumi karena sosok nya yang sederhana dan sangat bersahaja itu.
_________
_______
_____
Galang sampai di kampus lebih awal dan suasana masih belum terlalu ramai, saat akan keluar dari mobil nya ia melihat Dena berjalan ke arahnya, Galang menutup kembali pintu mobilnya, saat Dena semakin dekat, Galang langsung membuka pintu mobilnya,alhasil Dena hampir terjatuh saking terkejutnya, nampak raut wajah kesalnya akibat kelakuan Galang barusan.
" pagi cantik" sapa Galang.
Dena tak menggubrisnya ia melenggang menjauhi Galang, Galang buru- buru menutup pintu mobilnya lalu segera mengejar Dena.
" Dena! panggilnya, namun Dena tetap berlalu.
" pulang nanti saya tunggu di kafe, ada yang perlu kita bicarakan, PENTING!! kalimat Galang yang terakhir berhasil membuat Dena menghentikan langkah nya lalu menoleh.
"ini di kampus pak, kita harus menjaga sikap kita, saya belum siap jika orang mengetahui hubungan kita ini, terlebih Anita" ucap Dena masih berdiri dan menatap Galang.
__ADS_1
" makanya kamu jangan nyuekkin saya kayak tadi dong" ucap Galang.
"nggak sesuai sama umur, malu sama jakun nya pak, eh,, Dena nampak menjedah ucapannya.
" apa? " tanya Galang.
" bukannya hari ini tante Anisa dan kedua orangtuanya bakal ke rumah bapak, kok pak Galang malah ke kampus? " tanya Dena.
" kamu tau? " tanya Galang.
Dena menunjukkan layar handphone nya yang berisi chat Anisa kepada nya malam tadi.
"saya belum meng iya kan permintaan nya, jadi biarkan saja jika dia membawa orang tuanya ke rumah, mereka akan di sambut sama para asisten di rumah" jawab Galang.
saat mereka sedang berbicara itulah Anita tiba- tiba saja sudah ada di samping Dena, dia colek bahu Dena.
" eh, Anita, ngagetin deh, kamu kayak sepeda listrik aja nggak kedengeran saat di jalankan dan tiba- tiba nglakson tet tot,,, untung aku nggak jantungan nit" ucap Dena menutupi rasa gugup nya.
" hehehe, pagi pak Galang" sapanya pada sang dosen.
" iya, pagi juga, maaf saya duluan ya" Galang segera berlalu, dia melihat wajah gugup Dena, jika dirinya tak segera menghilang dari mereka berdua Dena pasti akan semakin kesal padanya.
" ehm, ehm, tenggorokan gue kok gatel ya den, berasa ada yang nyangkut gitu" ucap Anita dengan nada menggoda.
" ya di keluarin dong nit biar lega" jawab Dena tak menaruh curiga akan pernyataan sahabat nya itu.
" beneran boleh di keluarin, disini ya gue ngeluarin nya" ucap Anita lagi.
" hem" ucap Dena singkat.
" lo sama pak Galang ada something ya? "Anita menatap wajah Dena dan fokus pada pandangan matanya.
" lo belum sarapan ya, ngomongnya nglantur" ucap Dena kemudian segera berlalu meninggalkan Anita yang masih berdiri di samping nya.
setelah beberapa langkah Dena berlalu, Anita kembali memanggilnya.
" Dena!!
Dena menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh.
" gue tau, walaupun lo berusaha menutupinya dari gue"kalimat itu terhenti dan Dena mendengar langkah kaki Anita menjauh darinya. Dena segera menoleh ke belakang, namun rupanya Anita berlari hingga apapun yang akan Dena katakan tak akan terdengar oleh sahabatnya itu.
"pak Galang, aku harus bagaimana"
tanpa terasa bulir- bulir bening mengalir di pipi Dena.
dan tanpa sepengetahuan Dena, rupanya kejadian tadi di perhatikan oleh Galang.
"ingin rasanya aku berlari menyeka airmata mu itu Dena" lirih Galang kemudian ia pun berlalu menuju ruangannya.
~trimakasih semoga selalu syuka ya.. jazakumullah katsiron~
__ADS_1